Featured

Penyamaan Perspektif, Paramitra adakan Refresh CEN (Community Eye Nurse) Batch 1 di Kabupaten Probolinggo

Community Eye Nurse ( CEN ) atau Perawat Mata Masyarakat merupakan komponen yang sangat penting dalam mewujudkan Sistem Kesehatan Mata yang Komprehensif dan Inklusif. Untuk memperkuat kapasitas CEN bath 1 yang dilatih sejak tahun 2018 maka diadakan refresh kapasitas sesuai dengan kebutuhan berdasarkan tantangan di lapangan. Kondisi tersebut mendorong paramitra mengadakan pengembangan materi refresh berdasarkan assesmen kebutuhan CEN sehingga  materi refresh benar-benar sesuai kebutuhan.

Refresh yang dimulai sejak jam 09.00 – 15.30 WIB di kota Probolinggo berjalan sangat partisipatif sehingga banyak informasi yang bisa digali dari komunikasi baik dengan narasumber yang berasal dari Dinkes, dokter spesialis mata maupun dengan dokter Mia selaku pemateri advokasi. Refresh yang sejatinya sebagai sarana untuk mencari informasi dan solusi sebagai langkah meningtkatkan pelayanan kesehatan mata bagi CEN ini disambut baik oleh ketua KOMATDA (Komisi Mata Daerah) “Banyak hal yang bisa dilakukan kawan-kawan CEN untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan mata pada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan yang notabane merupakan jangkauan dari proyek I-SEE, harus bisa lebih ditingkatkan lagi” demikian kata dokter Mia.

Jangkauan proyek I-SEE bersama ANCP (Australian Goverment NGO Corporation) di Indonesia atas dukungan DFAT (Australian Goverment Departement of Foreign Affair and Trade) di masa pandemi ini membuat tantangan tersendiri bagi para CEN untuk mendapatkan data yang sama seperti sebelumnya. Sejalan dengan hal tersebut, maka “untuk menunjang sistem pelayanan yang aksesibel maka pihak dinkes selalu memperbaharui atau mengupdate sistem Spreadsheet guna untuk mempermudah teman-teman CEN dalam memperbaharui data yang akan diisikan” ujar Bu Nia.

Kegiatan yang berjalan dengan mewadahi semua informasi terkait kondisi lapangan dari masing-masing CEN kab. Probolinggo menghasilkan beberapa hal mengenai perkembangan penajaman aspek data, membahas issue calo serta penataan advokasi Bersama. Aspek lain yang turut dibahas dalam kegiatan refresh ini adalah penguatan posisioning CEN di Puskesmas dalam program kesehatan mata termasuk didalamya mekanisme pelaporan, advokasi bail internal maupun eksternal dan seputar konten kesehatan mata : mitos, isu penglihatan alternative, kaca mata ion, glaucoma.

#paramitra
#paramitrafoundation
#yayasanparamitra
#iseetubanprobolinggo
#paramitracbm
#PartnershipsForRecovery
#AustralianAid
#ANCP

📢 Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Feature Program I-SEE Tahun 2025📢

Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh jurnalis peserta lomba yang telah berpartisipasi dan mengirimkan karya terbaiknya. Sesuai dengan tema lomba tahun ini “Kesehatan Mata untuk Semua: Cerita Inklusif dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi”, para peserta lomba telah membantu menyuarakan isu-isu kesehatan mata inklusif berdasarkan kondisi dan realita di masing-masing wilayah. Partisipasi teman-teman bukan hanya menunjukkan kepedulian terhadap isu kesehatan mata inklusif, tetapi juga memperkuat suara masyarakat agar layanan kesehatan dapat diakses oleh semua.

Lomba ini telah melalui proses penjurian yang ketat, sekaligus melibatkan tiga dewan juri, yaitu: Bapak Eko Widianto (Jurnalis Senior Tempo), Bapak Joni Yuliyanto (Direktur Eksekutif SIGAB Indonesia), dan Ibu Asiah Sugianti (Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia).

Penjurian dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek penilaian, yaitu: (1) Kedalaman konten dan akurasi data, (2) Kesesuaian dengan tema utama dan sub-tema, (3) Kekuatan narasi dan storytelling, (4) Pemanfaatan narasumber serta kutipan, dan (5) Teknik penulisan dan etika media.

Seluruh proses penilaian dilakukan secara objektif, independen, dan tanpa keberpihakan terhadap peserta maupun media manapun. Keputusan dewan juri bersifat final.

