Kalangketi Deklarasikan Diri sebagai Desa Sehat Mata Inklusif bersama Program I-SEE

Stakeholder Kabupaten Magetan dan Pihak Desa Kalangketi
Melakukan Foto Bersama

Magetan, 7 Agustus 2025 – Dalam semangat mewujudkan masyarakat yang sehat dan inklusif, Desa Kalangketi, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan resmi mendeklarasikan diri sebagai Desa Sehat Mata Inklusif pada 5 Agustus 2025. Kegiatan ini diinisiasi melalui kolaborasi dengan program Inclusive System for Effective Eye-care (I-SEE).

Acara peresmian yang berlangsung di Kantor Desa Kalangketi ini mengusung tema “Jendela Dunia Mata Sehat, Kalangketi Hebat, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan daerah. Hadir dalam kesempatan ini perwakilan dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Camat Sukomoro, jajaran pemerintah desa, serta tokoh dan warga masyarakat setempat.

Sebagai unit terkecil dalam sistem pemerintahan, desa memegang peran penting dalam mendukung upaya pencegahan gangguan penglihatan di masyarakat. Dalam hal ini, Program I-SEE menggandeng Desa Kalangketi untuk membangun kolaborasi dalam mewujudkan akses layanan kesehatan mata yang inklusif dan berkelanjutan. Komitmen Desa Kalangketi terhadap kesehatan masyarakat sebelumnya juga telah tertuang dalam Surat Keputusan Kepala Desa Nomor 188/14/Kep/403.409.02/2024 tentang Penetapan Desa Sehat.

Kepala Desa Kalangketi, Bapak Setiyono, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh Program I-SEE kepada desanya.

“Semoga melalui Desa Sehat Mata ini, semua program bisa berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Harapan kami, seluruh warga Kalangketi bisa mengakses layanan kesehatan mata secara merata dan terhindar dari penyakit mata,” ujar Setiyono dalam sambutannya.

Penandatanganan Komitmen Bersama oleh Kepala Desa Kalangketi, Bapak Setiyono

Ke depannya, Desa Sehat Mata Inklusif ini diharapkan dapat mendorong partisipasi aktif masyarakat. Desa dapat membantu meningkatkan akses layanan kesehatan mata, baik dari segi pendanaan kegiatan, penyediaan sarana prasarana, hingga dukungan pada disabilitas. Adanya kader kesehatan yang sudah terlatih di wilayah Kalangketi juga diharapkan dapat membantu berjalannya kegiatan kegiatan edukasi, skrining, dan rujukan masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan.

Dengan adanya komitmen dan dukungan lintas sektor, Desa Kalangketi diharapkan mampu menjadi motivasi bagi masyarakat untuk mendorong terciptanya layanan kesehatan yang inklusif dan berkeadilan bagi semua.

Komitmen Terhadap Kesehatan Mata yang Inklusif, Program I-SEE Gandeng Pemkab Ngawi Resmikan Desa Sehat Mata dan Organisasi Disabilitas

Pemkab Kabupaten Ngawi dan pengurus desa sehat mata inklusif dan organisasi disabilitas bersatu dalam mensukseskan program kesehatan mata di Kabupaten Ngawi

Ngawi, 28 Juli 2025 — Melalui Program I-SEE, Pemerintah Kabupaten Ngawi mengukuhkan 10 Desa Sehat Mata Inklusi dan 4 Organisasi Disabilitas tingkat desa di Notosuman Restaurant, Kecamatan Ngawi pada Kamis (24/7/2025) lalu. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong keberlanjutan layanan kesehatan mata yang komprehensif dan menjangkau semua kalangan, termasuk disabilitas.

Penandatanganan Piagam Pengukuhan oleh Asisten 1 Sekda Kabupaten Ngawi

Pengukuhan ini diresmikan langsung oleh Asisten 1 Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi, Ir. Hadi Suroso, serta dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, perwakilan disabilitas, dan tokoh-tokoh desa. Hal ini ditandai dengan adanya penandatanganan piagam pengesahan oleh Pemkab Kabupaten Ngawi beserta pihak-pihak desa beserta organisasi disabilitas.

Sebanyak 10 desa resmi dikukuhkan sebagai Desa Sehat Mata, yaitu:

  1. Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati
  2. Desa Tepas, Kecamatan Geneng
  3. Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan
  4. Desa Girikerto, Kecamatan Sine
  5. Desa Mandiro, Kecamatan Ngrambe
  6. Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo
  7. Desa Purwosari, Kecamatan Kwadungan
  8. Desa Dero, Kecamatan Bringin
  9. Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar
  10. Desa Kedungharjo, Kecamatan Mantingan

Selain itu, 4 Organisasi Disabilitas Tingkat Desa, yaitu:

  1. Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati
  2. Desa Tepas, Kecamatan Geneng
  3. Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan
  4. Desa Mandiro, Kecamatan Ngrambe

Dalam sambutannya, Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, menyampaikan apresiasinya atas dukungan kuat Pemerintah Kabupaten Ngawi. Beliau menjelaskan bahwa program Inclusive System for Effective Eye-care (I-SEE) hadir untuk memperkuat pelayanan kesehatan mata melalui pemberdayaan dari tingkat akar rumput.

