Program I-SEE Dorong Kolaborasi Strategis dalam Muscab PERTUNI Magetan

Musyawarah Cabang PERTUNI Kabupaten Magetan

Magetan – Program I-SEE Kabupaten Magetan menunjukkan partisipasi aktif dalam kegiatan penguatan jejaring Organisasi Penyandang Disabilitas (Opdis). Hal ini terbukti melalui kehadiran tim di Musyawarah Cabang (Muscab) ke-IX Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI) Kabupaten Magetan pada Rabu, 23 April 2025, di Gedung Karang Taruna Magetan.

Erna Kusuma Sari, Koordinator Wilayah Program I-SEE Kabupaten Magetan, hadir dan berperan aktif sebagai sekretaris sidang dalam forum tersebut. Ia turut memastikan jalannya sidang berlangsung efektif, termasuk menyampaikan Rancangan Tata Tertib Sidang, memfasilitasi diskusi program kerja, dan menjaga partisipasi peserta melalui absensi di setiap sesi. Kehadiran ini bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari upaya memperkuat sinergi antara Program I-SEE dengan organisasi penyandang disabilitas dalam membangun layanan kesehatan mata yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, Erna mewakili Tim I-SEE Kabupaten Magetan turut menyampaikan beberapa usulan strategis untuk dimasukkan ke dalam program kerja PERTUNI periode 2025–2030. Usulan tersebut mencerminkan semangat pemberdayaan berbasis komunitas, yaitu: (1) melakukan kunjungan rumah kepada netra baru guna memperkuat dukungan psikososial awal, (2) menginisiasi sistem rujukan rehabilitasi sosial yang berpusat pada organisasi PERTUNI sebagai penggerak layanan, dan (3) membangun kerja sama dengan mitra untuk memperluas akses layanan kesehatan yang inklusif dan ramah disabilitas.

Partisipasi ini sejalan dengan pendekatan program I-SEE yang menempatkan PERTUNI Magetan sebagai aktor kunci dalam perencanaan dan advokasi layanan kesehatan mata inklusif. Kehadiran Program I-SEE dalam Muscab PERTUNI Magetan diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan kerja sama, tetapi juga menandai babak baru kolaborasi dalam membangun sistem kesehatan mata yang inklusif, adil, dan berkelanjutan di Kabupaten Magetan.

Lowongan Pekerjaan Fasilitator Ngawi

Halo, sobat YPM~

Saat ini, Yayasan PARA MITRA Indonesia sedang membuka pekerjaan untuk 1 orang (termasuk disabiltas) yang diposisikan sebagai fasilitator pada program kesehatan mata di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Persyaratan:

  • Diutamakan berdomisili di wilayah Ngawi
  • Memiliki pengalaman pada pemberdayaan masyarakat (poin plus pada kesehatan dan LSM)
  • Minimal pendidikan SMA/se-derajat
  • Laki-laki/perempuan usia maksimal 40 tahun
  • Mampu berkomunikasi dengan baik
  • Berdedikasi tinggi dan siap bekerja di bawah tekanan
  • Memiliki kendaraan bermotor dan SIM C
  • Tidak pernah dalam kasus kekerasan dan pelecehan pada perempuan dan anak-anak


Jika Anda memenuhi persyaratan di atas dan tertarik untuk bergabung, segera kirimkan surat lamaran, CV, dan data diri ke surel ypm@paramitra.or.id (online).  Lowongan ini berlaku mulai 6 hingga 10 Maret 2025.

Informasi selengkapnya hubungi 0812 5296 2027 (Marsudi).

Sebarkan informasi baik ini untuk kawan-kawan yang membutuhkannya.

Komatda Probolinggo Gelar Operasi Katarak Gratis: 70 Pasien Terbantu Berkat Kolaborasi dengan PT Jawa Power dan Paiton Energy

Komite Mata Daerah (Komatda) Kabupaten Probolinggo kembali menunjukkan kiprahnya sebagai entitas yang peduli terhadap persoalan gangguan penglihatan. Komatda menjalin kerjasama dengan  PT Jawa Power dan Paiton Energy berhasil melakukan baksos operasi katarak. Sebanyak 70 pasien katarak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menjalani operasi mata katarak gratis di RS Rizani.