Dengan bangga, kami umumkan pemenang lomba di tiap kabupaten sebagai berikut:

Kabupaten Madiun

🏆 Juara 1:
Abdul Jalil (Solopos)
Judul : Layanan Kesehatan Mata Inklusif di Pucanganom, Langkah Kecil Berdampak Besar

🥈 Juara 2:
Mahmudi Rimbawan (Garda Jatim)
Judul : Melihat Lebih Dekat: Jejak I-SEE di Tanah Madiun

Kabupaten Magetan

🏆 Juara 1:
Sukoco (Rasi Magetan)
Judul : Cerita Kader Kesehatan Kecamatan Bendo Gugah Kepedulian Masyarakat Terhadap Kesehatan Mata

🥈 Juara 2:
Agus Suyanto (Lawu TV)
Judul : Asiah Sugianti Sang Punggawa Yayasan Paramitra: Berikan yang Terbaik Buat Masyarakat

Kabupaten Ngawi

🏆 Juara 1:
Dony Febri (Diskominfo Kabupaten Ngawi)
Judul : Mata untuk Semua : Cerita Inklusif dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi Praktik Baik dan Inovasi Layanan Kesehatan Mata Inklusif

🥈 Juara 2:
Kundari Pri Susanti
Judul : Melihat Dunia dengan Setara, Menelisik Praktik Baik Layanan Kesehatan Mata Inklusif di Kabupaten Ngawi

Selamat kepada para pemenang! Informasi lebih lanjut mengenai hadiah dan mekanisme penyerahan akan disampaikan secara langsung oleh panitia melalui kontak yang terdaftar.

Sekali lagi, terima kasih kepada seluruh peserta. Semoga semangat advokasi melalui jurnalisme tetap hidup dan menjadi bagian dari gerakan untuk mewujudkan layanan kesehatan mata yang inklusif bagi semua.

Salam hormat,
Tim Program I-SEE – Yayasan Para Mitra Indonesia

Lomba Menulis Features untuk Jurnalis

Dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia Tahun 2025, Program I-SEE Yayasan Para Mitra Indonesia mengajak teman-teman jurnalis Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi untuk bergabung bersama kami dalam ‘Lomba Menulis Features’. Tema penulisan features adalah ‘Mata untuk Semua: Cerita Inklusif dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi.

📚 Sub-Tema Pilihan:
1️⃣  Akses layanan kesehatan mata bagi kelompok rentan (anak, lansia, disabilitas)
2️⃣  Peran kader, sekolah, dan komunitas dalam mendukung kesehatan mata
3️⃣  Pentingnya kebijakan sebagai payung hukum untuk meningkatkan akses ke layanan kesehatan mata yang komprehensif dan inklusif
4️⃣  Praktik baik dan inovasi layanan kesehatan mata inklusif

📝 Syarat Peserta:

  • Peserta adalah jurnalis aktif dari media cetak, online, radio, atau televisi yang berdomisili/bertugas di Kabupaten Madiun, Magetan, atau Ngawi
  • Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 karya tulis features
  • Karya harus asli (bukan terjemahan maupun plagiat) dan belum pernah dipublikasikan di media manapun
  • Panjang tulisan 1.000 – 1.500 kata
  • Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan komunikatif

Ketentuan Penulisan

  • Karya ditulis dalam bentuk features yang inspiratif dan disertai foto-foto pendukung
  • Karya diketik dalam format Word (doc, docx) menggunakan font Verdana ukuran 11 dan spasi 1,15
  • Sertakan minimal satu kutipan narasumber, dapat berasal dari tenaga kesehatan, penerima manfaat, kader kesehatan, atau pihak lain yang terkait lainnya
  • Tulisan harus sesuai dengan tema atau salah satu sub-tema yang telah ditetapkan oleh panitia
  • Pengambilan dan penggunaan foto wajib dilakukan dengan persetujuan (consent) dari pihak yang difoto sebagai bentuk penghormatan terhadap narasumber
  • Karya features ini dapat dimuat melalui media atau platform peserta jurnalis serta akan dipublikasikan melalui laman resmi dari Yayasan Para Mitra Indonesia
  • Saat karya dikirim, peserta harus melampirkan biodata singkat yang mencakup nama lengkap (bukan nama panggilan), nama media, kontak aktif (Whatsapp/Telepon), domisili, dan tautan tulisan yang telah dimuat di media/platform peserta jurnalis
  • Setiap kabupaten akan dipilih 2 jurnalis dengan karya penulisan features terbaik yang ditentukan oleh penilaian dewan juri

