Paramitra Semakin Merasa Sempurna dengan Memasukkan Issu Diffabel Pada Rencana Strategis Organisasi (RENSTRA)

Paramitra Semakin Merasa Sempurna dengan Memasukkan Issu Diffabel Pada Rencana Strategis Organisasi (RENSTRA)

Apresiasi bagi seluruf staff Paramitra yang telah bekerja dan berupaya untuk masuk pada issu diffabel. Program I-SEE bersama ANCP (Australian Goverment NGO Corporation) di Indonesia atas dukungan DFAT (Australian Goverment Departement of Foreign Affair and Trade) merupakan salah satu pendorong dan memberika inspirasi bagi kami untuk mengenal lebih jauh sekaligus mendalami issu difabel. Semenjak kami bekerja sama dengan CBM dalam program kesehatan mata yang inklusif maka kami banyak berkolaborasi dengan organisasi disabilitas baik daksa, netra maupun tuli bisu.

Banyak hal yang diperoleh dengan bersinergi dengan kawan-kawan difabel. Kawan-kawan difabelah yang banyak mengetuk hati kami tentang sebuah kepedulian dan kemanusiaan. Untuk itu kami segenap staf Paramitra mencoba menginternalisasi dengan memasukkan isu difabel menjadi  isu penting dalam pengembangan program kami ke depan. Hal ini kami wujudkan dalam penyusunan RENSTRA 2021-2025 yang secara eksplisit menyatakan bahwa dalam mengembangkan semua program berwawasan inklusif berperspektif perempuan, anak & orang dewasa risti dan lingkungan.

Demikian juga dalam SOP HRD juga dinyatakan dengan jelas bahwa yang dimaksud dengan staf adalah semua orang baik difabel maupun non difabel sehingga ada perubahan besar dalam metode rekrutmen maupun dalam penyelenggaraan event dimana sebelumnya tidak pernah kami perhitungkan. Seluruf staff juga sudah kami latih tentang DID dan bagaimana beretika dengan kawan-kawan difabel. Demikian juga dalam aksesibilitas kami mulai melakukan beberapa penyesuaian walaupun belum semuanya.

Sejalan dengan hal tersebut kami menyampaikan banyak terima kasih pada CBM dan Pemerintah Australia yang telah banyak mensupport dan melakukan dukungan pada Paramitra baik berupa peningkatan kapasitas internal staf maupun beberapa pelatihan untuk komunitas DPO, sosialisasi hak-hak diffabel bagi masyarakat maupun penyesuaian aksesibilitas bagi kantor paramitra maupun layanan terpilih di Kabupten Tuban dan Probolinggo. Berkat dorongan tersebut kami bisa banyak bersinergi dengan komunitas diffable.

Dari proses tersebut juga membawa kami lebih jauh untuk berupaya melakukan proses-proses penguatan sesuai dengan kapasitas kami pada kawan-kawan diffabel. Harapan besar yang menjadi mimpi kami ke depan yang kami awali dengan meletakkan issu difabel pada RENSTRA dan SOP kami nantinya akan bisa menggawangi dalam semua program yang kami kembangkan.

Guiding Blok dari pintu masuk Guest House

Penyesuaian Bidang Miring

Guiding Blok menuju kantor

Pelatihan DID untuk All Staf

Penyamaan Perspektif, Paramitra adakan Refresh CEN (Community Eye Nurse) Batch 1 di Kabupaten Probolinggo

Community Eye Nurse ( CEN ) atau Perawat Mata Masyarakat merupakan komponen yang sangat penting dalam mewujudkan Sistem Kesehatan Mata yang Komprehensif dan Inklusif. Untuk memperkuat kapasitas CEN bath 1 yang dilatih sejak tahun 2018 maka diadakan refresh kapasitas sesuai dengan kebutuhan berdasarkan tantangan di lapangan. Kondisi tersebut mendorong paramitra mengadakan pengembangan materi refresh berdasarkan assesmen kebutuhan CEN sehingga  materi refresh benar-benar sesuai kebutuhan.

Refresh yang dimulai sejak jam 09.00 – 15.30 WIB di kota Probolinggo berjalan sangat partisipatif sehingga banyak informasi yang bisa digali dari komunikasi baik dengan narasumber yang berasal dari Dinkes, dokter spesialis mata maupun dengan dokter Mia selaku pemateri advokasi. Refresh yang sejatinya sebagai sarana untuk mencari informasi dan solusi sebagai langkah meningtkatkan pelayanan kesehatan mata bagi CEN ini disambut baik oleh ketua KOMATDA (Komisi Mata Daerah) “Banyak hal yang bisa dilakukan kawan-kawan CEN untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan mata pada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan yang notabane merupakan jangkauan dari proyek I-SEE, harus bisa lebih ditingkatkan lagi” demikian kata dokter Mia.

Jangkauan proyek I-SEE bersama ANCP (Australian Goverment NGO Corporation) di Indonesia atas dukungan DFAT (Australian Goverment Departement of Foreign Affair and Trade) di masa pandemi ini membuat tantangan tersendiri bagi para CEN untuk mendapatkan data yang sama seperti sebelumnya. Sejalan dengan hal tersebut, maka “untuk menunjang sistem pelayanan yang aksesibel maka pihak dinkes selalu memperbaharui atau mengupdate sistem Spreadsheet guna untuk mempermudah teman-teman CEN dalam memperbaharui data yang akan diisikan” ujar Bu Nia.

Kegiatan yang berjalan dengan mewadahi semua informasi terkait kondisi lapangan dari masing-masing CEN kab. Probolinggo menghasilkan beberapa hal mengenai perkembangan penajaman aspek data, membahas issue calo serta penataan advokasi Bersama. Aspek lain yang turut dibahas dalam kegiatan refresh ini adalah penguatan posisioning CEN di Puskesmas dalam program kesehatan mata termasuk didalamya mekanisme pelaporan, advokasi bail internal maupun eksternal dan seputar konten kesehatan mata : mitos, isu penglihatan alternative, kaca mata ion, glaucoma.

#paramitra
#paramitrafoundation
#yayasanparamitra
#iseetubanprobolinggo
#paramitracbm
#PartnershipsForRecovery
#AustralianAid
#ANCP

Kembalinya ASA Bu Suhairi Setelah Terbebas Dari Katarak

Wajah sumringah terpancar dari wajah bu Suhairi karena sudah bisa bekerja kembali mencari nafkah untuk menyambung hidupnya. Kembali bekerjanya bu Suhairi merupakan keberhasilan operasi katarak bulan Maret 2021 di RS Wonolangan Kabupaten Probolinggo yang di support oleh program I-SEE bersama ANCP (Australian Goverment NGO Corporation) di Indonesia atas dukungan DFAT (Australian Goverment Departement of Foreign Affair and Trade).

Bu Suhairi tinggal di dusun Cengkelek, Desa Wangkal, Kec. Wangkal, Kab Probolinggo. Perempuan berusia 56 tahun tersebut tinggal seorang diri semenjak suaminya meninggal 2 tahun lalu. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia bekerja sebagai buruh ngasak (mencari padi dari sisa sawah yang telah dipanen). Hidup sebatang kara karena tidak memiliki anak dan harus mengalami kebutaan sekitar 9 tahun yang lalu membuat hidupnya semakin kesulitan. Sejatinya bu Suhairi pernah memeriksakan matanya ke RS Waluya Jati dan dinyatakan katarak, tetapi karena tidak mampu untuk melakukan operasi maka bu Suhairi menerima nasibnya dengan penuh kepasrahan. Lantas bagaimana bu Suhairi bisa tahu persawahan yang telah dipanen ? tentunya dengan kepedulian para tetanggalah bu Suhairi mengetahui sawah-sawah yang bisa diasak padinya. Dengan semangat ia pergi bekerja ke sawah menggunakan tongkat yang mengakibatkan ia sering terjatuh.

Setelah beliau dapat melihat kembali, rasa syukur yang tak terhingga dan ucapan terima kasih berkali-kali digumamkan bu Suhairi karena hal yang tidak pernah diimpikan dalam hidupnya bisa menjadi kenyataan. Selain bisa kembali melihat beliau juga bisa bekerja dengan aman dan tidak terjatuh lagi serta tidak tergantung pada saudara maupun tetangga. Dari apa yang dirasakan ini bu Suhairi mencoba untuk berpesan pada siapapun yang mengalami katarak seperti dirinya untuk segera melakukan operasi apalagi yang sudah mempunyai BPJS karena dengan operasi maka mata bisa melihat kembali dan bisa kembali bekerja dan tidak tergantung pada siapapun.

#paramitra
#paramitrafoundation
#yayasanparamitra
#iseetubanprobolinggo
#paramitracbm
#PartnershipsForRecovery
#AustralianAid
#ANCP