Perkuat Program I-SEE di Kabupaten Ngawi, Yayasan Para Mitra Indonesia dan CBM Global Gelar Pertemuan Stakeholder

Foto Bersama Pertemuan Stakeholder Kabupaten Ngawi (16/01/2025)

Ngawi, 18 Januari 2025- Yayasan Para Mitra Indonesia dan CBM Global yang bekerja sama dalam program I-SEE kembali menggelar pertemuan stakeholder di Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini dirancang dengan tujuan untuk memahami perkembangan program, sekaligus memberikan masukan dengan dinamika kesehatan mata di Kabupaten Ngawi. Pertemuan stakeholder program I-SEE digelar di Gedung Pendataan Pemerintah Daerah Ngawi pada 16 Januari 2024.

Dalam sambutannya, Direktur Para Mitra, Asiah Sugianti, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah atas fasilitas yang disediakan. “Program I-SEE tidak hanya fokus pada kesehatan mata, tetapi juga peduli terhadap kawan-kawan disabilitas. Ini adalah program kesehatan mata yang inklusif,” ujarnya.

Beliau juga mengumumkan bahwa pertemuan ini akan rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali dan disertai dengan kunjungan lapangan untuk meninjau implementasi program secara langsung. “Kami berharap program ini menjadi milik bersama dan dapat diadopsi oleh Pemerintah Daerah di masa mendatang,” tambahnya.

Sambutan oleh Asisten 1, Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Asisten 1), Hadi Suroso, mengapresiasi upaya Yayasan Para Mitra Indonesia dalam mendukung tugas-tugas Pemerintah Daerah, khususnya dalam mencegah kebutaan. Beliau juga menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan pada siswa untuk mendukung proses belajar mengajar. “Pengalaman saya sejak SD sudah mengalami gangguan penglihatan, dan baru terbantu dengan kacamata saat SMP. Oleh karena itu, kolaborasi semua stakeholder sangat diperlukan untuk mencegah keterlambatan penanganan,” jelasnya.

Perkuat Komitmen Terhadap Kesehatan Mata Inklusif di Kabupaten Madiun, Yayasan Para Mitra Gelar Pertemuan Stakeholder

Madiun, 16 Januari 2024– Dalam rangka meningkatkan kolaborasi terkait perkembangan dan rencana kerja Program I-SEE, pertemuan stakeholder yang dilakukan oleh Yayasan Para Mitra Indonesia dan CBM Global kembali digelar di Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 14 Januari 2025 di Gedung Graha Praja Mukti, Pemerintah Kabupaten Madiun.

Pertemuan stakeholder merupakan bagian penting dari keberlanjutan program I-SEE yang bertujuan agar para pemangku kepentingan kabupaten dapat mengetahui perkembangan program tahun 2024 sekaligus memberikan masukan sesuai dengan perannya masing-masing. Selain itu, pertemuan ini juga menjadi ajang untuk menyampaikan rencana kerja program tahun 2025.

Acara diawali dengan sambutan dari Asiah Sugianti, direktur Yayasan Para Mitra Indonesia. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan Program I-SEE yang telah berjalan selama 9 bulan di Kabupaten Madiun.

“Ini adalah pertemuan kedua yang diadakan di tingkat Pemda, setelah sebelumnya dilakukan saat peluncuran program sekitar bulan Juni 2024. Pertemuan ini diadakan setiap enam bulan sekali untuk memonitor perkembangan program dan memberikan kesempatan kepada stakeholder untuk memberikan masukan demi perbaikan program di wilayah Kabupaten Madiun,” ujar Asiah.

Asiah juga mengungkapkan harapannya agar program ini mampu memperkuat sistem kesehatan di Kabupaten Madiun meskipun isu kesehatan mata belum menjadi prioritas utama. “Dengan kondisi Indonesia yang masih menjadi peringkat pertama di Asia Tenggara terkait angka kebutaan, serta Jawa Timur yang menduduki peringkat kedua di Indonesia, kami berharap program ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan sistem yang lebih baik,” tambahnya.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda, Soedjiono, dalam sambutannya mengapresiasi program I-SEE sebagai langkah penting dalam penanganan isu kesehatan mata di daerah. “Penglihatan adalah salah satu aspek yang sangat vital dalam kehidupan. Oleh karena itu, meskipun saat ini program kesehatan mata belum menjadi prioritas, seharusnya program ini dapat didorong menjadi perhatian utama pemerintah,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan di Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. “Harapan kami, para nakes dapat menjalankan tugasnya secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan. Dengan demikian, pelayanan kesehatan tidak hanya terpusat di rumah sakit, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat Puskesmas,” jelasnya. Pada pertemuan ini, para stakeholder diundang untuk memberikan ide dan masukan yang konstruktif demi kemajuan program di masa mendatang. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah daerah, Yayasan Para Mitra, CBM Global, dan para pemangku kepentingan lainnya, diharapkan Program I-SEE dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Madiun dan menjadi contoh penguatan sistem kesehatan mata di Indonesia