“Selama tiga tahun pelaksanaan program, Program I-SEE telah mendampingi berbagai desa agar responsif terhadap isu kesehatan mata. Sepuluh desa dan organisasi disabilitas yang dideklarasikan hari ini merupakan hasil seleksi dan pendampingan yang menunjukkan komitmen tinggi dari masing-masing wilayah,” jelas Asiah.

Tak hanya fokus pada kesehatan mata, Program I-SEE juga mendorong disabilitas untuk aktif berperan dalam pembangunan desa. Harapannya, adanya Desa Sehat Mata dan organisasi disabilitas dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk mendorong layanan kesehatan yang inklusif bagi semua, tidak ada yang tertinggalkan (no one left behind).

Sedangkan Asisten 1, Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Ngawi, Ir. Hadi Suroso menjelaskan dalam sambutannya, “Adanya deklarasi Desa Sehat Mata diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pada gangguan penglihatan agar bisa dicegah sejak dini. Pelibatan disabilitas dalam setiap kegiatan merupakan hal yang penting, sebagai bagian integral dari masyarakat,” tegasnya.

Pengukuhan Desa Sehat Mata dan Organisasi Disabilitas ini juga dilengkapi dengan pemaparan materi dan diskusi mengenai ‘Pendanaan APBDes untuk Kesehatan Mata’ yang difasilitasi oleh Nugroho dari DMPD Kabupaten Ngawi dan Paparan Program I-SEE yang disampaikan oleh Moch. Marsudi dari Yayasan Para Mitra Indonesia. Sesi ini diharapkan menjadi momentum perwakilan dari desa-desa dan organisasi disabilitas untuk memberikan pertanyaan maupun input atas keberlanjutannya.

Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni semata, tetapi juga ajang untuk memantik semangat kolaborasi demi mewujudkan pelayanan kesehatan mata yang lebih baik di Kabupaten Ngawi. Sebuah komitmen nyata untuk mendukung target pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Program I-SEE Kabupaten Magetan Gelar Diskusi Publik Dorong Kebijakan Kesehatan Mata Inklusif yang Berkelanjutan

Serempak membangun komitmen bersama untuk mendukung program Kesehatan mata di Kabupaten Magetan

Magetan, 28 Juli 2025 — Melalui Program I-SEE, Yayasan Para Mitra Indonesia menggelar Diskusi Publik dengan menggandeng Pemerintah Kabupaten Magetan. Kegiatan ini bertema “Mendorong Adanya Kebijakan Layanan Kesehatan Mata yang Komprehensif dan Inklusif dalam Mendukung SDGs di Kabupaten Magetan”, yang dilaksanakan pada Selasa, 22 Juli 2025 bertempat di Ruang Ki Mageti, Gedung Pemerintah Kabupaten Magetan.

Acara ini menghadirkan narasumber, yakni Elmy Kurniarto Widodo, ST, MT dari BAPPEDALITBANG Kabupaten Magetan, Sukoco selaku Sekretaris PWMOI Kabupaten Magetan yang juga wartawan Kompas dan Redaktur Lawu TV, serta dipandu oleh moderator Majid Widigdo, S.H.

Diskusi publik ini bertujuan untuk memperkuat sinergi multi pihak dalam merumuskan kebijakan strategis layanan kesehatan mata yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut menyoroti pentingnya integrasi layanan kesehatan mata dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dengan semangat No One Left Behind — tidak ada satu pun warga yang tertinggal dalam memperoleh akses kesehatan yang layak.

Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi dan keberlanjutan program. “Kami ingin mengakomodir masukan dari berbagai pihak yang hadir dan khalayak yang lebih luas melalui kanal you tube . Input ini akan sangat bermakna untuk menyusun Langkah strategis ke depan agar apa yang sekarang sudah diupayakan sustain. Isu kesehatan mata selama ini belum menjadi prioritas. Program ini hadir untuk memperkuat yang sudah ada, dan bekerja sama dengan instansi terkait dalam mendukung pencapaian SDGs demi kehidupan yang lebih baik,” ujar Asiah.

