Magetan, 20 September 2024 – Dalam upaya meningkatkan keterampilan deteksi dini gangguan penglihatan, sebanyak 110 kader kesehatan mengikuti pelatihan di dua puskesmas berbeda di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, sejak 17 hingga 19 September 2024. Pelatihan ini merupakan bagian dari Program I-SEE yang dikoordinasikan oleh Erna Kusuma Sari, Koordinator Wilayah Program I-SEE Kabupaten Magetan.
“Kami melatih para kader dengan teknik skrining sederhana menggunakan metode hitung jari untuk mendeteksi katarak,” ujar Erna Kusuma Sari saat ditemui di sela-sela pelatihan. “Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan deteksi dini, terutama dalam mendukung era Integrasi Layanan Primer (ILP),” tambahnya.
Pelatihan tersebut berlangsung di Puskesmas Candirejo dan Puskesmas Plaosan, masing-masing dengan kondisi yang berbeda namun tetap efektif. Di Puskesmas Candirejo, pelatihan dimulai pada 17 September dengan peserta yang sangat aktif berinteraksi dan bertanya. Kader yang telah mengikuti pelatihan di hari pertama langsung menerapkan hasilnya pada kegiatan posyandu keesokan harinya. Dari skrining yang dilakukan, ditemukan satu perempuan dengan gangguan penglihatan dari total 28 orang yang diperiksa.
“Kader sangat aktif bertanya, terutama setelah evaluasi di hari pertama. Ini membuat mereka lebih percaya diri saat melaksanakan skrining,” jelas Erna. Ia juga menambahkan bahwa suasana pelatihan di Puskesmas Plaosan lebih kondusif karena jumlah peserta yang lebih sedikit dan ruangan yang lebih nyaman. “Jumlah peserta yang lebih kecil membuat suasana lebih terkendali, sehingga materi dapat disampaikan dengan lebih efektif,” jelasnya.
Menurut Erna, pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan mata. “Kami berharap kader dapat mengimplementasikan keterampilan yang didapatkan dalam pelatihan ini di wilayah mereka. Mereka adalah ujung tombak edukasi masyarakat terkait kesehatan mata, khususnya dalam program I-SEE,” katanya.
Ke depannya, Erna berharap pelatihan serupa dapat terus diadakan untuk memperkuat kompetensi kader dalam deteksi dini gangguan penglihatan. “Kami ingin para kader lebih terampil dan mampu memberikan edukasi serta layanan skrining secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Pelatihan yang melibatkan tenaga dokter umum dan programer indera ini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga memberikan bekal pengetahuan yang lebih luas terkait kesehatan mata dan upaya pencegahan penyakit seperti katarak.