Yayasan Para Mitra Indonesia Dorong Inovasi Desa Sehat Mata Inklusif Gulun di Magetan

Peluncuran Gerakan Gulun Sehat Mata Inklusif (GEMATI) di Balai Desa Gulun (19/12/2024)

Magetan – Yayasan Para Mitra Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui peluncuran program Desa Sehat Mata Inklusif, yang dikenal dengan Gerakan Gulun Sehat Mata Inklusif (GEMATI). Kegiatan peluncuran Desa Sehat Mata ini dilakukan di Desa Gulun, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan pada Sabtu, 19 Desember 2024. Program ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang kesehatan mata serta membantu penderita kebutaan, terutama akibat katarak.

Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil dari pelatihan kader mata yang telah dilakukan sebelumnya. “Desa Sehat Mata adalah implementasi nyata dari pelatihan kader mata, baik yang berasal dari kalangan dewasa maupun remaja. Kami senang program ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Desa Gulun dan berbagai pihak lainnya,” ujar Asiah.

Asiah juga memberikan apresiasi kepada para kader mata sehat, perangkat desa, dan tokoh masyarakat yang telah bekerja keras untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan kebutaan akibat katarak. “Kami mendorong masyarakat yang telah mengalami kebutaan agar mau menjalani operasi sehingga dapat kembali melihat dan menjalani aktivitas seperti semula. Komitmen ini adalah kunci keberhasilan program GEMATI,” tambahnya.

Dalam peluncuran program yang dihadiri oleh Puskesmas, Polsek, Koramil, serta Yayasan Para Mitra Indonesia Jawa Timur ini, Asiah menegaskan pentingnya sinergi antara berbagai pihak untuk mewujudkan Desa Sehat Mata yang inklusif.

Sebagai bentuk dukungan, Yayasan Para Mitra Indonesia juga memfasilitasi pelatihan bagi sedikitnya 100 kader PKK yang akan terlibat dalam edukasi kesehatan mata di desa. Pelatihan dilakukan dengan menggunakan metode hitung jari, sehingga para kader dapat memberikan pendampingan yang efektif kepada masyarakat terkait katarak.

“Kami memastikan bahwa setiap kasus masalah mata di desa ini akan tercatat secara sistematis. Jika ada warga dengan disabilitas, mereka juga akan terdaftar dan mendapatkan perhatian khusus. Dengan pendekatan ini, kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mata dan memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan,” jelas Asiah.

Melalui inisiatif ini, Yayasan Para Mitra Indonesia berharap Desa Gulun dapat menjadi contoh sukses bagi desa lain dalam mengintegrasikan program kesehatan mata inklusif ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dengan program GEMATI, Yayasan Para Mitra Indonesia yang didukung penuh oleh CBM Global sekali lagi menunjukkan perannya sebagai mitra strategis dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

Pelatihan Jurnalis untuk Mendukung Kesehatan Mata Inklusif di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi

Pemaparan Materi Pelatihan Jurnalis di Hotel Setia Budi, Kota Madiun (24/12/2024)

Madiun – Dalam upaya mendukung program penguatan sistem layanan kesehatan mata yang efektif (I-SEE), Yayasan Para Mitra Indonesia menggelar pelatihan bagi para jurnalis pada Rabu, 18 Desember 2024. Pelatihan ini bertempat di Hotel Setia Budi, Madiun, dan bertujuan meningkatkan pemahaman jurnalis mengenai pentingnya kesehatan mata inklusi disabilitas.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program I-SEE, yang telah berjalan sejak April 2024 dengan tujuan memperkenalkan konsep perawatan mata inklusif bagi masyarakat termasuk pelibatan kawan-kawan disabilitas Program ini dilaksanakan oleh Yayasan Para Mitra Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat serta berbagai organisasi pemerintah daerah di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi.

Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, menekankan pentingnya peran media dalam mendukung kesehatan mata inklusif. “Dengan adanya pelatihan ini, kami berharap para jurnalis dapat menjadi agen perubahan yang mendukung program-program kesehatan yang inklusif dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan jurnalis dari berbagai media massa di Kabupaten Madiun. Tujuannya adalah menghasilkan pemberitaan yang lebih inklusif dan edukatif, sekaligus mendukung perencanaan program kesehatan daerah. Menurut Asiah, menjaga kesehatan mata harus dilakukan dengan kepedulian dan keberpihakan kepada penyandang disabilitas netra. “Kami ingin meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat sumber daya layanan, hingga memperbaiki kebijakan dan sistem data terkait layanan kesehatan mata. Semua ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk jurnalis,” tambahnya.