Sementara itu, PJ Sekretaris Daerah Kabupaten Magetan, Muchtar Wachid, ST, MT, mengungkapkan bahwa dari data Dinas Kesehatan setempat terdapat 2.995 warga Kabupaten Magetan yang mengalami katarak, dan baru 16,6% di antaranya yang telah mendapatkan penanganan. Beliau menyampaikan terima kasih atas inisiasi program ini dan berharap adanya dorongan serta langkah konkret dari seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dalam mendukung dan menyukseskan program layanan kesehatan mata yang menyeluruh.

Kepala BAPPEDALITBANG Kabupaten Magetan, Elmy Kurniarto dalam paparan materi menambahkan bahwa untuk mencapai target SDGs, dibutuhkan peran dari semua pihak. “SDGs adalah amanat undang-undang dan saat ini pemerintah Kabupaten Magetan sedang menyusun RPJMD, yang salah satunya juga bertujuan untuk memenuhi layanan UHC. Walaupun layanan sudah ditanggung oleh BPJS, namun kami menyadari masih banyak masyarakat yang kesulitan mengklaim layanan karena rumitnya persyaratan,” paparnya.

Elmy juga mengakui bahwa capaian UHC di Magetan saat ini baru mencapai 88,31%. Selain itu, masih terdapat ketimpangan dalam hal distribusi tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis di tingkat Puskesmas. Untuk itu, Pemkab mendorong dokter muda di layanan primer untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis, dengan dukungan penuh dari pemerintah.

Selanjutnya, dalam paparan materi, Sukoco menyampaikan pentingnya skrining mata sejak dini, terutama pada anak usia sekolah. “Pemetaan dan skrining mata harus dilakukan secara berkesinambungan mengingat banyaknya kasus gangguan penglihatan di masyarakat. Anak-anak adalah generasi penerus yang harus dijaga kualitas penglihatannya,” tegasnya.

Diskusi publik tersebut dihadiri oleh 41 peserta, mulai dari unsur pemerintah, disabilitas, jurnalis, CSR, hingga tokoh masyarakat. Harapannya melalui kegiatan ini dapat menggalang input dari berbagai sudut pandang, sehingga dapat mendorong adanya kebijakan kesehatan mata yang bermanfaat bagi semua. Ada beberapa rekomendasi dari diskusi publik ini :

  1. Pentingnya penyusunan program kerja di setiap OPD untuk mengakomodir program kesehatan mata agar bisa menjadi bagian dari pembangunan daerah
  2. Perlunya regulasi/kebijakan kolaboratif yang mengatur peran dan keterlibatan semua pihak yang terkait untuk dalam program kesehatan mata  
  3. Program I-SEE perlu duduk bersama dengan pemerintah daerah agar dukungan pelaksanaan program kesehatan mata menjadi lebih terarah

Kegiatan Diskusi Publik, sebelumnya juga telah dilakukan di Kabupaten Madiun dan Ngawi pada Juni lalu yang bekerja sama dengan Diskominfo masing-masing kabupaten untuk disaksikan secara online melalui Live Streaming.

Dorong Layanan Kesehatan Ramah Disabilitas, Program I-SEE Lakukan Pelatihan DID (Etika Berkomunikasi dengan Disabilitas) untuk Puskesmas di Kabupaten Madiun

Sesi Tanya Jawab dengan Peserta Kegiatan dalam Pelatihan DID

Madiun, 2 Juli 2025− Sebagai bagian dari komitmen untuk mendorong layanan kesehatan yang lebih inklusif, Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) menyelenggarakan Pelatihan Disability Inclusive Development (DID) bagi Puskesmas Pembina di Kabupaten Madiun. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 1 Juli 2025 di Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, dan dilanjutkan pada 2 Juli 2025 di Puskesmas Sumbersari.

Seiring berkembangnya implementasi program I-SEE, fokusnya kini tidak hanya terbatas pada pencegahan gangguan penglihatan, tetapi juga mencakup penguatan layanan kesehatan yang ramah dan inklusif bagi disabilitas. Hal ini selaras dengan prinsip universal dalam pembangunan berkelanjutan “No one life behind“ tidak satupun orang yang ditinggalkan. Untuk itu, pelatihan ini menyasar tiga Puskesmas yang telah ditunjuk oleh Dinas Kesehatan sebagai Puskesmas Pembina, yaitu Puskesmas Sumbersari (Kecamatan Saradan), Puskesmas Krebet (Kecamatan Pilangkenceng), dan Puskesmas Bangunsari (Kecamatan Dolopo).

Pelatihan ini diikuti oleh total 18 peserta, masing-masing enam orang dari setiap puskesmas. Peserta berasal dari berbagai unit layanan, mulai dari petugas parkir, petugas loket, tenaga kesehatan, hingga staf manajemen. Selama dua hari, peserta dibekali pemahaman mengenai konsep disabiltas, hak-hak penyandang disabilitas, pembangunan inklusif, ragam disabilitas serta cara berinteraksi yang tepat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Peserta juga diberikan keterampilan mengenai bagaimana praktik berinteraksi dengan pasien disabilitas mulai pintu masuk puskesmas sampai pada pengambilan obat. Pelatihan ini difasilitasi oleh Arizky Perdana Kusuma dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang memang sudah berpengalaman dalam memfasilitasi pelatihan DID pada wilayah pilot program sebelumnya dan memberikan wawasan langsung dari sudut pandang komunitas disabilitas.

