
(Dokumentasi: Fatma, Tim I-SEE Kabupaten Madiun)
Ngawi, 15 Desember 2025− Pelatihan Guru Low Vision kembali dilaksanakan pada 15 Desember 2025 sebagai bentuk penguatan kapasitas guru dalam mendampingi siswa dengan gangguan penglihatan.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan serupa yang telah dilakukan pada Desember 2024, sekaligus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan layanan pendidikan yang inklusif. Pelatihan berlangsung di Notosuman Hall, Resto & Catering, Kabupaten Ngawi, dan diikuti oleh guru-guru dari Kabupaten Madiun, Ngawi, dan Magetan.
Materi pelatihan disampaikan oleh Bu Dewi Anggraini, tenaga ahli di bidang low vision. Narasumber yang biasa dipanggil dengan nama Bu Anggie ini mengajak peserta untuk memahami konsep dasar low vision, mulai dari pengertian, jenis masalah penglihatan, hingga pendekatan penanganan di lingkungan sekolah.
“Setiap anak dengan low vision memiliki kondisi yang berbeda, mulai dari penglihatan kabur, kehilangan penglihatan tengah atau tepi, hingga adanya bercak pada penglihatan. Bapak dan ibu guru bisa melakukan pengamatan pada siswa-siswi di kelas…” ujar Bu Anggie saat penyampaian materi tentang konsep dasar low vision.
Peserta juga dibekali pemahaman tentang pengamatan awal di kelas, seperti memperhatikan kondisi bola mata, perilaku melihat dan membaca siswa, hingga riwayat kondisi medis atau disabilitas yang menyertai.

Pelatihan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi. Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 2–3 orang untuk merasakan langsung tantangan yang dialami siswa low vision. Dalam simulasi ini, satu peserta berperan sebagai siswa low vision dan satu peserta lainnya sebagai pengamat, dengan menggunakan buku dan kacamata simulasi low vision selama lima menit. Kegiatan ini membantu guru memahami aktivitas mana yang terasa mudah dan mana yang sulit bagi siswa dengan gangguan penglihatan.
Untuk memperkuat pemahaman, pelatihan dilengkapi dengan permainan interaktif “mitos atau fakta” serta diskusi bersama mengenai solusi atas berbagai kendala yang sering dialami siswa dengan gangguan penglihatan.
Kegiatan pelatihan ditutup dengan pengisian post-test dan diskusi rencana tindak lanjut yang akan didampingi oleh fasilitator di masing-masing kabupaten. Melalui pelatihan ini, diharapkan guru semakin siap menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah bagi siswa dengan low vision.