Dalam pelatihan ini, dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Lutfi Amirudin, mengemukakan pentingnya pemilihan kata dan diksi yang tepat dalam pemberitaan. Menurutnya, wartawan memiliki peran besar dalam mengubah stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas. “Kata-kata seperti ‘cacat’, ‘abnormal’, ‘anak spesial’, atau ‘tuna rungu’ sering kali memperburuk stigma. wartawan perlu membiasakan pemakaian diksi yang menghormati hak penyandang disabilitas,” ujarnya.

Lutfi menambahkan bahwa hingga saat ini, jurnalis dan Dewan Pers belum intensif diajak berdialog untuk menciptakan pola pemberitaan yang berdampak positif bagi penyandang disabilitas. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi langkah awal yang penting untuk memulai perubahan tersebut.

Melalui kolaborasi antara media massa, pemerintah daerah, dan masyarakat, pelatihan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam menciptakan sistem perawatan mata yang inklusif dan efektif. Langkah konkret seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta memperkuat kebijakan kesehatan daerah yang berpihak pada penyandang disabilitas.

“Kami percaya bahwa media memiliki kekuatan besar untuk mengedukasi masyarakat dan mendorong perubahan,” tutup Asiah Sugianti. Dengan dukungan semua pihak, upaya menciptakan layanan kesehatan mata yang inklusif dapat segera terwujud.

Puncak World Sight Day 2024: Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Mata di Kabupaten Ngawi

Suasana Edukasi Kesehatan Mata di MTSn 1 Ngawi
Sumber: Dokumentasi Tim I-SEE Kabupaten Ngawi 2024

Dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) 2024, Tim I-SEE Kabupaten Ngawi menggelar berbagai rangkaian kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Salah satu kegiatan utama berlangsung pada 8 Desember 2024 di Alun-Alun Kabupaten Ngawi, bertepatan dengan Car Free Day (CFD). Kegiatan skrining dan pemeriksaan mata ini melibatkan kolaborasi antara tenaga kesehatan dari Puskesmas Kabupaten Ngawi, guru, serta kader kesehatan.

Skrining Mata Sederhana oleh Kader untuk Warga Ngawi di CFD

Antusiasme masyarakat Ngawi sangat tinggi, terlihat dari banyaknya warga yang mengunjungi stand pemeriksaan mata. Total sekitar 250 orang mengikuti skrining mata, dan beberapa di antaranya mendapatkan kacamata baca (plus) untuk membantu penglihatan mereka.

Selain di Alun-Alun, kegiatan juga dilanjutkan di MTsN 1 Ngawi. Acara ini mencakup berbagai aktivitas seperti sosialisasi edukasi kesehatan mata yang disampaikan oleh dokter Puskesmas, pelatihan skrining kesehatan mata untuk kader UKS yang dipandu oleh petugas PJ Indera dari Puskesmas, serta skrining penglihatan siswa menggunakan e-chart yang dilakukan oleh kader UKS dengan pendampingan guru dan PJ UKS. Untuk menambah semarak suasana, diadakan juga lomba yel-yel yang melibatkan siswa. Dari total 465 siswa yang mengikuti skrining, ditemukan 60 siswa mengalami gangguan penglihatan. Lebih lanjut, siswa tersebut akan dirujuk ke puskesmas untuk mendapat penanganan. 

Mata Sehat, Generasi Hebat: SMPN 1 Saradan Siapkan Siswa Jadi Pahlawan Kesehatan Mata!

Tim I-SEE Kabupaten Madiun lakukan sosialisasi pentingnya menjaga kesehatan mata, Jumat (15/11/2024). (TIM I-SEE/Sulaiman)

Madiun, 25 November 2024 –SMP Negeri 1 Saradan melaksanakan kegiatan sosialisasi kesehatan mata bagi siswa kelas 7, 8, dan 9 pada Jumat, 15 November 2024. Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin “pembiasaan siswa” yang diadakan setiap hari Jumat oleh pihak sekolah. Dalam program ini, siswa mengikuti berbagai aktivitas seperti mengaji bersama, makan bersama, serta gerakan minum tablet tambah darah (TTD).

Uniknya, sejak sekolah ini memiliki guru terlatih dalam program Inclusive System for Effective Eyes-care (I-SEE), agenda pemeriksaan kesehatan mata turut dimasukkan. Pemeriksaan dilakukan oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR) sekolah, dengan harapan siswa dapat saling membantu melalui skrining kesehatan mata sederhana.