Praktik Pelayanan Pengambilan Obat bagi Pasien Netra

Pelatihan DID ini menjadi langkah awal yang penting dalam mendorong transformasi layanan kesehatan yang inklusif. Dengan keterlibatan dan peran aktif Puskesmas Pembina, diharapkan semangat inklusivitas ini dapat menyebar ke seluruh fasilitas kesehatan lainnya di Kabupaten Madiun dan sekitarnya, demi memastikan tidak ada satu pun masyarakat yang tertinggal dalam pembangunan kesehatan.

Deklarasi Desa Sehat Mata Inklusi di Kabupaten Magetan: Langkah Nyata Menuju Masyarakat Bebas Gangguan Penglihatan

Kolaborasi Lintas Sektor Membangun Komitmen Penanggulangan Gangguan Penglihatan dalam Deklarasi Desa Sehat Mata Pinkuk dan Geplak

Magetan, 2 Juli 2025− Program Inclusive System for Effective Eye-care (I-SEE) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pencegahan gangguan penglihatan di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan Deklarasi Desa Sehat Mata Inklusi yang telah dilaksanakan pada 30 Juni 2025 di dua desa di Kabupaten Magetan, yaitu Desa Geplak di Kecamatan Karas dan Desa Pinkuk di Kecamatan Bendo.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi dari Peraturan Menteri Kesehatan No. 82 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Pendengaran, yang menargetkan penurunan prevalensi gangguan penglihatan sebesar 25% pada tahun 2030 dibandingkan dengan data tahun 2017. Upaya ini tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, namun diperlukan kerja sama lintas sektor, salah satunya dengan melibatkan desa sebagai bagian terkecil dari struktur pemerintahan dan ujung tombak dalam pencegahan gangguan gangguan penglihatan yang berkelanjutan.

Deklarasi Desa Sehat Mata Inklusi ini dihadiri oleh berbagai pihak, seperti Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Dinas Kesehatan, Camat, Puskesmas, perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga perwakilan dari disabilitas. Dari hasil kegiatan tersebut, dua Desa Sehat Mata Inklusi resmi terbentuk di Kabupaten Magetan, lengkap dengan struktur kepengurusan dan rencana kerja yang disepakati bersama. Ini menambah daftar desa yang telah mengadopsi pendekatan inklusif dalam menjaga kesehatan mata masyarakatnya.

Sebelumnya, pada bulan yang sama, program serupa juga telah dilaksanakan di beberapa desa lain, yaitu Desa Ngampel di Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun pada 16 Juni 2025, serta Desa Tulung di Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan pada 26 Juni 2025. Dengan terbentuknya desa-desa ini, diharapkan upaya pencegahan gangguan penglihatan dan kebutaan semakin luas jangkauannya, dan menjadi gerakan kolektif menuju Indonesia yang lebih sehat dan inklusif. Hal ini sangat selaras dengan semboyan Yayasan Para Mitra Think Globally, Act Locally berpikir besar, bertindak lokal.

Kolaborasi Tim I-SEE dan Mitra Bakti dalam Pertemuan Guru SLB se-Kabupaten Ngawi

Bapak Suparman, Bapak Heru (perwakilan Mitra Bakti) dan Bapak Nasyrul (perwakilan Tim I-SEE) dalam Kegiatan KKG Guru SLB se-Kabupaten Ngawi

Ngawi, 2 Juni 2025 — SLB Beranda Istimewa, Grudo, Kabupaten Ngawi, menjadi tuan rumah kegiatan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) yang diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan dari Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini juga dihadiri oleh pengawas PK-PLK, ketua KKG/MGMP, serta kepala sekolah dari berbagai SLB di wilayah tersebut.

Dalam kesempatan ini, Tim I-SEE bersama tim Mitra Bakti Kabupaten Ngawi turut hadir untuk melakukan sosialisasi awal mengenai peran pendamping Mitra Bakti pasca pelatihan yang dilakukan di RSBN Kota Malang pada 19-22 Mei lalu. Kegiatan ini dimanfaatkan sebagai momen strategis untuk memperkenalkan konsep pendampingan yang benar bagi disabilitas netra, termasuk pengenalan dasar mengenai Orientasi Mobilitas (OM), konseling, dan Activity Daily Living (ADL) kepada para guru.

