Featured

Penyamaan Perspektif, Paramitra adakan Refresh CEN (Community Eye Nurse) Batch 1 di Kabupaten Probolinggo

Community Eye Nurse ( CEN ) atau Perawat Mata Masyarakat merupakan komponen yang sangat penting dalam mewujudkan Sistem Kesehatan Mata yang Komprehensif dan Inklusif. Untuk memperkuat kapasitas CEN bath 1 yang dilatih sejak tahun 2018 maka diadakan refresh kapasitas sesuai dengan kebutuhan berdasarkan tantangan di lapangan. Kondisi tersebut mendorong paramitra mengadakan pengembangan materi refresh berdasarkan assesmen kebutuhan CEN sehingga  materi refresh benar-benar sesuai kebutuhan.

Refresh yang dimulai sejak jam 09.00 – 15.30 WIB di kota Probolinggo berjalan sangat partisipatif sehingga banyak informasi yang bisa digali dari komunikasi baik dengan narasumber yang berasal dari Dinkes, dokter spesialis mata maupun dengan dokter Mia selaku pemateri advokasi. Refresh yang sejatinya sebagai sarana untuk mencari informasi dan solusi sebagai langkah meningtkatkan pelayanan kesehatan mata bagi CEN ini disambut baik oleh ketua KOMATDA (Komisi Mata Daerah) “Banyak hal yang bisa dilakukan kawan-kawan CEN untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan mata pada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan yang notabane merupakan jangkauan dari proyek I-SEE, harus bisa lebih ditingkatkan lagi” demikian kata dokter Mia.

Jangkauan proyek I-SEE bersama ANCP (Australian Goverment NGO Corporation) di Indonesia atas dukungan DFAT (Australian Goverment Departement of Foreign Affair and Trade) di masa pandemi ini membuat tantangan tersendiri bagi para CEN untuk mendapatkan data yang sama seperti sebelumnya. Sejalan dengan hal tersebut, maka “untuk menunjang sistem pelayanan yang aksesibel maka pihak dinkes selalu memperbaharui atau mengupdate sistem Spreadsheet guna untuk mempermudah teman-teman CEN dalam memperbaharui data yang akan diisikan” ujar Bu Nia.

Kegiatan yang berjalan dengan mewadahi semua informasi terkait kondisi lapangan dari masing-masing CEN kab. Probolinggo menghasilkan beberapa hal mengenai perkembangan penajaman aspek data, membahas issue calo serta penataan advokasi Bersama. Aspek lain yang turut dibahas dalam kegiatan refresh ini adalah penguatan posisioning CEN di Puskesmas dalam program kesehatan mata termasuk didalamya mekanisme pelaporan, advokasi bail internal maupun eksternal dan seputar konten kesehatan mata : mitos, isu penglihatan alternative, kaca mata ion, glaucoma.

#paramitra
#paramitrafoundation
#yayasanparamitra
#iseetubanprobolinggo
#paramitracbm
#PartnershipsForRecovery
#AustralianAid
#ANCP

Menyatukan Langkah untuk Mata yang Lebih Sehat di Magetan, Pertemuan Tim Kecil Kelembagaan Kebijakan

Perwakilan Tim I-SEE bersama dengan perwakilan OPD Kabupaten Magetan Membahas Rencana Pentingnya Tim Koordinasi Upaya Penanggulangan Gangguan Penglihatan (PGP)

Magetan, 6 Februari 2026 — Upaya memperkuat layanan kesehatan mata inklusif di Kabupaten Magetan terus bergerak. Hal ini tercermin dalam pertemuan tim kecil kelembagaan kebijakan kesehatan mata yang mempertemukan sejumlah pemangku kebijakan lintas sektor untuk menyepakati langkah bersama.

Kegiatan ini dilakukan di Kantor Bapperida pada 6 Februari 2026 dengan menghadirkan Bapak Elmy Kurnianto Widodo selaku Kepala Bapperida Kabupaten Magetan, Bapak Praminto Budi Utomo selaku Kepala Dinas Sosial Kabupaten Magetan, Bapak Dian Maheru Robi Widiatmoko selaku Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Magetan, serta tim dari Program I-SEE Yayasan Para Mitra Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, team I-SEE menyampaiakan temuan dan data berbasis lapangan. Hal ini sangat memperkuat bukti sebagai advokasi pada OPD. Berangkat dari data ini, pihak Bapperida sangat menyetujui pentingya gerakan bersama lintas sektor di Kabupaten Magetan. Kemudian dilakukan diskusi dan disepakati rencana pembentukan Tim Kerja Kesehatan Mata Inklusi Kabupaten Magetan yang akan dikukuhkan melalui SK Bupati, dengan Bapperida sebagai koordinator. Setiap OPD nantinya akan mengambil peran sesuai fungsi masing-masing untuk mendukung upaya peningkatan kesehatan mata masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, Kepala Dinas Sosial akan mengoordinasikan hasil pertemuan dengan Dinas Kesehatan, DPMD, dan OPD terkait lainnya, sementara Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat akan menyiapkan draft SK sebagai dasar penguatan kelembagaan tim kerja.