Pada kesempatan tersebut, Tim I-SEE Yayasan Para Mitra Indonesia, Kabupaten Madiun, diundang untuk berpartisipasi dan memberikan edukasi langsung kepada para siswa. Materi yang disampaikan mencakup profil Yayasan Para Mitra, situasi kesehatan mata global, nasional, dan lokal, serta pengetahuan tentang gangguan penglihatan pada anak.

Salah satu fokus utama edukasi adalah pentingnya pengelolaan waktu penggunaan gawai. Tim I-SEE memperkenalkan metode “20-20-20”, yaitu mengalihkan pandangan setiap 20 menit, selama 20 detik, dengan jarak sekitar 20 kaki (6 meter). Metode ini diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan mata siswa di tengah tingginya penggunaan perangkat digital.

Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mata sejak dini, sejalan dengan upaya menciptakan generasi muda yang sehat dan produktif. Pihak sekolah dan Yayasan Para Mitra Indonesia berharap, melalui kolaborasi ini, siswa semakin peduli terhadap pentingnya kesehatan mata dalam mendukung kegiatan belajar mereka.

Pelatihan Kader di Kabupaten Madiun: Meningkatkan Kualitas Kesehatan Mata Masyarakat

Foto bersama Pelatihan Kader Kesehatan Program I-SEE di Wilayah Kerja Puskesmas Kare

Madiun, 24 September 2024 – Pelatihan kader di Kabupaten Madiun menjadi langkah strategis dalam program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE), hasil kerja sama Yayasan PARA MITRA dengan CBM Global Indonesia. Pelatihan ini bertahap dilaksanakan sejak 6 September 2024 dan diikuti oleh 159 kader kesehatan dari berbagai puskesmas di Kabupaten Madiun.

Kegiatan pelatihan kader berlangsung di aula pertemuan Puskesmas masing-masing wilayah kerja, dimulai dari Puskesmas Klagenserut pada 6 September, dilanjutkan dengan Puskesmas Krebet (14 September), Puskesmas Jetis dan Puskesmas Pilangkenceng (18 September), Puskesmas Geger (19-20 September), Puskesmas Wungu (19 September), dan terakhir di Puskesmas Kare pada 23 September 2024.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini meliputi pengenalan penyakit mata yang umum di masyarakat, edukasi kesehatan mata, deteksi dini gangguan penglihatan seperti skrining katarak menggunakan metode hitung jari, pengenalan proyek I-SEE, hingga teknik pencatatan dan pelaporan yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

Praktik Edukasi Kesehatan dan Deteksi Dini

Suasana pelatihan berjalan interaktif, dengan para peserta aktif berpartisipasi. M. Sulaiman, Koordinator Wilayah I-SEE Madiun, menyampaikan bahwa para kader kesehatan memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat. “Kami berharap pelatihan ini dapat mendukung implementasi program kesehatan mata di puskesmas. Selain itu, kami juga berharap para kader mampu membagikan ilmu yang mereka peroleh kepada kader lainnya, sehingga kapasitas mereka dalam memberikan edukasi dan melakukan pemeriksaan mata terus meningkat,” ujar Sulaiman.

Pelatihan ini sangat penting mengingat program I-SEE masih baru bagi para kader. Oleh karena itu, pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh akan membantu kader dalam melakukan sosialisasi dan pemeriksaan mata, baik di posyandu maupun dalam kunjungan rumah.

Lebih lanjut, Sulaiman berharap para kader mampu mengaplikasikan hasil pelatihan di desa mereka masing-masing, melakukan pencatatan dan pelaporan secara tepat ke puskesmas, serta mendorong peningkatan kunjungan pasien ke layanan kesehatan mata. “Kami optimistis pelatihan ini akan membantu menurunkan angka kebutaan di masyarakat,” tambahnya.

Setelah pelatihan, para kader langsung menjalankan tugas mereka. Misalnya, di Posyandu Lansia Desa Muneng (wilayah kerja Puskesmas Pilang Kenceng), kader melakukan pemeriksaan mata kepada 17 orang. Sementara di Desa Purworejo (wilayah kerja Puskesmas Krebet), pemeriksaan dilakukan terhadap 25 peserta, di mana satu orang terdeteksi mengalami gangguan penglihatan dan dirujuk ke Puskesmas Krebet untuk penanganan lebih lanjut.

Melalui pelatihan ini, diharapkan kualitas hidup masyarakat dalam hal kesehatan mata semakin meningkat, dan para kader dapat terus berperan aktif dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mata di komunitas mereka.