🕒 Timeline Kegiatan:
📬 Pengiriman Naskah: 15 Oktober – 4 November 2025
🧾 Penilaian Juri: 5 – 10 November 2025
🏆 Pengumuman Pemenang: 12 November 2025

📌 Tautan Pendaftaran : https://forms.gle/EV7Wbb296rirm2Zz5

📩 Kirimkan karyamu dan jadilah bagian dari support system untuk menguatkan layanan kesehatan mata yang komprehensif dan inklusif. Ayo, bersama-sama berkontribusi pada layanan kesehatan mata di Indonesia. Setiap kata yang teman-teman tulis membantu menebarkan kisah, pengalaman, dan semangat untuk kita semua.

Tim I-SEE Ngawi Gelar Pertemuan Tim Kecil Sebagai Tindak Lanjut dari Rekomendasi Diskusi Publik Terkait Pentingnya  Kebijakan Kesehatan Mata di Tingkat Kabupaten

Suasana di Gedung Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi dalam rangka Pertemuan Tim Kecil
untuk Mengawali Tahapan Kebijakan

Ngawi, 10 September 2025 – Tim I-SEE Kabupaten Ngawi menyelenggarakan pertemuan tim kecil sebagai timdak lanjut dari rekomendasi diskusi publik untuk mendorong adanya kebijakan kesehatan mata di tingkat kabupaten. Pertemuan ini dilaksanakan secara hybrid, menggabungkan luring dan daring, dengan melibatkan lintas sektor pada 9 September 2025.

Secara luring, kegiatan dihadiri oleh perwakilan dari Asisten 3 Bupati Ngawi, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Bappeda, Bagian Hukum Setda Ngawi, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Diskominfo, Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI).

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi publik yang digelar pada Juni 2025, yang merekomendasikan dua hal penting: pertama, perlunya kebijakan yang mengatur tentang upaya penanganan gangguan penglihatan sebagai payung hukum untuk menjamin keberlanjutan program; kedua, perlunya wadah kolaborasi stakeholder pemerintah maupun non pemerintah agar peran masing-masing dapat diatur sesuai kapasitasnya.

“Aspek keberlanjutan menjadi penting. Pertemuan hari ini adalah langkah untuk menindaklanjuti hasil diskusi publik sebelumnya, sekaligus menginisiasi adanya wadah bagi peningkatan layanan kesehatan mata di Kabupaten Ngawi,” ujar Asiah dalam sambutannya.

Sementara itu, Asisten 3 Bupati Ngawi, Harsoyo, menegaskan pentingnya sinergi antar-OPD. “Harapan kami adalah ada perwakilan tiap OPD bisa berada dalam satu kesatuan, bukan berjalan sendiri-sendiri. Program kesehatan mata bisa diikuti bersama agar saling mengetahui progresnya. Pentingnya tim kecil ini adalah memastikan koordinasi berjalan baik dan tidak berbenturan dengan aparat penegak hukum,” tegasnya.

Salah satu agenda penting dalam pertemuan ini adalah menginisiasi Peraturan Bupati (Perbup) sebagai payung hukum untuk memperkuat pelaksanaan Program I-SEE di Kabupaten Ngawi. Dengan adanya regulasi tersebut, diharapkan progres program lebih terukur dan hasilnya jelas.

Sesi Pemaparan Materi secara daring
oleh dr. Mia yang dipaparkan melalui Google Meet

Melalui platform daring, peserta juga mendapatkan kesempatan berbagi pengalaman dengan DR. dr. Mirrah Samiyah, M.Kes, Ketua Komatda Kabupaten Probolinggo. Beliau yang akrab disapa dengan dr. Mia ini menjelaskan mengenai pembentukan Komite Mata Daerah (Komatda), mulai dari struktur keanggotaan, tujuan, hingga praktik baik yang telah berjalan. Sejak berdiri bersamaan dengan hadirnya Program I-SEE, Komatda Probolinggo berperan aktif meningkatkan akses kesehatan mata melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, dukungan RS, dan penguatan kader kesehatan.