Tujuan dari sosialisasi ini adalah agar tenaga pendidikan, khususnya guru-guru SLB, mendapatkan informasi yang utuh tentang keberadaan dan peran Mitra Bakti dalam mendampingi siswa dengan gangguan penglihatan. Pendamping yang terlatih diharapkan dapat membantu siswa netra untuk hidup lebih mandiri serta meningkatkan keterampilan sosial mereka secara bertahap.

Selain itu, fasilitator juga memperkenalkan rangkaian program kerja I-SEE di wilayah Kabupaten Ngawi, yang meliputi pelatihan skrining penglihatan bagi guru, alur rujukan siswa, serta dukungan kacamata bagi siswa yang membutuhkan. Program ini sejalan dengan upaya peningkatan akses layanan kesehatan mata yang inklusif dan merata di lingkungan pendidikan.

Menariknya, kegiatan ini bertepatan dengan jadwal pertemuan rutin tiga bulanan KKG SLB, dan kali ini dilaksanakan di SLB Beranda Istimewa, sekolah yang dipimpin oleh Ibu Renny — salah satu peserta pelatihan Mitra Bakti Program I-SEE. Momen berkumpulnya para guru SLB se-Kabupaten Ngawi pun menjadi sarana yang tepat untuk menyampaikan pesan penting mengenai peran pendamping dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pendidikan inklusif.

Mimpi Besar Selalu Berangkat dari Tantangan (Belajar dari Kisah Seorang Guru UKS  dalam Program Kesehatan Mata) di Kabupaten Magetan

Suasana kegiatan skrining gangguan penglihatan di MTsN 4 Magetan

Dukungan dari rekan-rekan guru mulai mengalir kepada Bu Rini Hidayati dalam upaya mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa, setelah mereka melihat langsung manfaat yang diperoleh para siswa. Untuk siswa dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan kacamata, bantuan dapat diberikan melalui Program I-SEE. Selain itu, siswa juga mendapatkan informasi bahwa pembelian kacamata dapat ditanggung oleh BPJS. Informasi hasil skrining juga disampaikan oleh wali kelas kepada orang tua/wali murid, sebagai langkah antisipasi jika informasi yang telah diberikan kepada siswa tidak sampai ke orang tua di rumah.

MTsN 4 Magetan merupakan salah satu dari 110 sekolah yang guru UKS-nya mengikuti pelatihan dengan menggunakan metode skrining melalui Single Line E-Chart, sebuah media bertuliskan huruf “E” yang digunakan untuk mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa. Bagi Bu Rini Hidayati, pelatihan ini sangat bermanfaat karena kini beliau dapat mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa lebih awal. Sebelumnya, pemeriksaan mata hanya dilakukan setahun sekali oleh Puskesmas. Namun dengan pelatihan ini, Bu Rini dapat merespons lebih cepat terhadap keluhan siswa terkait penglihatan dan melakukan skrining secara mandiri.

Namun, pelaksanaan skrining mata di sekolah pasca pelatihan pada 10 Oktober 2024 tidak semudah yang Bu Rini bayangkan. Beliau menghadapi penolakan dari hampir seluruh rekan guru. Skrining mata oleh guru dianggap sebagai hal yang baru dan tidak semestinya dilakukan oleh pihak sekolah, karena biasanya menjadi tugas Puskesmas. Bahkan, kehadiran Program I-SEE sempat disalahartikan sebagai upaya berjualan kacamata. Persepsi ini muncul saat Bu Rini melakukan sosialisasi hasil pelatihan kepada rekan-rekannya. Tantangan ini menjadi hambatan besar bagi Bu Rini dalam menjalankan skrining mata di sekolah. Sebagai solusi, Kepala Madrasah mengambil jalan tengah dengan mengizinkan kegiatan skrining berjalan apabila ada surat permohonan resmi dari Yayasan Para Mitra Indonesia. Dengan adanya surat tersebut, kegiatan skrining pun dapat dilaksanakan di sekolah.

Bu Rini melakukan skrining pada siswinya
di MTsN 4 Magetan

Berdasarkan surat tersebut akhirnya  dilakukan skrining  pada 9 kelas yang terdiri dari 7 kelas tingkat satu dan 2 kelas tingkat dua dengan jumlah siswa yang di skrining laki-laki 280 dan perempuan 297 dan ditemukan 26 anak yang diduga mengalami gangguan penglihatan. Bahkan kegiatan awal skrining ini belum bisa membuktikan kepada rekan guru lainnya jika tidak ada penjualan kacamata di sekolah. Bu Rini semakin merasa tidak nyaman dengan sikap rekan-rekannya tersebut.

