Kepemimpinan Informal Sang Kader, Sebuah Transformasi Upaya Pengurangan Gangguan Penglihatan di Desa Pucanganom Kabupaten Madiun

Sosok Titik Ernawati (tengah dengan baju kuning) bersama dengan para kader di Desa Pucanganom

Pada bulan September 2024, di Desa Pucanganom, Kabupaten Madiun, dimulailah sebuah kegiatan skrining mata , yang merupakan bagian dari upaya deteksi dini gangguan penglihatan masyarakat. Kegiatan ini bukan hal baru, namun sebenarnya adalah sebuah kegiatan untuk penguatan program rutin yang telah ada di masyarakat, namun menjadi luar biasa berkat kiprah seorang koordinator kader bernama Titik Ernawati.

Titik memang bukan kader yang mengikuti pelatihan yang diadakan oleh program I-SEE (Inclusive System for Effective I Care), karena ibu yang rajin ini lebih mendahulukan anggotanya. Namun beliau mengikuti mendapatkan pelatihan mandiri dari kader yang sudah dilatih . Selain itu beliau juga mengikitui refresh kader yang dilakukan 6 bulan bulan setelah pelatihan kader sehingga materi tentang screening mata juga dikuasai.  Semangat seorang koordinator  semakin terpupuk dengan adanya 6 kader yang telah dilatih skrining mata pada bulan September yang lalu.  Selama mengikuti proses kegiatan kesehatan mata di Posyandu yang dilakukan oleh kader terlatih, Ibu yang energik ini juga banyak belajar dari berbagai tantangan. Beliau terus berpikir dan belajar, mimpi besarnya adalah mewujudkan Pucanganom bebas gangguan penglihatan.

Beliau bukan hanya menjembatani antara tim pelaksana dan masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan dan memotivasi kader lainnya. Keterlibatan aktifnya sangat terasa sejak program-program yang ada di desa pucanganom muncul. “Yang penting masyarakat paham dan merasa dekat dengan pelayanan. Kalau mereka merasa dilibatkan dan didengar, mereka akan datang dengan sendirinya,” ujar Titik dalam sebuah pertemuan kader.

Hasilnya nyata! Partisipasi warga dalam skrining mata di Posyandu mencapai 90%. Tidak hanya itu, Titik mampu memetakan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak untuk menjadi prioritas sasaran. Komunikasi antara kader, tenaga kesehatan, dan perangkat desa pun berjalan lebih lancar berkat pendekatan personal dan strategis yang ia lakukan.

Skrining mata dengan hitung jari, kegiatan yang dilakukan pada Omah Tamu Ngayomi

Salah satu inovasi yang lahir dari tangan dingin Titik adalah “Omah Tamu Ngayomi”, singkatan dari Omah Tes Mata Pucanganom Inklusi. Inovasi ini berupa titik-titik strategis di desa yang menyediakan media skrining mata mandiri. Warga bisa memeriksa matanya sendiri tanpa harus jauh-jauh ke fasilitas kesehatan. Ide ini muncul dari hasil advokasi Titik bersama pemerintah desa, yang kemudian dituangkan dalam SK resmi.

Tidak berhenti di sana, Titik juga mendorong lahirnya MoU antara pemerintah desa dan seluruh sekolah di wilayah Pucanganom. Isinya: setiap sekolah wajib memberikan dispensasi dan mendukung siswanya untuk datang ke Posyandu ILP guna mendapatkan semua layanan kesehatan salah satunya skrining mata. Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana kepemimpinan informal bisa berdampak besar pada kebijakan desa.

Tentu, tidak semua berjalan sempurna. Minimnya pelatihan teknis menyebabkan beberapa misskomunikasi di awal kegiatan, terutama dalam pengisian data dan pemahaman prosedur skrining. Namun semua kendala itu berhasil diatasi seiring waktu, berkat komunikasi terbuka dan semangat belajar bersama.

Dari pengalaman ini, kita belajar bahwa pelatihan dasar tetap penting untuk memastikan pemahaman teknis. Namun lebih dari itu, semangat, kepedulian, dan kepemimpinan informal seperti yang ditunjukkan oleh Titik Ernawati adalah elemen kunci yang mampu membawa perubahan besar di tingkat desa. Dengan dorongan yang tepat, peran kader seperti Titik bisa berkembang menjadi motor penggerak utama dalam transformasi layanan kesehatan masyarakat.

Titik berharap agar lebih banyak desa bisa menumbuhkan kader seperti dirinya, yang mau belajar, bergerak, dan memimpin tanpa harus menunggu jabatan formal. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan mata, tetapi juga merasa memiliki terhadap layanan kesehatan di desa mereka.

Penulis : Anjar Susilowati

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *