
Dukungan dari rekan-rekan guru mulai mengalir kepada Bu Rini Hidayati dalam upaya mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa, setelah mereka melihat langsung manfaat yang diperoleh para siswa. Untuk siswa dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan kacamata, bantuan dapat diberikan melalui Program I-SEE. Selain itu, siswa juga mendapatkan informasi bahwa pembelian kacamata dapat ditanggung oleh BPJS. Informasi hasil skrining juga disampaikan oleh wali kelas kepada orang tua/wali murid, sebagai langkah antisipasi jika informasi yang telah diberikan kepada siswa tidak sampai ke orang tua di rumah.
MTsN 4 Magetan merupakan salah satu dari 110 sekolah yang guru UKS-nya mengikuti pelatihan dengan menggunakan metode skrining melalui Single Line E-Chart, sebuah media bertuliskan huruf “E” yang digunakan untuk mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa. Bagi Bu Rini Hidayati, pelatihan ini sangat bermanfaat karena kini beliau dapat mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa lebih awal. Sebelumnya, pemeriksaan mata hanya dilakukan setahun sekali oleh Puskesmas. Namun dengan pelatihan ini, Bu Rini dapat merespons lebih cepat terhadap keluhan siswa terkait penglihatan dan melakukan skrining secara mandiri.
Namun, pelaksanaan skrining mata di sekolah pasca pelatihan pada 10 Oktober 2024 tidak semudah yang Bu Rini bayangkan. Beliau menghadapi penolakan dari hampir seluruh rekan guru. Skrining mata oleh guru dianggap sebagai hal yang baru dan tidak semestinya dilakukan oleh pihak sekolah, karena biasanya menjadi tugas Puskesmas. Bahkan, kehadiran Program I-SEE sempat disalahartikan sebagai upaya berjualan kacamata. Persepsi ini muncul saat Bu Rini melakukan sosialisasi hasil pelatihan kepada rekan-rekannya. Tantangan ini menjadi hambatan besar bagi Bu Rini dalam menjalankan skrining mata di sekolah. Sebagai solusi, Kepala Madrasah mengambil jalan tengah dengan mengizinkan kegiatan skrining berjalan apabila ada surat permohonan resmi dari Yayasan Para Mitra Indonesia. Dengan adanya surat tersebut, kegiatan skrining pun dapat dilaksanakan di sekolah.

di MTsN 4 Magetan
Berdasarkan surat tersebut akhirnya dilakukan skrining pada 9 kelas yang terdiri dari 7 kelas tingkat satu dan 2 kelas tingkat dua dengan jumlah siswa yang di skrining laki-laki 280 dan perempuan 297 dan ditemukan 26 anak yang diduga mengalami gangguan penglihatan. Bahkan kegiatan awal skrining ini belum bisa membuktikan kepada rekan guru lainnya jika tidak ada penjualan kacamata di sekolah. Bu Rini semakin merasa tidak nyaman dengan sikap rekan-rekannya tersebut.
Keraguan tersebut akhirnya terbantahkan ketika dari hasil rujukan, sebanyak 12 siswa menerima bantuan kacamata dari Program I-SEE, sementara sisanya mendapatkan bantuan melalui mekanisme BPJS. Momen penting terjadi ketika, dengan izin Kepala Madrasah, peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) diperingati di lingkungan sekolah dengan menghadirkan Kepala Puskesmas Kawedanan sebagai narasumber. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan kacamata secara simbolis kepada siswa penerima bantuan dari Program I-SEE. Kegiatan ini menjadi titik balik yang membuka pola pikir para guru. Dukungan dari pihak puskesmas dan bukti nyata bantuan kacamata yang diterima siswa membuat para guru mulai percaya dan memberikan dukungan kepada Bu Rini.
Sejak saat itu, dukungan dari rekan-rekan guru terhadap upaya deteksi gangguan penglihatan semakin menguat. Guru kelas pun mulai berperan aktif dengan meneruskan informasi hasil skrining kepada orang tua siswa, khususnya bagi yang terindikasi mengalami gangguan penglihatan, agar dapat ditindaklanjuti ke layanan kesehatan. Salah satu contohnya adalah siswa bernama Latifa, yang ditemukan memiliki gangguan penglihatan dengan minus 12. Berkat komunikasi yang baik antara wali kelas dan orang tua, Latifa akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Meski kini Bu Rini sudah mendapat dukungan dari sekolah, beliau merasa perjuangannya belum selesai. Guru yang dikenal disiplin ini memiliki rencana besar agar kegiatan skrining mata yang terbukti bermanfaat, dapat terus dilaksanakan secara rutin di sekolah. Beliau juga berencana untuk menularkan pengetahuan dan keterampilannya dalam melakukan skrining kepada rekan-rekan guru serta kader UKS, agar dapat menjangkau seluruh siswa di MTsN 4 Magetan yang jumlahnya sekitar 600 orang.
Perjalanan Bu Rini dari menghadapi penolakan hingga mendapat dukungan penuh dan merancang perubahan besar di sekolah patut dijadikan teladan. Beliau berharap, sekolah-sekolah lain juga bisa mengimplementasikan langkah sederhana ini, mengingat semakin meningkatnya kasus gangguan penglihatan pada siswa. Sekolah diharapkan tidak lagi hanya bergantung pada tenaga kesehatan, melainkan dapat lebih proaktif dalam mendeteksi dan menangani gangguan penglihatan sejak dini demi masa depan anak-anak yang lebih baik.
Penulis : Erna Kusuma Sari