Keraguan tersebut akhirnya terbantahkan ketika dari hasil rujukan, sebanyak 12 siswa menerima bantuan kacamata dari Program I-SEE, sementara sisanya mendapatkan bantuan melalui mekanisme BPJS. Momen penting terjadi ketika, dengan izin Kepala Madrasah, peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) diperingati di lingkungan sekolah dengan menghadirkan Kepala Puskesmas Kawedanan sebagai narasumber. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan kacamata secara simbolis kepada siswa penerima bantuan dari Program I-SEE. Kegiatan ini menjadi titik balik yang membuka pola pikir para guru. Dukungan dari pihak puskesmas dan bukti nyata bantuan kacamata yang diterima siswa membuat para guru mulai percaya dan memberikan dukungan kepada Bu Rini.

Sejak saat itu, dukungan dari rekan-rekan guru terhadap upaya deteksi gangguan penglihatan semakin menguat. Guru kelas pun mulai berperan aktif dengan meneruskan informasi hasil skrining kepada orang tua siswa, khususnya bagi yang terindikasi mengalami gangguan penglihatan, agar dapat ditindaklanjuti ke layanan kesehatan. Salah satu contohnya adalah siswa bernama Latifa, yang ditemukan memiliki gangguan penglihatan dengan minus 12. Berkat komunikasi yang baik antara wali kelas dan orang tua, Latifa akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Meski kini Bu Rini sudah mendapat dukungan dari sekolah, beliau merasa perjuangannya belum selesai. Guru yang dikenal disiplin ini memiliki rencana besar agar kegiatan skrining mata yang terbukti bermanfaat, dapat terus dilaksanakan secara rutin di sekolah. Beliau juga berencana untuk menularkan pengetahuan dan keterampilannya dalam melakukan skrining kepada rekan-rekan guru serta kader UKS, agar dapat menjangkau seluruh siswa di MTsN 4 Magetan yang jumlahnya sekitar 600 orang.

Perjalanan Bu Rini dari menghadapi penolakan hingga mendapat dukungan penuh dan merancang perubahan besar di sekolah patut dijadikan teladan. Beliau berharap, sekolah-sekolah lain juga bisa mengimplementasikan langkah sederhana ini, mengingat semakin meningkatnya kasus gangguan penglihatan pada siswa. Sekolah diharapkan tidak lagi hanya bergantung pada tenaga kesehatan, melainkan dapat lebih proaktif dalam mendeteksi dan menangani gangguan penglihatan sejak dini demi masa depan anak-anak yang lebih baik.

Penulis : Erna Kusuma Sari

Dengan Legalitas, PERTUNI Kabupaten Ngawi Menjadi lebih Berdaya

Ahmad Zainuddin, Ketua PERTUNI Kabupaten Ngawi (nomor 3 dari kanan), anggota, dan Tim I-SEE dalam satu kegiatan pertemuan.

“Legalitas bukan sekadar formalitas—ia menjadi kunci pengakuan dan pintu pembuka akses sumber daya serta peluang kolaborasi yang lebih luas.”

Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kabupaten Ngawi berdiri tahun 2019 dengan ketua Bapak Heri. Organisasi ini sempat mengalami kevakuman  terutama saat pandemi Covid-19. PERTUNI kembali aktif pada tahun 2022, tetapi mengalami masalah internal yang menyebabkan pergantian ketua. Akhirnya, Bapak Ahmad Zainuddin ditetapkan sebagai ketua PERTUNI dengan surat keputusan resmi. Meskipun telah berdiri cukup lama, PERTUNI Kabupaten Ngawi belum memiliki legalitas yang jelas. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman anggota PERTUNI mengenai proses dan pentingnya legalitas organisasi, seperti pendaftaran ke bank, Kesbangpol, dan Dinas Sosial. Karena tidak mempuyai legalitas maka PERTUNI kurang mendapatkan pengakuan di Kabupaten Ngawi.

Titik balik terjadi dengan hadirnya program kesehatan mata I-SEE, dimana program ini dikembangkan dengan prinsip inklusif. Dalam implementasinya, program I-SEE bekerja sama dengan organisasi disabilitas salah satunya adalah PERTUNI. Sebagai mitra, PERTUNI medapatkan  pemberdayaan berupa peningkatan kapasitas dan pendampingan. Disability Inclusion Development (DID) merupakan pelatihan pertama yang diberikan kepada perwakilan PERTUNI untuk mempersiapkan organisasnya agar bisa berpartisipasi aktif dalam melakukan pelatihan pada layanan. Dalam pelathan DID ini terdapat materi tentang advokasi yang banyak mendorong agar organisasi disabilitas  menjadi organisasi yang berdaya. Untuk menjadi organisasi yang cukup diperhitungkan, maka secara internal organisasi juga harus kuat.