Menurut dr. Mia, keberadaan kader menjadi faktor kunci. “Melalui pendekatan kader, kesadaran masyarakat meningkat signifikan. Meskipun pengurus bekerja secara sukarela, komitmen bersama ini mampu memperluas akses layanan kesehatan mata,” jelasnya. Beliau juga menekankan pentingnya inisiasi Perbup terkait gangguan penglihatan, karena regulasi tersebut mengatur kelembagaan mulai dari tingkat kabupaten hingga desa melalui pemberdayaan Desa Sehat Mata Inklusi.

Pertemuan tim kecil ini menandai langkah awal menuju penguatan kebijakan inklusif di Kabupaten Ngawi, dengan harapan dapat mencontoh praktik baik dari daerah lain sekaligus memastikan keberlanjutan layanan kesehatan mata bagi masyarakat.

Tim I-SEE Hadiri Temu Inklusi 2025 di Cirebon

Momen peserta dalam Lokakarya Desa Inklusi yang dilaksanakan pada 3 September 2025 lalu

Batu, 10 September 2025– Perwakilan Tim I-SEE dari Yayasan Para Mitra Indonesia berkesempatan menghadiri kegiatan Temu Inklusi 2025 yang digelar pada 2–4 September 2025 di Cirebon, Jawa Barat. Temu Inklusi merupakan ajang dua tahunan yang diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Disabilitas Indonesia (SIGAB) untuk mempertemukan organisasi masyarakat sipil, gerakan disabilitas, mitra pembangunan, serta pemerintah dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, tiga orang perwakilan Tim I-SEE dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi bersama tiga orang perwakilan organisasi disabilitas turut hadir. Keterlibatan tersebut menjadi ruang penting untuk belajar sekaligus memperbarui pengetahuan terkait perkembangan gerakan disabilitas di tingkat nasional.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran. Seminar plenary pertama membahas upaya dan kemajuan dalam mendorong inklusi disabilitas, termasuk tantangan serta praktik baik yang telah dilakukan di berbagai daerah. Sementara itu, plenary kedua yang juga menjadi rangkaian penutup mengangkat tema “Looking Forward”, yaitu strategi, kolaborasi, dan sinergi untuk melanjutkan cita-cita mewujudkan inklusi disabilitas yang lebih luas.

Temu Inklusi 2025 diikuti oleh 590 peserta dari 24 provinsi, melibatkan perwakilan desa, dinas sosial, dan organisasi disabilitas. Salah satu peserta, Sulistiawan, misalnya, menceritakan kesan berharganya terhadap materi pembentukan Desa Sehat Inklusi pada salah satu desa di Situbondo, Jawa Timur. Meski desa tersebut telah diadvokasi sejak 2018 bersama dengan SIGAB, hasilnya pada tahun 2024 desa tersebut telah berhasil mengalokasikan anggarannya untuk pembangunan infrastruktur ramah disabilitas, seperti toilet inklusif di balai desa dan aksesibilitas bidang miring. Ke depan, desa tersebut berencana memfokuskan program pada pemberdayaan kelompok disabilitas, khususnya di bidang peternakan.

“Belajar dari pengalaman desa inklusi membuat kami semakin termotivasi. Kami bisa melihat bagaimana inklusi tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kebijakan dan anggaran,” ungkap Sulistiawan.

Selain itu, Nasrullah, Tim I-SEE dari Ngawi juga menambahkan bahwa Temu Inklusi ini dapat menjadi bukti atas keberhasilan lintas sektor. “Jujur, saya terkesan saat materi yang dibawakan oleh Bappenas, karena dengan adanya kehadiran perwakilan lembaga pemerintahan menjadi bukti negara setidaknya telah menaruh perhatian pada isu disabilitas,” tambah Nasrul.

Dengan adanya forum ini, Tim I-SEE merasa semakin terdorong untuk memperkuat jaringan, berbagi praktik baik, dan mendukung lahirnya kebijakan yang lebih inklusif di berbagai daerah, sehingga hak-hak penyandang disabilitas dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Tim I-SEE Hadiri Temu Inklusi 2025 di Cirebon

Momen peserta saat mengikuti Lokakarya Desa Inklusi yang diselenggarakan oleh Temu Inklusi, SIGAB Indonesia 3 September 2025 lalu