Dalam diskusi juga dibahas peran sekolah dan UKS sebagai garda terdepan deteksi dini gangguan penglihatan. Penguatan Tim UKS di berbagai tingkatan diharapkan mampu mendorong temuan kasus gangguan penglihatan hingga adanya tindak lanjut yang berkelanjutan. Selain itu, disampaikan pula bahwa kacamata dalam ranah Dinas Sosial dipandang sebagai alat bantu, sejajar dengan alat bantu lainnya yang mendukung aktivitas dan kemandirian penyandang disabilitas.

Pertemuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun sinergi kebijakan kesehatan mata di Kabupaten Magetan. Dengan kerja bersama dan arah yang jelas, Magetan terus bergerak menuju layanan kesehatan mata yang lebih inklusif dan menjangkau semua lapisan masyarakat.

Memperkuat Peran Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama dalam Menyukseskan Program Kesehatan Mata di Sekolah

Tim I-SEE Melakukan Diskusi Membahas tentang Kesehatan Mata Bersama dengan Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun

Madiun, 30 Januari 2026 — Pemerintah Kabupaten Madiun bersama stakeholder pendidikan dan kesehatan menggelar pertemuan dalam rangka penguatan kesehatan mata di sekolah melalui Program I-SEE. Kegiatan ini berlangsung di Waroeng Ayom, Kota Madiun, dan menjadi ruang koordinasi lintas sektor untuk menyamakan arah dan tindak lanjut program.

Dalam pertemuan tersebut diawali dengan penyampaian progres pelaksanaan Program I-SEE di Kabupaten Madiun, termasuk rencana pelatihan guru tahap kedua yang menargetkan 97 sekolah dengan fokus pada jenjang SD dan MI pada tahun 2026. Guru didorong untuk aktif melakukan skrining mandiri, pelaporan berjenjang, serta pemantauan siswa yang telah mendapatkan kacamata atau alat bantu penglihatan.

Diskusi juga menyoroti perlunya penguatan peran UKS, kemandirian skrining mata di sekolah, serta sistem pencatatan dan pelaporan yang lebih terintegrasi antara sekolah, Puskesmas, dan Dinas terkait. Program I-SEE ditegaskan sebagai upaya untuk memperkuat sistem yang telah berjalan, bukan membangun sistem baru.

Sebagai hasil pertemuan, disepakati penetapan sekolah dan madrasah prioritas UKS dan kesehatan mata, pembentukan sistem monitoring digital bagi sekolah yang telah dilatih, serta penunjukan vocal point kesehatan mata dan UKS di masing-masing instansi terkait. Pertemuan lanjutan dengan kepala sekolah direncanakan pada awal Februari sebagai bagian dari tindak lanjut koordinasi.

Kolaborasi Kecamatan Plaosan Dorong Deteksi Dini Gangguan Penglihatan Anak

Camat Plaosan bersama Kepala Puskesmas Plaosan dan Sumberagung, serta K3S Kecamatan Plaosan (Dokumentasi : Dwi, Tim I-SEE Kabupaten Magetan)

Magetan, 15 Desember 2025 – Upaya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mata anak terus menunjukkan hasil positif. Camat Plaosan menginisiasi pertemuan lintas sektor dengan menghadirkan Kepala Puskesmas Plaosan dan Sumberagung, serta anggota Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Plaosan di Kantor Kecamatan Plaosan pada 15 Desember 2025.

Kegiatan ini menjadi salah satu hal baik keberlangsungan kesehatan mata di masyarakat, yang mendorong kolaborasi antara sektor pendidikan dan kesehatan dalam deteksi dini gangguan penglihatan pada anak. Pertemuan ini menegaskan bahwa isu kesehatan mata anak tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif guru, tenaga kesehatan, sekolah, hingga pemerintah kecamatan dan desa.

Dalam diskusi tersebut, dr. Erwin selaku Kepala Puskesmas Sumberagung menekankan pentingnya penyandingan data anak dengan gangguan penglihatan antara data Puskesmas (CKG) dan data hasil pengamatan guru di sekolah. Menurutnya, guru memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan anak setiap hari.

“Guru tetap perlu didorong untuk melakukan skrining sederhana di sekolah, karena ada kebiasaan anak yang bisa terdeteksi oleh guru, tetapi belum tentu terlihat saat pemeriksaan di Puskesmas,” jelas dr. Erwin.

Puskesmas Sumberagung juga menyatakan kesiapan untuk berbagi data serta menyusun penjadwalan rujukan bagi siswa yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan, sebagai bagian dari penguatan sistem rujukan berbasis sekolah.

Camat Plaosan, Dian Maheru Robbi, menegaskan bahwa deteksi gangguan penglihatan anak perlu dilakukan melalui dua jalur utama, yaitu jalur pendidikan dan jalur kesehatan. Guru dan sekolah berperan dalam mendeteksi dini dan mengamati perubahan perilaku belajar siswa, sementara tenaga kesehatan memastikan diagnosis dan tindak lanjut rujukan.

Lebih lanjut, Camat Plaosan menyampaikan komitmen pemerintah kecamatan untuk memastikan anak-anak yang membutuhkan bantuan dapat mengakses layanan kesehatan mata, termasuk kacamata dan pengobatan. Selain dukungan dari Program I-SEE, kecamatan akan mendorong pemanfaatan dana desa serta kerja sama CSR untuk pembelian kacamata maupun penambahan biaya yang belum tercover BPJS.

“Perhatian khusus juga akan diberikan kepada anak-anak dan keluarga yang masuk dalam kelompok desil 1–5, agar tidak terhambat oleh kendala ekonomi dalam mendapatkan layanan kesehatan mata,” ujar Dian Maheru selaku Camat Plaosan.

Dalam mekanisme yang disepakati, data anak dengan gangguan penglihatan yang teridentifikasi di Puskesmas akan dilaporkan ke Kecamatan Plaosan. Selanjutnya, kecamatan akan bersurat kepala sekolah untuk memastikan informasi tersebut diteruskan kepada orang tua siswa. Kepala sekolah memiliki peran penting untuk memastikan orang tua memahami kondisi anak dan tindak lanjut yang perlu dilakukan.

Sebagai bentuk dukungan teknis, Kecamatan Plaosan juga menyatakan kesiapan memfasilitasi mobil siaga untuk kebutuhan rujukan siswa, baik ke fasilitas kesehatan di tingkat kabupaten, luar kota, maupun ke optik.

Kegiatan ini menjadi contoh inspiratif bagaimana Program I-SEE tidak hanya berdampak pada layanan kesehatan mata, tetapi juga menumbuhkan awareness dan kepedulian lintas sektor terhadap pentingnya penglihatan anak. Kolaborasi antara kecamatan, Puskesmas, sekolah, dan desa menunjukkan bahwa sistem yang inklusif dan terintegrasi mampu menjangkau anak-anak secara lebih komprehensif.

Melalui sinergi ini, diharapkan semakin banyak anak dengan gangguan penglihatan yang terdeteksi lebih dini, mendapatkan rujukan tepat waktu, serta memperoleh alat bantu penglihatan yang mendukung proses belajar dan kualitas hidup mereka.

Dukung Sistem Pendidikan Inklusif, Program I-SEE Gelar Pendampingan Low Vision untuk Guru

Kegiatan tanya jawab peserta pelatihan low vision
 (Dokumentasi: Fatma, Tim I-SEE Kabupaten Madiun)

Ngawi, 15 Desember 2025− Pelatihan Guru Low Vision kembali dilaksanakan pada 15 Desember 2025 sebagai bentuk penguatan kapasitas guru dalam mendampingi siswa dengan gangguan penglihatan.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan serupa yang telah dilakukan pada Desember 2024, sekaligus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan layanan pendidikan yang inklusif. Pelatihan berlangsung di Notosuman Hall, Resto & Catering, Kabupaten Ngawi, dan diikuti oleh guru-guru dari Kabupaten Madiun, Ngawi, dan Magetan.

Materi pelatihan disampaikan oleh Bu Dewi Anggraini, tenaga ahli di bidang low vision. Narasumber yang biasa dipanggil dengan nama Bu Anggie ini mengajak peserta untuk memahami konsep dasar low vision, mulai dari pengertian, jenis masalah penglihatan, hingga pendekatan penanganan di lingkungan sekolah.

“Setiap anak dengan low vision memiliki kondisi yang berbeda, mulai dari penglihatan kabur, kehilangan penglihatan tengah atau tepi, hingga adanya bercak pada penglihatan. Bapak dan ibu guru bisa melakukan pengamatan pada siswa-siswi di kelas…” ujar Bu Anggie saat penyampaian materi tentang konsep dasar low vision.

Peserta juga dibekali pemahaman tentang pengamatan awal di kelas, seperti memperhatikan kondisi bola mata, perilaku melihat dan membaca siswa, hingga riwayat kondisi medis atau disabilitas yang menyertai.

Peserta melakukan simulasi kondisi low vision dengan ditutup matanya dengan sisa penglihatan yang terbatas. Terlihat peserta membutuhkan bantuan saat berjalan.

Pelatihan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi. Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 2–3 orang untuk merasakan langsung tantangan yang dialami siswa low vision. Dalam simulasi ini, satu peserta berperan sebagai siswa low vision dan satu peserta lainnya sebagai pengamat, dengan menggunakan buku dan kacamata simulasi low vision selama lima menit. Kegiatan ini membantu guru memahami aktivitas mana yang terasa mudah dan mana yang sulit bagi siswa dengan gangguan penglihatan.

Untuk memperkuat pemahaman, pelatihan dilengkapi dengan permainan interaktif “mitos atau fakta” serta diskusi bersama mengenai solusi atas berbagai kendala yang sering dialami siswa dengan gangguan penglihatan.

Kegiatan pelatihan ditutup dengan pengisian post-test dan diskusi rencana tindak lanjut yang akan didampingi oleh fasilitator di masing-masing kabupaten. Melalui pelatihan ini, diharapkan guru semakin siap menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah bagi siswa dengan low vision.

Program I-SEE Perkuat Sinergi Pendidikan dan Kesehatan untuk Deteksi Dini Gangguan Penglihatan Siswa

Foto Bersama dengan Stakeholder
(Dokumentasi : Tim I-SEE Kabupaten Madiun)

Program I-SEE menyelenggarakan pertemuan stakeholder pendidikan pada 10, 11, dan 12 Desember 2025 di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi lintas sektor untuk memperkuat implementasi program kesehatan mata di sekolah melalui pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.

Pertemuan ini melibatkan berbagai stakeholder, antara lain Dinas Kesehatan sebagai leading sector, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kabid SD dan SMP), Kementerian Agama (Kasi Pendidikan Madrasah dan Kasi Pondok Pesantren), Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Madiun (Kasi SMA, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus), serta jajaran Puskesmas yang terdiri dari kepala Puskesmas, dokter umum, dan penanggung jawab UKS.

Berdasarkan data Program I-SEE dari hasil skrining yang dilakukan oleh sekolah melalui guru terlatih dan diperkuat dengan rujukan ke Puskesmas di tiga kabupaten, tercatat sebanyak 15.513 siswa telah menjalani skrining penglihatan. Dari jumlah tersebut, sekitar 5 persen siswa teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan, dengan total 771 siswa dirujuk ke Puskesmas. Data ini menunjukkan bahwa potensi temuan kasus dapat semakin meningkat apabila skrining di sekolah dilakukan secara lebih optimal dan merata.

Melalui pertemuan ini, Program I-SEE memaparkan implementasi program kesehatan mata di sekolah selama periode 2024–2025 sekaligus membuka ruang diskusi untuk merumuskan strategi penguatan pelaksanaan program ke depan. Sekolah dipandang memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pencegahan gangguan penglihatan pada siswa, terutama melalui deteksi dini yang dilakukan oleh guru.

Ibu Asiah Sugianti dalam paparannya di pertemuan stakeholder pendidikan Kabupaten Ngawi (12/22/2025) lalu
(Dokumentasi : Tim I-SEE Kabupaten Ngawi)

Dalam paparannya, Ibu Asiah Sugianti dari Yayasan Para Mitra Indonesia menyampaikan berbagai praktik baik yang telah berjalan serta tantangan dalam pelaksanaan pencegahan gangguan penglihatan (PGP) di sekolah. Beberapa dampak positif yang telah dirasakan antara lain Puskesmas terbantu dalam penemuan kasus gangguan penglihatan melalui deteksi dini oleh guru, guru dapat lebih cepat mengetahui kondisi penglihatan siswa, meningkatnya pengetahuan guru dan siswa tentang kesehatan mata, serta sekolah menjadi lebih mandiri dalam melakukan skrining tanpa harus menunggu pemeriksaan dari Puskesmas.

Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti keterbatasan jumlah sumber daya manusia di Puskesmas, rasio guru dan siswa yang tidak seimbang, serta banyaknya guru yang belum terlatih akibat mutasi dan rotasi tanpa adanya mekanisme serah terima program. Tantangan ini menegaskan pentingnya penguatan sistem dan kerja sama lintas sektor agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.

Salah satu hasil penting dari pertemuan stakeholder ini adalah adanya kesepakatan untuk mendorong perjanjian kerja sama antara Yayasan Para Mitra Indonesia dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Rekomendasi ini menekankan perlunya pengaturan pelaksanaan kegiatan kesehatan mata di sekolah melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS), sehingga Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama dapat meneruskan imbauan resmi kepada kepala sekolah. Dengan demikian, kepala sekolah dan guru memiliki pemahaman yang sama serta terdorong untuk aktif melakukan deteksi dini gangguan penglihatan pada siswa.

Melalui sinergi antara sektor kesehatan, pendidikan, dan keagamaan, Program I-SEE diharapkan mampu berkontribusi pada upaya penurunan angka gangguan penglihatan pada siswa. Kolaborasi ini juga menegaskan bahwa kesehatan mata anak merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya sektor kesehatan, demi mendukung kualitas belajar dan masa depan anak Indonesia.

Kuatkan Peran Media dalam Kesehatan Mata Inklusif, Program I-SEE Gelar Pelatihan Bagi Jurnalis

Andi Robandi (narasumber) memberikan paparan dalam kegiatan pelatihan jurnalis
(Dokumentasi : Ulil, Tim I-SEE Kabupaten Magetan)

Madiun, 10 Desember 2025− Dalam rangka mendukung penguatan kesehatan mata yang inklusif, Yayasan Para Mitra Indonesia melalui Program I-SEE kembali menggelar pelatihan untuk jurnalis. Kegiatan ini dilakukan di Omah Cabe, Kota Madiun, pada 9 Desember 2025.

Pelatihan ini diikuti oleh jurnalis dari tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi. Setiap kabupaten mengirimkan 10 perwakilan media dari surat kabar maupun online.  Melalui pelatihan ini, jurnalis diajak untuk melakukan penyegaran pemahaman mengenai isu disabilitas serta pentingnya kesehatan mata bagi masyarakat.

Selain itu, peserta berdiskusi secara terbuka mengenai berbagai tantangan dan praktik baik dalam pemenuhan hak masyarakat atas layanan kesehatan mata dan inklusi disabilitas, ditinjau dari sudut pandang kerja jurnalistik. Pelatihan ini juga bertujuan memperkuat jejaring antara Program I-SEE dan media dalam mendorong peningkatan kesadaran publik, baik kepada masyarakat maupun pemerintah, terkait pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, termasuk hak atas pelayanan kesehatan mata yang inklusif.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah tersusunnya catatan dan perspektif jurnalis mengenai tantangan serta praktik baik pemenuhan hak masyarakat dalam isu kesehatan mata dan disabilitas. Lebih jauh, pelatihan ini diharapkan mampu membangun gerakan bersama antara jurnalis dan Program I-SEE dalam meningkatkan kesadaran publik, sehingga berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Salah satu narasumber dalam pelatihan ini adalah Andi Robandi dari SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel) Indonesia. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya peran media dalam memastikan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan mengembangkan potensinya.

Hal ini sejalan dengan berbagai regulasi yang menjadi landasan kerja jurnalistik dan pemenuhan hak disabilitas, antara lain Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), Kode Etik Jurnalistik, serta Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

Melalui pelatihan jurnalis yang berkelanjutan ini, Program I-SEE berharap media dapat menjadi mitra strategis dalam menyuarakan isu kesehatan mata dan disabilitas secara lebih inklusif, berimbang, dan berperspektif hak, sehingga mendorong terwujudnya sistem layanan kesehatan mata yang inklusif bagi semua. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang refleksi dan pembaruan pengetahuan bagi jurnalis yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan serupa pada 18 Desember 2024.

📢 Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Feature Program I-SEE Tahun 2025📢

Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh jurnalis peserta lomba yang telah berpartisipasi dan mengirimkan karya terbaiknya. Sesuai dengan tema lomba tahun ini “Kesehatan Mata untuk Semua: Cerita Inklusif dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi”, para peserta lomba telah membantu menyuarakan isu-isu kesehatan mata inklusif berdasarkan kondisi dan realita di masing-masing wilayah. Partisipasi teman-teman bukan hanya menunjukkan kepedulian terhadap isu kesehatan mata inklusif, tetapi juga memperkuat suara masyarakat agar layanan kesehatan dapat diakses oleh semua.

Lomba ini telah melalui proses penjurian yang ketat, sekaligus melibatkan tiga dewan juri, yaitu: Bapak Eko Widianto (Jurnalis Senior Tempo), Bapak Joni Yuliyanto (Direktur Eksekutif SIGAB Indonesia), dan Ibu Asiah Sugianti (Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia).

Penjurian dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek penilaian, yaitu: (1) Kedalaman konten dan akurasi data, (2) Kesesuaian dengan tema utama dan sub-tema, (3) Kekuatan narasi dan storytelling, (4) Pemanfaatan narasumber serta kutipan, dan (5) Teknik penulisan dan etika media.

Seluruh proses penilaian dilakukan secara objektif, independen, dan tanpa keberpihakan terhadap peserta maupun media manapun. Keputusan dewan juri bersifat final.

Dengan bangga, kami umumkan pemenang lomba di tiap kabupaten sebagai berikut:

Kabupaten Madiun

🏆 Juara 1:
Abdul Jalil (Solopos)
Judul : Layanan Kesehatan Mata Inklusif di Pucanganom, Langkah Kecil Berdampak Besar

🥈 Juara 2:
Mahmudi Rimbawan (Garda Jatim)
Judul : Melihat Lebih Dekat: Jejak I-SEE di Tanah Madiun

Kabupaten Magetan

🏆 Juara 1:
Sukoco (Rasi Magetan)
Judul : Cerita Kader Kesehatan Kecamatan Bendo Gugah Kepedulian Masyarakat Terhadap Kesehatan Mata

🥈 Juara 2:
Agus Suyanto (Lawu TV)
Judul : Asiah Sugianti Sang Punggawa Yayasan Paramitra: Berikan yang Terbaik Buat Masyarakat

Kabupaten Ngawi

🏆 Juara 1:
Dony Febri (Diskominfo Kabupaten Ngawi)
Judul : Mata untuk Semua : Cerita Inklusif dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi Praktik Baik dan Inovasi Layanan Kesehatan Mata Inklusif

🥈 Juara 2:
Kundari Pri Susanti
Judul : Melihat Dunia dengan Setara, Menelisik Praktik Baik Layanan Kesehatan Mata Inklusif di Kabupaten Ngawi

Selamat kepada para pemenang! Informasi lebih lanjut mengenai hadiah dan mekanisme penyerahan akan disampaikan secara langsung oleh panitia melalui kontak yang terdaftar.

Sekali lagi, terima kasih kepada seluruh peserta. Semoga semangat advokasi melalui jurnalisme tetap hidup dan menjadi bagian dari gerakan untuk mewujudkan layanan kesehatan mata yang inklusif bagi semua.

Salam hormat,
Tim Program I-SEE – Yayasan Para Mitra Indonesia

Lomba Menulis Features untuk Jurnalis

Dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia Tahun 2025, Program I-SEE Yayasan Para Mitra Indonesia mengajak teman-teman jurnalis Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi untuk bergabung bersama kami dalam ‘Lomba Menulis Features’. Tema penulisan features adalah ‘Mata untuk Semua: Cerita Inklusif dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi.

📚 Sub-Tema Pilihan:
1️⃣  Akses layanan kesehatan mata bagi kelompok rentan (anak, lansia, disabilitas)
2️⃣  Peran kader, sekolah, dan komunitas dalam mendukung kesehatan mata
3️⃣  Pentingnya kebijakan sebagai payung hukum untuk meningkatkan akses ke layanan kesehatan mata yang komprehensif dan inklusif
4️⃣  Praktik baik dan inovasi layanan kesehatan mata inklusif

📝 Syarat Peserta:

  • Peserta adalah jurnalis aktif dari media cetak, online, radio, atau televisi yang berdomisili/bertugas di Kabupaten Madiun, Magetan, atau Ngawi
  • Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 karya tulis features
  • Karya harus asli (bukan terjemahan maupun plagiat) dan belum pernah dipublikasikan di media manapun
  • Panjang tulisan 1.000 – 1.500 kata
  • Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan komunikatif

Ketentuan Penulisan

  • Karya ditulis dalam bentuk features yang inspiratif dan disertai foto-foto pendukung
  • Karya diketik dalam format Word (doc, docx) menggunakan font Verdana ukuran 11 dan spasi 1,15
  • Sertakan minimal satu kutipan narasumber, dapat berasal dari tenaga kesehatan, penerima manfaat, kader kesehatan, atau pihak lain yang terkait lainnya
  • Tulisan harus sesuai dengan tema atau salah satu sub-tema yang telah ditetapkan oleh panitia
  • Pengambilan dan penggunaan foto wajib dilakukan dengan persetujuan (consent) dari pihak yang difoto sebagai bentuk penghormatan terhadap narasumber
  • Karya features ini dapat dimuat melalui media atau platform peserta jurnalis serta akan dipublikasikan melalui laman resmi dari Yayasan Para Mitra Indonesia
  • Saat karya dikirim, peserta harus melampirkan biodata singkat yang mencakup nama lengkap (bukan nama panggilan), nama media, kontak aktif (Whatsapp/Telepon), domisili, dan tautan tulisan yang telah dimuat di media/platform peserta jurnalis
  • Setiap kabupaten akan dipilih 2 jurnalis dengan karya penulisan features terbaik yang ditentukan oleh penilaian dewan juri

🕒 Timeline Kegiatan:
📬 Pengiriman Naskah: 15 Oktober – 4 November 2025
🧾 Penilaian Juri: 5 – 10 November 2025
🏆 Pengumuman Pemenang: 12 November 2025

📌 Tautan Pendaftaran : https://forms.gle/EV7Wbb296rirm2Zz5

📩 Kirimkan karyamu dan jadilah bagian dari support system untuk menguatkan layanan kesehatan mata yang komprehensif dan inklusif. Ayo, bersama-sama berkontribusi pada layanan kesehatan mata di Indonesia. Setiap kata yang teman-teman tulis membantu menebarkan kisah, pengalaman, dan semangat untuk kita semua.

Tim I-SEE Ngawi Gelar Pertemuan Tim Kecil Sebagai Tindak Lanjut dari Rekomendasi Diskusi Publik Terkait Pentingnya  Kebijakan Kesehatan Mata di Tingkat Kabupaten

Suasana di Gedung Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi dalam rangka Pertemuan Tim Kecil
untuk Mengawali Tahapan Kebijakan

Ngawi, 10 September 2025 – Tim I-SEE Kabupaten Ngawi menyelenggarakan pertemuan tim kecil sebagai timdak lanjut dari rekomendasi diskusi publik untuk mendorong adanya kebijakan kesehatan mata di tingkat kabupaten. Pertemuan ini dilaksanakan secara hybrid, menggabungkan luring dan daring, dengan melibatkan lintas sektor pada 9 September 2025.

Secara luring, kegiatan dihadiri oleh perwakilan dari Asisten 3 Bupati Ngawi, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Bappeda, Bagian Hukum Setda Ngawi, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Diskominfo, Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI).

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi publik yang digelar pada Juni 2025, yang merekomendasikan dua hal penting: pertama, perlunya kebijakan yang mengatur tentang upaya penanganan gangguan penglihatan sebagai payung hukum untuk menjamin keberlanjutan program; kedua, perlunya wadah kolaborasi stakeholder pemerintah maupun non pemerintah agar peran masing-masing dapat diatur sesuai kapasitasnya.

“Aspek keberlanjutan menjadi penting. Pertemuan hari ini adalah langkah untuk menindaklanjuti hasil diskusi publik sebelumnya, sekaligus menginisiasi adanya wadah bagi peningkatan layanan kesehatan mata di Kabupaten Ngawi,” ujar Asiah dalam sambutannya.

Sementara itu, Asisten 3 Bupati Ngawi, Harsoyo, menegaskan pentingnya sinergi antar-OPD. “Harapan kami adalah ada perwakilan tiap OPD bisa berada dalam satu kesatuan, bukan berjalan sendiri-sendiri. Program kesehatan mata bisa diikuti bersama agar saling mengetahui progresnya. Pentingnya tim kecil ini adalah memastikan koordinasi berjalan baik dan tidak berbenturan dengan aparat penegak hukum,” tegasnya.

Salah satu agenda penting dalam pertemuan ini adalah menginisiasi Peraturan Bupati (Perbup) sebagai payung hukum untuk memperkuat pelaksanaan Program I-SEE di Kabupaten Ngawi. Dengan adanya regulasi tersebut, diharapkan progres program lebih terukur dan hasilnya jelas.

Sesi Pemaparan Materi secara daring
oleh dr. Mia yang dipaparkan melalui Google Meet

Melalui platform daring, peserta juga mendapatkan kesempatan berbagi pengalaman dengan DR. dr. Mirrah Samiyah, M.Kes, Ketua Komatda Kabupaten Probolinggo. Beliau yang akrab disapa dengan dr. Mia ini menjelaskan mengenai pembentukan Komite Mata Daerah (Komatda), mulai dari struktur keanggotaan, tujuan, hingga praktik baik yang telah berjalan. Sejak berdiri bersamaan dengan hadirnya Program I-SEE, Komatda Probolinggo berperan aktif meningkatkan akses kesehatan mata melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, dukungan RS, dan penguatan kader kesehatan.

Menurut dr. Mia, keberadaan kader menjadi faktor kunci. “Melalui pendekatan kader, kesadaran masyarakat meningkat signifikan. Meskipun pengurus bekerja secara sukarela, komitmen bersama ini mampu memperluas akses layanan kesehatan mata,” jelasnya. Beliau juga menekankan pentingnya inisiasi Perbup terkait gangguan penglihatan, karena regulasi tersebut mengatur kelembagaan mulai dari tingkat kabupaten hingga desa melalui pemberdayaan Desa Sehat Mata Inklusi.

Pertemuan tim kecil ini menandai langkah awal menuju penguatan kebijakan inklusif di Kabupaten Ngawi, dengan harapan dapat mencontoh praktik baik dari daerah lain sekaligus memastikan keberlanjutan layanan kesehatan mata bagi masyarakat.

Tim I-SEE Hadiri Temu Inklusi 2025 di Cirebon

Momen peserta dalam Lokakarya Desa Inklusi yang dilaksanakan pada 3 September 2025 lalu

Batu, 10 September 2025– Perwakilan Tim I-SEE dari Yayasan Para Mitra Indonesia berkesempatan menghadiri kegiatan Temu Inklusi 2025 yang digelar pada 2–4 September 2025 di Cirebon, Jawa Barat. Temu Inklusi merupakan ajang dua tahunan yang diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Disabilitas Indonesia (SIGAB) untuk mempertemukan organisasi masyarakat sipil, gerakan disabilitas, mitra pembangunan, serta pemerintah dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, tiga orang perwakilan Tim I-SEE dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi bersama tiga orang perwakilan organisasi disabilitas turut hadir. Keterlibatan tersebut menjadi ruang penting untuk belajar sekaligus memperbarui pengetahuan terkait perkembangan gerakan disabilitas di tingkat nasional.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran. Seminar plenary pertama membahas upaya dan kemajuan dalam mendorong inklusi disabilitas, termasuk tantangan serta praktik baik yang telah dilakukan di berbagai daerah. Sementara itu, plenary kedua yang juga menjadi rangkaian penutup mengangkat tema “Looking Forward”, yaitu strategi, kolaborasi, dan sinergi untuk melanjutkan cita-cita mewujudkan inklusi disabilitas yang lebih luas.

Temu Inklusi 2025 diikuti oleh 590 peserta dari 24 provinsi, melibatkan perwakilan desa, dinas sosial, dan organisasi disabilitas. Salah satu peserta, Sulistiawan, misalnya, menceritakan kesan berharganya terhadap materi pembentukan Desa Sehat Inklusi pada salah satu desa di Situbondo, Jawa Timur. Meski desa tersebut telah diadvokasi sejak 2018 bersama dengan SIGAB, hasilnya pada tahun 2024 desa tersebut telah berhasil mengalokasikan anggarannya untuk pembangunan infrastruktur ramah disabilitas, seperti toilet inklusif di balai desa dan aksesibilitas bidang miring. Ke depan, desa tersebut berencana memfokuskan program pada pemberdayaan kelompok disabilitas, khususnya di bidang peternakan.

“Belajar dari pengalaman desa inklusi membuat kami semakin termotivasi. Kami bisa melihat bagaimana inklusi tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kebijakan dan anggaran,” ungkap Sulistiawan.

Selain itu, Nasrullah, Tim I-SEE dari Ngawi juga menambahkan bahwa Temu Inklusi ini dapat menjadi bukti atas keberhasilan lintas sektor. “Jujur, saya terkesan saat materi yang dibawakan oleh Bappenas, karena dengan adanya kehadiran perwakilan lembaga pemerintahan menjadi bukti negara setidaknya telah menaruh perhatian pada isu disabilitas,” tambah Nasrul.

Dengan adanya forum ini, Tim I-SEE merasa semakin terdorong untuk memperkuat jaringan, berbagi praktik baik, dan mendukung lahirnya kebijakan yang lebih inklusif di berbagai daerah, sehingga hak-hak penyandang disabilitas dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.