Ahmad Zainuddin dalam Kegiatan Program I-SEE di Kabupaten Ngawi

Rupanya pelatihan ini membuka wawasan PERTUNI tentang pentingnya legalitas organisasi. PERTUNI dan Tim I-SEE Kabupaten Ngawi kemudian berkolaborasi untuk mengupayakan legalitas PERTUNI. Dalam proses ini Tim I-SEE mendampingi PERTUNI mulai dari pembuatan dokumen dan penyerahan berkas ke bank, Kesbangpol, dan Dinas Sosial. Upaya ini membuahkan hasil positif.

Dampak bagi internal organisasi sangat dirasakan perubahannya bagi pengurus khususnya ketua. Wawasan Bapak Ahmad selaku ketua mulai terbuka sehingga beliau juga membuka komunikasi untuk penguatan jaringan baik dengan Dinas Sosial maupun organisasi penyandang disabilitas yang lainnya. Selain itu, perubahan juga mulai dilakukan dengan menyusun rencana kegiatan organisasi berupa sharing pengetahuan, perluasan keanggotaan yang saat ini terbatas pada 20 orang, maupun pendataan netra baru.

Sebulan setelah pendaftaran legalitas di Dinas Sosial, PERTUNI juga menerima bantuan bingkisan sembako untuk anggotanya. Bantuan ini menjadi bukti nyata bahwa PERTUNI juga diperhitungkan setelah mempunyai legalitas organisasi dalam mengakses sumber daya dan dukungan. Dinas Sosial juga menjadi lebih terbuka pada PERTUNI dengan memberi kesempatan untuk mengajukan proposal ketika menginisiasi kegiatan. Semoga upaya ini menjadi awal yang baik bagi PERTUNI untuk memperkuat internal organisasinya dan berdampak pada penguatan eksternal yang lebih baik. Harapan besar  upaya yang dilakukan PERTUNI Kabupaten Ngawi ini akan menginspirasi organisasi difabel lain untu berbenah sehingga keberadaannya akan diperhitungkan oleh pihak lain.

Penulis : Jayanti

Kepemimpinan Informal Sang Kader, Sebuah Transformasi Upaya Pengurangan Gangguan Penglihatan di Desa Pucanganom Kabupaten Madiun

Sosok Titik Ernawati (tengah dengan baju kuning) bersama dengan para kader di Desa Pucanganom

Pada bulan September 2024, di Desa Pucanganom, Kabupaten Madiun, dimulailah sebuah kegiatan skrining mata , yang merupakan bagian dari upaya deteksi dini gangguan penglihatan masyarakat. Kegiatan ini bukan hal baru, namun sebenarnya adalah sebuah kegiatan untuk penguatan program rutin yang telah ada di masyarakat, namun menjadi luar biasa berkat kiprah seorang koordinator kader bernama Titik Ernawati.

Titik memang bukan kader yang mengikuti pelatihan yang diadakan oleh program I-SEE (Inclusive System for Effective I Care), karena ibu yang rajin ini lebih mendahulukan anggotanya. Namun beliau mengikuti mendapatkan pelatihan mandiri dari kader yang sudah dilatih . Selain itu beliau juga mengikitui refresh kader yang dilakukan 6 bulan bulan setelah pelatihan kader sehingga materi tentang screening mata juga dikuasai.  Semangat seorang koordinator  semakin terpupuk dengan adanya 6 kader yang telah dilatih skrining mata pada bulan September yang lalu.  Selama mengikuti proses kegiatan kesehatan mata di Posyandu yang dilakukan oleh kader terlatih, Ibu yang energik ini juga banyak belajar dari berbagai tantangan. Beliau terus berpikir dan belajar, mimpi besarnya adalah mewujudkan Pucanganom bebas gangguan penglihatan.

Beliau bukan hanya menjembatani antara tim pelaksana dan masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan dan memotivasi kader lainnya. Keterlibatan aktifnya sangat terasa sejak program-program yang ada di desa pucanganom muncul. “Yang penting masyarakat paham dan merasa dekat dengan pelayanan. Kalau mereka merasa dilibatkan dan didengar, mereka akan datang dengan sendirinya,” ujar Titik dalam sebuah pertemuan kader.

Hasilnya nyata! Partisipasi warga dalam skrining mata di Posyandu mencapai 90%. Tidak hanya itu, Titik mampu memetakan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak untuk menjadi prioritas sasaran. Komunikasi antara kader, tenaga kesehatan, dan perangkat desa pun berjalan lebih lancar berkat pendekatan personal dan strategis yang ia lakukan.

Skrining mata dengan hitung jari, kegiatan yang dilakukan pada Omah Tamu Ngayomi

Salah satu inovasi yang lahir dari tangan dingin Titik adalah “Omah Tamu Ngayomi”, singkatan dari Omah Tes Mata Pucanganom Inklusi. Inovasi ini berupa titik-titik strategis di desa yang menyediakan media skrining mata mandiri. Warga bisa memeriksa matanya sendiri tanpa harus jauh-jauh ke fasilitas kesehatan. Ide ini muncul dari hasil advokasi Titik bersama pemerintah desa, yang kemudian dituangkan dalam SK resmi.