Batu, 10 September 2025– Perwakilan Tim I-SEE dari Yayasan Para Mitra Indonesia berkesempatan menghadiri kegiatan Temu Inklusi 2025 yang digelar pada 2–4 September 2025 di Cirebon, Jawa Barat. Temu Inklusi merupakan ajang dua tahunan yang diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Disabilitas Indonesia (SIGAB) untuk mempertemukan organisasi masyarakat sipil, gerakan disabilitas, mitra pembangunan, serta pemerintah dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, tiga orang perwakilan Tim I-SEE dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi bersama tiga orang perwakilan organisasi disabilitas turut hadir. Keterlibatan tersebut menjadi ruang penting untuk belajar sekaligus memperbarui pengetahuan terkait perkembangan gerakan disabilitas di tingkat nasional.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran. Seminar plenary pertama membahas upaya dan kemajuan dalam mendorong inklusi disabilitas, termasuk tantangan serta praktik baik yang telah dilakukan di berbagai daerah. Sementara itu, plenary kedua yang juga menjadi rangkaian penutup mengangkat tema “Looking Forward”, yaitu strategi, kolaborasi, dan sinergi untuk melanjutkan cita-cita mewujudkan inklusi disabilitas yang lebih luas.

Temu Inklusi 2025 diikuti oleh 590 peserta dari 24 provinsi, melibatkan perwakilan desa, dinas sosial, dan organisasi disabilitas. Salah satu peserta, Sulistiawan, misalnya, menceritakan kesan berharganya terhadap materi pembentukan Desa Sehat Inklusi pada salah satu desa di Situbondo, Jawa Timur. Meski desa tersebut telah diadvokasi sejak 2018 bersama dengan SIGAB, hasilnya pada tahun 2024 desa tersebut telah berhasil mengalokasikan anggarannya untuk pembangunan infrastruktur ramah disabilitas, seperti toilet inklusif di balai desa dan aksesibilitas bidang miring. Ke depan, desa tersebut berencana memfokuskan program pada pemberdayaan kelompok disabilitas, khususnya di bidang peternakan.

“Belajar dari pengalaman desa inklusi membuat kami semakin termotivasi. Kami bisa melihat bagaimana inklusi tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kebijakan dan anggaran,” ungkap Sulistiawan.

Selain itu, Nasrullah, Tim I-SEE dari Ngawi juga menambahkan bahwa Temu Inklusi ini dapat menjadi bukti atas keberhasilan lintas sektor. “Jujur, saya terkesan saat materi yang dibawakan oleh Bappenas, karena dengan adanya kehadiran perwakilan lembaga pemerintahan menjadi bukti negara setidaknya telah menaruh perhatian pada isu disabilitas,” tambah Nasrul.

Dengan adanya forum ini, Tim I-SEE merasa semakin terdorong untuk memperkuat jaringan, berbagi praktik baik, dan mendukung lahirnya kebijakan yang lebih inklusif di berbagai daerah, sehingga hak-hak penyandang disabilitas dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Kunjungan See You dan CBM Global Indonesia ke Wilayah Dampingan Program I-SEE

Kunjungan See You dan CBM ke rumah Bapak Kasmin, salah satu penerima manfaat bantuan transportasi operasi katarak

Yayasan Para Mitra mendapat kunjungan istimewa dari Mrs. Julia Jaspers Faijer selaku program manajer See You Foundation. Dalam rangkaian kunjungan ini, turut hadir Ibu Marisa Kristianah (Country Director CBM Global Indonesia), serta Ibu Vivian Kameloh (Senior Program Officer Inclusive Eye Health CBM Global Indonesia). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini difokuskan untuk melakukan monitoring, mencatat pengalaman, serta melihat secara langsung penerima manfaat dari Program I-SEE di wilayah dampingan.

Hari pertama, rangkaian kegiatan dimulai dengan sesi perkenalan sekaligus paparan menyeluruh mengenai implementasi Program I-SEE. Sesi ini menjadi pintu masuk untuk menggambarkan sejauh mana program berjalan, tantangan yang dihadapi, serta capaian yang telah diraih.

Julia See You dan Tim I-SEE dalam satu bingkai di SMPN 1 Wonoasri Kabupaten Madiun

Hari kedua, rombongan melakukan kunjungan lapangan di Kabupaten Madiun dan Ngawi. Di Madiun, kunjungan dilakukan di SMPN 1 Wonoasri untuk melihat langsung layanan kesehatan mata di sekolah, termasuk pengalaman siswa penerima kacamata yang kini dapat belajar lebih baik. Sementara itu, di Kabupaten Ngawi, kegiatan berlanjut di MIN 2 dan MTsN 12 Ngawi untuk meninjau proses skrining kesehatan mata di sekolah. Selain itu, tim juga menyempatkan diri mengunjungi siswa dengan low vision serta pasien pasca operasi katarak guna mendengarkan secara langsung cerita perubahan positif yang mereka alami.

Hari ketiga ditutup dengan diskusi bersama Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) dari tiga kabupaten dampingan, yaitu Madiun, Magetan, dan Ngawi. Dalam forum ini, peserta mendengar paparan mengenai program kerja Pertuni, hasil pelatihan rehabilitasi yang telah dijalankan, serta bentuk kolaborasi yang terbangun antara Pertuni dengan pemerintah daerah.

Kunjungan See You bersama CBM Global Indonesia ini menjadi momentum penting untuk memastikan keberlanjutan sekaligus meningkatkan kualitas Program I-SEE. Dengan melihat langsung praktik di lapangan serta mendengar cerita dari penerima manfaat, diharapkan pengembangan program ke depan semakin tepat sasaran dan berkelanjutan.

Pelatihan DID Dorong Layanan Kesehatan Lebih Inklusif di Kabupaten Ngawi

Wajah sumringah peserta pelatihan DID Kabupaten Ngawi saat berfoto bersama

Ngawi, 20 Agustus 2025 – Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi menggelar Pelatihan Pengembangan Inklusif Disabilitas (Disability Inclusive Development/DID) selama dua hari (14-15 Agustus 2025) bertempat di Aula Dinas Kesehatan dan Puskesmas Karangjati.

Kegiatan ini melibatkan beragam unsur staf kesehatan, mulai dari Kepala Puskesmas, dokter, perawat, bidan, tenaga manajemen, hingga petugas parkir dari dua Puskesmas percontohan di Ngawi, yakni Puskesmas Karangjati dan Puskesmas Sine. Pelatihan DID ini difasilitasi oleh Bapak Arizky Perdana Kusuma dari PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) Kabupaten Probolinggo. 

Praktik mendorong kursi roda yang dilakukan oleh staf Puskesmas menuju loket pendaftaran

Kedua Puskesmas tersebut ditunjuk langsung oleh Dinas Kesehatan sebagai Puskesmas percontohan sebagaimana prosedur dari kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP). Dengan langkah ini, diharapkan tercipta pelayanan kesehatan yang lebih ramah, aksesibel, dan berkeadilan bagi semua, termasuk masyarakat dengan disabilitas.

Secara umum, pelatihan DID ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, meningkatkan perspektif dan pengetahuan staf Puskesmas mengenai konsep disabilitas dan pembangunan inklusif. Kedua, membekali peserta dengan keterampilan yang tepat dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas selama proses pelayanan kesehatan. Ketiga, mendorong setiap Puskesmas untuk memiliki rencana pengembangan layanan yang lebih ramah disabilitas.

Pada hari pertama, peserta lebih banyak mendapatkan materi mengenai konsep dasar pembangunan inklusif, hak-hak penyandang disabilitas, serta pentingnya menghilangkan stigma dan diskriminasi dalam layanan kesehatan. Sementara itu, hari kedua difokuskan pada praktik langsung pengembangan layanan inklusif. Peserta diajak untuk melakukan simulasi etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas di berbagai titik layanan, mulai dari loket pendaftaran, ruang pemeriksaan, hingga pengambilan obat di apotek Puskesmas.

Melalui pelatihan ini, diharapkan seluruh peserta mampu menjadi pelopor dalam menciptakan pelayanan kesehatan mata yang lebih inklusif. Sekaligus, kehadiran pengembangan inklusif disabilitas diharapkan dapat menjadi contoh dan semangat bagi Puskesmas lainnya di Kabupaten Ngawi. 

Lowongan Fasilitator I-SEE Kabupaten Madiun

Halo, sobat YPM~

Saat ini, Yayasan PARA MITRA Indonesia sedang membutuhkan fasilitator untuk program kesehatan mata inklusif. Lowongan ini terbuka untuk 1 orang yang akan ditempatkan di Kabupaten Madiun. Kami juga mendorong komunitas disabilitas untuk bergabung dengan kami.

*Persyaratan:*

  1. Laki-laki/Perempuan, usia maksimal 40 tahun
  2. Diutamakan berasal dari Kabupaten madiun
  3. Minimal pendidikan D3
  4. Memiliki pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat (diutamakan pengalaman dalam bidang kesehatan dan bekerja dengan LSM)
  5. Mampu berkomunikasi dengan baik
  6. Mampu bekerja secara tim dan di bawah tekanan
  7. Siap bekerja lembur jika dibutuhkan
  8. Bertanggung jawab dan memiliki dedikasi tinggi
  9. Tidak pernah terlibat dalam kasus kekerasan atau pelecehan terhadap anak dan perempuan
  10. Memiliki kendaraan bermotor dan SIM C

Jika Anda memenuhi persyaratan di atas dan tertarik untuk bergabung, segera kirimkan surat lamaran, CV, dan data diri ke surel ypm@paramitra.or.id (online). Lowongan ini akan kami tutup hingga Selasa, 26 Agustus 2025 (pukul 13.00 WIB).

Lowongan Kerja Fasilitator See You

Halo, sobat YPM~

Yayasan PARA MITRA Indonesia berkolaborasi dengan CBM Global Indonesia sekarang tengah melakukan program kesehatan mata inklusif di 3 wilayah kerja, yaitu Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi. Saat ini, kami sedang membuka pekerjaan untuk 1 orang  yang diposisikan sebagai Fasilitator See You pada program tersebut di tiga kabupaten wilayah kerja.

Persyaratan:

  • Laki-laki/perempuan maksimal usia 40 tahun
  • Diutamakan berasal dari wilayah Madiun, Magetan, dan Ngawi
  • Pendidikan minimal SMA/SMK
  • Memiliki pengalaman bekerja sebagai fasilitator lapangan (diutamakan)
  • Mampu bekerja sama dengan tim
  • Tidak pernah terlibat dalam kasus kekerasan atau pelecehan terhadap anak dan perempuan
  • Memiliki kendaraan bermotor dan SIM C


Jika Anda memenuhi persyaratan di atas dan tertarik untuk bergabung, segera kirimkan surat lamaran, CV, dan data diri ke surel ypm@paramitra.or.id (online). Lowongan ini terbatas dan mulai berlaku pada 14-16 Agustus 2025 pukul 23.59 WIB.


Informasi selengkapnya hubungi 0812 5296 2027 (Marsudi).

Sebarkan informasi baik ini untuk kawan-kawan yang membutuhkannya.

Dorong Keterlibatan Aktif Pencegahan Gangguan Penglihatan di Tingkat Sekolah, Program I-SEE Lakukan Pelatihan Guru di Wilayah Tambakboyo Kabupaten Ngawi

Foto Bersama dengan Peserta Pelatihan Guru

Ngawi, 7 Agustus 2025 – Untuk memperkuat implementasi di sekolah, Program I-SEE gelar pelatihan guru di wilayah dampingan Puskesmas Tambakboyo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi pada Selasa, 6 Agustus 2025. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan sebelumnya yang telah diberikan kepada tenaga kesehatan, khususnya pemegang program indera dan dokter umum di Puskesmas. Pelatihan guru ini menjadi bagian penting dari strategi membangun kesadaran masyarakat sejak dini, terutama di lingkungan sekolah.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai jenjang pendidikan, yakni 6 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 2 Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 3 Sekolah Dasar (SD) di wilayah kerja Puskesmas Tambakboyo. Fasilitator dari pelatihan ini adalah tenaga kesehatan, yaitu dokter umum dan pemegang indera Puskesmas Tambakboyo.

Adapun tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan para guru mengenai program I-SEE, meningkatkan kapasitas guru dalam memberikan edukasi, melakukan skrining awal, serta memahami alur rujukan berjenjang, serta menanamkan pemahaman pentingnya implementasi integrasi layanan primer luar gedung di lingkungan sekolah.

Dalam pelatihan ini, para guru dibekali informasi dasar tentang kesehatan mata, jenis-jenis gangguan penglihatan yang umum terjadi pada anak usia sekolah, serta praktik langsung tentang cara melakukan skrining penglihatan sederhana. Selain itu, mereka juga diberikan pemahaman mengenai mekanisme rujukan jika ditemukan siswa yang mengalami gangguan penglihatan, serta pentingnya menyampaikan informasi tersebut kepada orang tua.

Melalui pelatihan ini, diharapkan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga berperan aktif sebagai mitra Puskesmas dalam mendeteksi dan mencegah gangguan penglihatan sedini mungkin. Kesadaran kolektif dari guru, siswa, dan orang tua menjadi pondasi penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat mata dan inklusif.