Tidak berhenti di sana, Titik juga mendorong lahirnya MoU antara pemerintah desa dan seluruh sekolah di wilayah Pucanganom. Isinya: setiap sekolah wajib memberikan dispensasi dan mendukung siswanya untuk datang ke Posyandu ILP guna mendapatkan semua layanan kesehatan salah satunya skrining mata. Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana kepemimpinan informal bisa berdampak besar pada kebijakan desa.

Tentu, tidak semua berjalan sempurna. Minimnya pelatihan teknis menyebabkan beberapa misskomunikasi di awal kegiatan, terutama dalam pengisian data dan pemahaman prosedur skrining. Namun semua kendala itu berhasil diatasi seiring waktu, berkat komunikasi terbuka dan semangat belajar bersama.

Dari pengalaman ini, kita belajar bahwa pelatihan dasar tetap penting untuk memastikan pemahaman teknis. Namun lebih dari itu, semangat, kepedulian, dan kepemimpinan informal seperti yang ditunjukkan oleh Titik Ernawati adalah elemen kunci yang mampu membawa perubahan besar di tingkat desa. Dengan dorongan yang tepat, peran kader seperti Titik bisa berkembang menjadi motor penggerak utama dalam transformasi layanan kesehatan masyarakat.

Titik berharap agar lebih banyak desa bisa menumbuhkan kader seperti dirinya, yang mau belajar, bergerak, dan memimpin tanpa harus menunggu jabatan formal. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan mata, tetapi juga merasa memiliki terhadap layanan kesehatan di desa mereka.

Penulis : Anjar Susilowati

Program I-SEE Bangun Sistem Rujukan Low Vision di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi

Dalam upaya memperkuat layanan kesehatan mata yang inklusif, Program I-SEE (Inclusive System for Effective Eye Care) bersama konsultan low vision melakukan kunjungan koordinasi ke RSUD Soeroto Ngawi, RSUD Caruban Madiun, dan RSU Bhakti Persada Magetan. Kegiatan ini bertujuan membangun komunikasi awal dalam membentuk sistem rujukan berjenjang untuk pasien low vision di Kabupaten Ngawi, Madiun, dan Magetan.

Kunjungan yang berlangsung secara estafet di masing-masing rumah sakit tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk dokter spesialis mata, refraktionis optisien (RO), manajemen rumah sakit, konsultan low vision Ibu Irene dari Yayasan Bhakti Luhur Malang, serta tim dari Dinas Kesehatan dan Yayasan Para Mitra Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Ibu Irene menekankan pentingnya kerja sama antara rumah sakit kabupaten dan rumah sakit tersier untuk menangani pasien low vision. “Karena jumlah rumah sakit yang membuka layanan low vision masih terbatas, rujukan ke layanan tersier menjadi sangat penting. Penulisan ‘suspek low vision’ dalam surat rujukan juga perlu dilakukan untuk memperjelas kondisi pasien,” ujarnya.

Diskusi berlangsung aktif dengan membahas kriteria diagnosis low vision, mekanisme rujukan pasien ke rumah sakit rujukan, seperti RS Mata Masyarakat Surabaya (RSMM) dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya, serta kebutuhan dukungan alat bantu seperti kacamata, kaca pembesar (magnifier), dan alat bantu lainnya.

Program I-SEE juga menekankan pentingnya pendampingan pada keluarga pasien agar semakin aware terhadap putra-putri mereka yang mengalami low vision. Hal ini diharapkan menjadi stimulan agar pasien dan keluarga lebih terdorong untuk mengakses layanan kesehatan mata di tingkat lanjut.

Diskusi juga membahas rencana koordinasi lebih lanjut, terutama untuk pasien low vision di usia sekolah, mengingat Program I-SEE memiliki fokus pada siswa SD dan SMP. Penanganan pasien disabilitas seperti down syndrome yang rentan mengalami gangguan penglihatan juga menjadi bagian dari pertemuan ini.

Penanganan pasien dengan disabilitas menjadi salah satu fokus penting, mengingat Program I-SEE telah melakukan pelatihan bagi guru-guru SLB. Harapannya dokter spesialis mata di rumah sakit dapat memberikan pelayanan yang lebih inklusif kepada pasien disabilitas.

Kegiatan ini ditutup dengan kesepakatan untuk mempererat koordinasi antara Program I-SEE dan rumah sakit kabupaten. Kedua belah pihak berharap langkah ini akan membuka jalan bagi terbentuknya layanan kesehatan mata yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi.