Madiun, 16 Januari 2024– Dalam rangka meningkatkan kolaborasi terkait perkembangan dan rencana kerja Program I-SEE, pertemuan stakeholder yang dilakukan oleh Yayasan Para Mitra Indonesia dan CBM Global kembali digelar di Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 14 Januari 2025 di Gedung Graha Praja Mukti, Pemerintah Kabupaten Madiun.
Pertemuan stakeholder merupakan bagian penting dari keberlanjutan program I-SEE yang bertujuan agar para pemangku kepentingan kabupaten dapat mengetahui perkembangan program tahun 2024 sekaligus memberikan masukan sesuai dengan perannya masing-masing. Selain itu, pertemuan ini juga menjadi ajang untuk menyampaikan rencana kerja program tahun 2025.
Acara diawali dengan sambutan dari Asiah Sugianti, direktur Yayasan Para Mitra Indonesia. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan Program I-SEE yang telah berjalan selama 9 bulan di Kabupaten Madiun.
“Ini adalah pertemuan kedua yang diadakan di tingkat Pemda, setelah sebelumnya dilakukan saat peluncuran program sekitar bulan Juni 2024. Pertemuan ini diadakan setiap enam bulan sekali untuk memonitor perkembangan program dan memberikan kesempatan kepada stakeholder untuk memberikan masukan demi perbaikan program di wilayah Kabupaten Madiun,” ujar Asiah.
Asiah juga mengungkapkan harapannya agar program ini mampu memperkuat sistem kesehatan di Kabupaten Madiun meskipun isu kesehatan mata belum menjadi prioritas utama. “Dengan kondisi Indonesia yang masih menjadi peringkat pertama di Asia Tenggara terkait angka kebutaan, serta Jawa Timur yang menduduki peringkat kedua di Indonesia, kami berharap program ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan sistem yang lebih baik,” tambahnya.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda, Soedjiono, dalam sambutannya mengapresiasi program I-SEE sebagai langkah penting dalam penanganan isu kesehatan mata di daerah. “Penglihatan adalah salah satu aspek yang sangat vital dalam kehidupan. Oleh karena itu, meskipun saat ini program kesehatan mata belum menjadi prioritas, seharusnya program ini dapat didorong menjadi perhatian utama pemerintah,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan di Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. “Harapan kami, para nakes dapat menjalankan tugasnya secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan. Dengan demikian, pelayanan kesehatan tidak hanya terpusat di rumah sakit, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat Puskesmas,” jelasnya. Pada pertemuan ini, para stakeholder diundang untuk memberikan ide dan masukan yang konstruktif demi kemajuan program di masa mendatang. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah daerah, Yayasan Para Mitra, CBM Global, dan para pemangku kepentingan lainnya, diharapkan Program I-SEE dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Madiun dan menjadi contoh penguatan sistem kesehatan mata di Indonesia
Peluncuran Gerakan Gulun Sehat Mata Inklusif (GEMATI) di Balai Desa Gulun (19/12/2024)
Magetan – Yayasan Para Mitra Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui peluncuran program Desa Sehat Mata Inklusif, yang dikenal dengan Gerakan Gulun Sehat Mata Inklusif (GEMATI). Kegiatan peluncuran Desa Sehat Mata ini dilakukan di Desa Gulun, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan pada Sabtu, 19 Desember 2024. Program ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang kesehatan mata serta membantu penderita kebutaan, terutama akibat katarak.
Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil dari pelatihan kader mata yang telah dilakukan sebelumnya. “Desa Sehat Mata adalah implementasi nyata dari pelatihan kader mata, baik yang berasal dari kalangan dewasa maupun remaja. Kami senang program ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Desa Gulun dan berbagai pihak lainnya,” ujar Asiah.
Asiah juga memberikan apresiasi kepada para kader mata sehat, perangkat desa, dan tokoh masyarakat yang telah bekerja keras untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan kebutaan akibat katarak. “Kami mendorong masyarakat yang telah mengalami kebutaan agar mau menjalani operasi sehingga dapat kembali melihat dan menjalani aktivitas seperti semula. Komitmen ini adalah kunci keberhasilan program GEMATI,” tambahnya.
Dalam peluncuran program yang dihadiri oleh Puskesmas, Polsek, Koramil, serta Yayasan Para Mitra Indonesia Jawa Timur ini, Asiah menegaskan pentingnya sinergi antara berbagai pihak untuk mewujudkan Desa Sehat Mata yang inklusif.
Sebagai bentuk dukungan, Yayasan Para Mitra Indonesia juga memfasilitasi pelatihan bagi sedikitnya 100 kader PKK yang akan terlibat dalam edukasi kesehatan mata di desa. Pelatihan dilakukan dengan menggunakan metode hitung jari, sehingga para kader dapat memberikan pendampingan yang efektif kepada masyarakat terkait katarak.
“Kami memastikan bahwa setiap kasus masalah mata di desa ini akan tercatat secara sistematis. Jika ada warga dengan disabilitas, mereka juga akan terdaftar dan mendapatkan perhatian khusus. Dengan pendekatan ini, kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mata dan memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan,” jelas Asiah.
Melalui inisiatif ini, Yayasan Para Mitra Indonesia berharap Desa Gulun dapat menjadi contoh sukses bagi desa lain dalam mengintegrasikan program kesehatan mata inklusif ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dengan program GEMATI, Yayasan Para Mitra Indonesia yang didukung penuh oleh CBM Global sekali lagi menunjukkan perannya sebagai mitra strategis dalam pembangunan kesehatan masyarakat.
Pemaparan Materi Pelatihan Jurnalis di Hotel Setia Budi, Kota Madiun (24/12/2024)
Madiun – Dalam upaya mendukung program penguatan sistem layanan kesehatan mata yang efektif (I-SEE), Yayasan Para Mitra Indonesia menggelar pelatihan bagi para jurnalis pada Rabu, 18 Desember 2024. Pelatihan ini bertempat di Hotel Setia Budi, Madiun, dan bertujuan meningkatkan pemahaman jurnalis mengenai pentingnya kesehatan mata inklusi disabilitas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program I-SEE, yang telah berjalan sejak April 2024 dengan tujuan memperkenalkan konsep perawatan mata inklusif bagi masyarakat termasuk pelibatan kawan-kawan disabilitas Program ini dilaksanakan oleh Yayasan Para Mitra Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat serta berbagai organisasi pemerintah daerah di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi.
Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, menekankan pentingnya peran media dalam mendukung kesehatan mata inklusif. “Dengan adanya pelatihan ini, kami berharap para jurnalis dapat menjadi agen perubahan yang mendukung program-program kesehatan yang inklusif dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan jurnalis dari berbagai media massa di Kabupaten Madiun. Tujuannya adalah menghasilkan pemberitaan yang lebih inklusif dan edukatif, sekaligus mendukung perencanaan program kesehatan daerah. Menurut Asiah, menjaga kesehatan mata harus dilakukan dengan kepedulian dan keberpihakan kepada penyandang disabilitas netra. “Kami ingin meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat sumber daya layanan, hingga memperbaiki kebijakan dan sistem data terkait layanan kesehatan mata. Semua ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk jurnalis,” tambahnya.
Dalam pelatihan ini, dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Lutfi Amirudin, mengemukakan pentingnya pemilihan kata dan diksi yang tepat dalam pemberitaan. Menurutnya, wartawan memiliki peran besar dalam mengubah stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas. “Kata-kata seperti ‘cacat’, ‘abnormal’, ‘anak spesial’, atau ‘tuna rungu’ sering kali memperburuk stigma. wartawan perlu membiasakan pemakaian diksi yang menghormati hak penyandang disabilitas,” ujarnya.
Lutfi menambahkan bahwa hingga saat ini, jurnalis dan Dewan Pers belum intensif diajak berdialog untuk menciptakan pola pemberitaan yang berdampak positif bagi penyandang disabilitas. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi langkah awal yang penting untuk memulai perubahan tersebut.
Melalui kolaborasi antara media massa, pemerintah daerah, dan masyarakat, pelatihan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam menciptakan sistem perawatan mata yang inklusif dan efektif. Langkah konkret seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta memperkuat kebijakan kesehatan daerah yang berpihak pada penyandang disabilitas.
“Kami percaya bahwa media memiliki kekuatan besar untuk mengedukasi masyarakat dan mendorong perubahan,” tutup Asiah Sugianti. Dengan dukungan semua pihak, upaya menciptakan layanan kesehatan mata yang inklusif dapat segera terwujud.
Suasana Edukasi Kesehatan Mata di MTSn 1 Ngawi Sumber: Dokumentasi Tim I-SEE Kabupaten Ngawi 2024
Dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) 2024, Tim I-SEE Kabupaten Ngawi menggelar berbagai rangkaian kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Salah satu kegiatan utama berlangsung pada 8 Desember 2024 di Alun-Alun Kabupaten Ngawi, bertepatan dengan Car Free Day (CFD). Kegiatan skrining dan pemeriksaan mata ini melibatkan kolaborasi antara tenaga kesehatan dari Puskesmas Kabupaten Ngawi, guru, serta kader kesehatan.
Skrining Mata Sederhana oleh Kader untuk Warga Ngawi di CFD
Antusiasme masyarakat Ngawi sangat tinggi, terlihat dari banyaknya warga yang mengunjungi stand pemeriksaan mata. Total sekitar 250 orang mengikuti skrining mata, dan beberapa di antaranya mendapatkan kacamata baca (plus) untuk membantu penglihatan mereka.
Selain di Alun-Alun, kegiatan juga dilanjutkan di MTsN 1 Ngawi. Acara ini mencakup berbagai aktivitas seperti sosialisasi edukasi kesehatan mata yang disampaikan oleh dokter Puskesmas, pelatihan skrining kesehatan mata untuk kader UKS yang dipandu oleh petugas PJ Indera dari Puskesmas, serta skrining penglihatan siswa menggunakan e-chart yang dilakukan oleh kader UKS dengan pendampingan guru dan PJ UKS. Untuk menambah semarak suasana, diadakan juga lomba yel-yel yang melibatkan siswa. Dari total 465 siswa yang mengikuti skrining, ditemukan 60 siswa mengalami gangguan penglihatan. Lebih lanjut, siswa tersebut akan dirujuk ke puskesmas untuk mendapat penanganan.
Tim I-SEE Kabupaten Madiun lakukan sosialisasi pentingnya menjaga kesehatan mata, Jumat (15/11/2024). (TIM I-SEE/Sulaiman)
Madiun, 25 November 2024 –SMP Negeri 1 Saradan melaksanakan kegiatan sosialisasi kesehatan mata bagi siswa kelas 7, 8, dan 9 pada Jumat, 15 November 2024. Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin “pembiasaan siswa” yang diadakan setiap hari Jumat oleh pihak sekolah. Dalam program ini, siswa mengikuti berbagai aktivitas seperti mengaji bersama, makan bersama, serta gerakan minum tablet tambah darah (TTD).
Uniknya, sejak sekolah ini memiliki guru terlatih dalam program Inclusive System for Effective Eyes-care (I-SEE), agenda pemeriksaan kesehatan mata turut dimasukkan. Pemeriksaan dilakukan oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR) sekolah, dengan harapan siswa dapat saling membantu melalui skrining kesehatan mata sederhana.
Pada kesempatan tersebut, Tim I-SEE Yayasan Para Mitra Indonesia, Kabupaten Madiun, diundang untuk berpartisipasi dan memberikan edukasi langsung kepada para siswa. Materi yang disampaikan mencakup profil Yayasan Para Mitra, situasi kesehatan mata global, nasional, dan lokal, serta pengetahuan tentang gangguan penglihatan pada anak.
Salah satu fokus utama edukasi adalah pentingnya pengelolaan waktu penggunaan gawai. Tim I-SEE memperkenalkan metode “20-20-20”, yaitu mengalihkan pandangan setiap 20 menit, selama 20 detik, dengan jarak sekitar 20 kaki (6 meter). Metode ini diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan mata siswa di tengah tingginya penggunaan perangkat digital.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mata sejak dini, sejalan dengan upaya menciptakan generasi muda yang sehat dan produktif. Pihak sekolah dan Yayasan Para Mitra Indonesia berharap, melalui kolaborasi ini, siswa semakin peduli terhadap pentingnya kesehatan mata dalam mendukung kegiatan belajar mereka.
Foto bersama Pelatihan Kader Kesehatan Program I-SEE di Wilayah Kerja Puskesmas Kare
Madiun, 24 September 2024 – Pelatihan kader di Kabupaten Madiun menjadi langkah strategis dalam program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE), hasil kerja sama Yayasan PARA MITRA dengan CBM Global Indonesia. Pelatihan ini bertahap dilaksanakan sejak 6 September 2024 dan diikuti oleh 159 kader kesehatan dari berbagai puskesmas di Kabupaten Madiun.
Kegiatan pelatihan kader berlangsung di aula pertemuan Puskesmas masing-masing wilayah kerja, dimulai dari Puskesmas Klagenserut pada 6 September, dilanjutkan dengan Puskesmas Krebet (14 September), Puskesmas Jetis dan Puskesmas Pilangkenceng (18 September), Puskesmas Geger (19-20 September), Puskesmas Wungu (19 September), dan terakhir di Puskesmas Kare pada 23 September 2024.
Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini meliputi pengenalan penyakit mata yang umum di masyarakat, edukasi kesehatan mata, deteksi dini gangguan penglihatan seperti skrining katarak menggunakan metode hitung jari, pengenalan proyek I-SEE, hingga teknik pencatatan dan pelaporan yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
Praktik Edukasi Kesehatan dan Deteksi Dini
Suasana pelatihan berjalan interaktif, dengan para peserta aktif berpartisipasi. M. Sulaiman, Koordinator Wilayah I-SEE Madiun, menyampaikan bahwa para kader kesehatan memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat. “Kami berharap pelatihan ini dapat mendukung implementasi program kesehatan mata di puskesmas. Selain itu, kami juga berharap para kader mampu membagikan ilmu yang mereka peroleh kepada kader lainnya, sehingga kapasitas mereka dalam memberikan edukasi dan melakukan pemeriksaan mata terus meningkat,” ujar Sulaiman.
Pelatihan ini sangat penting mengingat program I-SEE masih baru bagi para kader. Oleh karena itu, pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh akan membantu kader dalam melakukan sosialisasi dan pemeriksaan mata, baik di posyandu maupun dalam kunjungan rumah.
Lebih lanjut, Sulaiman berharap para kader mampu mengaplikasikan hasil pelatihan di desa mereka masing-masing, melakukan pencatatan dan pelaporan secara tepat ke puskesmas, serta mendorong peningkatan kunjungan pasien ke layanan kesehatan mata. “Kami optimistis pelatihan ini akan membantu menurunkan angka kebutaan di masyarakat,” tambahnya.
Setelah pelatihan, para kader langsung menjalankan tugas mereka. Misalnya, di Posyandu Lansia Desa Muneng (wilayah kerja Puskesmas Pilang Kenceng), kader melakukan pemeriksaan mata kepada 17 orang. Sementara di Desa Purworejo (wilayah kerja Puskesmas Krebet), pemeriksaan dilakukan terhadap 25 peserta, di mana satu orang terdeteksi mengalami gangguan penglihatan dan dirujuk ke Puskesmas Krebet untuk penanganan lebih lanjut.
Melalui pelatihan ini, diharapkan kualitas hidup masyarakat dalam hal kesehatan mata semakin meningkat, dan para kader dapat terus berperan aktif dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mata di komunitas mereka.
Foto Bersama Pelatihan Kader di Puskesmas Karangjati
Ngawi, 21 September 2024─ Puskesmas Karangjati di Kabupaten Ngawi menjadi puskesmas pertama yang menyelenggarakan Pelatihan Kader Posyandu Semesta ILP (Integrasi Layanan Primer) dalam Program I-SEE. Pelatihan ini berlangsung selama dua hari, pada 19 dan 20 September 2024, bertempat di Aula Puskesmas Karangjati.
Program ini merupakan lanjutan dari pelatihan tenaga kesehatan yang telah sukses digelar pada 10-12 September 2024. Pelatihan kader ini dibagi menjadi dua sesi untuk menjangkau seluruh posyandu yang terintegrasi dalam Layanan Primer, mengingat ada sebanyak 59 posyandu ILP di wilayah kerja Puskesmas Karangjati.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Puskesmas Karangjati, dr. Dany Yuliastuti, yang menyampaikan apresiasinya atas antusias para kader yang hadir. “Kami sangat bangga melihat semangat yang luar biasa dari para kader. Semoga pelatihan ini menjadi pondasi kuat bagi skrining kesehatan mata yang akan dilaksanakan di masyarakat,” ujar dr. Dany dalam sambutannya.
Menurut dr. Dany, pelatihan ini merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan akses layanan kesehatan mata yang inklusif dan efektif di tingkat posyandu. “Dengan keterampilan yang diperoleh, para kader akan mampu mendeteksi dini gangguan kesehatan mata di masyarakat, terutama dalam upaya mendukung Program I-SEE yang bertujuan untuk kesehatan mata,” tambahnya.
Salah satu peserta pelatihan, Ibu Eni, mengungkapkan manfaat besar yang dirasakan. “Bagi saya, pelatihan ini sangat bermanfaat. Sebelumnya saya kurang paham tentang skrining mata, tapi sekarang saya tahu cara melakukannya dan siap menyampaikan informasi ini kepada masyarakat dan perangkat desa, termasuk bagaimana alur pencatatan dan pelaporannya,” jelasnya.
Pemaparan Materi Edukasi Kesehatan Mata dan Deteksi Dini oleh Fasilitator
Para fasilitator pelatihan kader merupakan programmer indera (Ibu Ika Rahmi Amd.RO) dan dokter umum (Ibu dr. Tria Meilla .R) dari Puskesmas Karangjati, membekali para kader dengan materi terkait edukasi kesehatan mata dan teknik skrining dasar, seperti metode hitung jari untuk mendeteksi gangguan penglihatan katarak. Para peserta juga diajak memahami pentingnya peran posyandu dalam mendukung Integrasi Layanan Primer di bidang kesehatan mata.
Jayanti, Koordinator Wilayah I-SEE Ngawi, berharap pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis kader dalam melakukan skrining mata, tetapi juga memperkuat peran mereka di bidang kesehatan. “Kami berharap pelatihan ini menjadi awal yang baik dalam pencegahan dini penyakit mata di Ngawi,” ujarnya.
Pelatihan ini merupakan langkah awal menuju terciptanya layanan kesehatan yang inklusif dan efektif, sesuai dengan tujuan dari Program I-SEE.
Wajah sumringah peserta pelatihan kader di Kabupaten Magetan
Magetan, 21 September 2024 – Dalam upaya meningkatkan keterampilan deteksi dini gangguan penglihatan, sebanyak 110 kader kesehatan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, berpartisipasi dalam pelatihan skrining katarak. Pelatihan ini berlangsung sejak 17 hingga 19 September 2024 di dua lokasi berbeda, yakni Puskesmas Candirejo dan Puskesmas Plaosan, sebagai bagian dari Program I-SEE.
Praktik skrining sederhana, peserta menutup mata sebelah kanan. Ini merupakan salah satu proses skrining sederhana dengan metode hitung jari.
“Kami melatih para kader dengan teknik skrining sederhana menggunakan metode hitung jari untuk mendeteksi katarak,” jelas Erna Kusuma Sari, Koordinator Wilayah I-SEE Kabupaten Magetan, saat diwawancarai di sela-sela pelatihan. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dalam mendukung Integrasi Layanan Primer (ILP) untuk kesehatan mata masyarakat. “Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kapasitas kader dalam deteksi dini, terutama di tingkat posyandu,” tambah Erna.
Di Puskesmas Candirejo, pelatihan dimulai pada 17 September dan dihadiri peserta yang aktif berinteraksi. Kader-kader tersebut langsung menerapkan hasil pelatihan di kegiatan posyandu keesokan harinya, di mana satu perempuan teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan dari 28 orang yang diperiksa. “Kader sangat aktif bertanya, terutama setelah evaluasi di hari pertama. Ini membuat mereka lebih percaya diri saat melaksanakan skrining,” ujar Erna.
Sementara itu, pelatihan di Puskesmas Plaosan yang digelar pada hari berikutnya berlangsung dalam suasana lebih kondusif dengan jumlah peserta yang lebih sedikit. “Jumlah peserta yang lebih kecil membuat suasana lebih terkendali, sehingga materi dapat disampaikan dengan lebih efektif,” jelas Erna, yang melihat suasana di Plaosan lebih nyaman bagi peserta.
Suasana pelatihan kader, salah satu peserta bertanya pada fasilitator.
Pelatihan ini melibatkan fasilitator dari tenaga kesehatan setempat, termasuk Ibu Endah Dwi Krisnawati, A.Md.Keb., dan Ibu dr. Diliyana Nunira Sari dari Puskesmas Candirejo, serta Ibu Urfina Mazaya, A.Md.Keb. dan Ibu Chika Dewiani, AMK dari Puskesmas Plaosan. Selain itu, materi pelatihan tidak hanya fokus pada keterampilan teknis tetapi juga pengetahuan tentang kesehatan mata secara umum dan pencegahan penyakit, khususnya katarak.
“Kami berharap kader dapat mengimplementasikan keterampilan yang didapatkan dalam pelatihan ini di wilayah masing-masing. Mereka adalah ujung tombak edukasi masyarakat terkait kesehatan mata,” kata Erna, menegaskan pentingnya pelatihan ini dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat.
Erna juga berharap pelatihan serupa dapat terus diadakan untuk memperkuat kompetensi kader kesehatan dalam deteksi dini gangguan penglihatan. “Kami ingin para kader lebih terampil dan mampu memberikan edukasi serta layanan skrining secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan pelatihan yang terus berlanjut, diharapkan kader kesehatan mata dapat semakin berperan aktif dalam pencegahan dan penanganan dini penyakit katarak di tengah masyarakat.
Sesi Foto Bersama Yayasan PARA MITRA dan peserta dari Dokter Umum dan Programmer Indera se-Kabupaten Ngawi dengan Dinas Kesehatan Ngawi Bapak Yudono dan Ibu Paulina
Ngawi, 20 September 2024 – Pemerintah Kabupaten Ngawi menggelar pelatihan bagi tenaga kesehatan dalam rangka Program I-SEE (Inclusive System for Effective Eye Care), yang dilaksanakan selama tiga hari dari 10-12 September 2024 di Gedung Kesenian Kabupaten Ngawi. Program ini merupakan kolaborasi antara pemerintah setempat bersama Yayasan PARA MITRA INDONESIA, yang merupakan mitra pelaksana dari CBM Global Disability Inclusion Indonesia.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan layanan kesehatan mata, serta mengelola kader dan guru di lapangan. Kegiatan ini diikuti oleh 24 perwakilan dari dokter umum (GP) dan programer indera Puskesmas se-Kabupaten Ngawi.
Para peserta dilatih keterampilan skrining gangguan penglihatan dan edukasi kesehatan mata yang menyeluruh. Kepala Dinas Kesehatan Ngawi, dr. Yudono, M.M. Kes, dalam sambutannya, mengungkapkan pentingnya program ini dalam membantu mengurangi angka kebutaan di Kabupaten Ngawi.
“Kami sangat mengapresiasi pelaksanaan Program I-SEE ini. Harapannya, pelatihan selama tiga hari ini dapat menjadi penyegaran bagi para PJ Indera di Puskesmas, sehingga mereka bisa membantu mengatasi permasalahan mata dengan lebih cepat,” ujar dr. Yudono saat membuka pelatihan. Ia juga menyampaikan bahwa Puskesmas di Kabupaten Ngawi diharapkan dapat membuka poli mata yang dijadwalkan seminggu sekali. “Ini penting agar gangguan penglihatan di masyarakat bisa segera ditemukan dan ditangani dengan baik,” tambahnya.
Materi Pentingnya Kesehatan Mata Masyarakat yang Inklusif
Pemaparan Materi Penyakit Mata Masyarakat oleh dr. Brian
Pada pelatihan ini, berbagai materi terkait kesehatan mata disampaikan oleh para ahli, termasuk dr. Brian Aditya Mahendra, Sp.M, seorang dokter spesialis mata yang membawakan beberapa materi penting seperti penyakit mata umum di masyarakat, yakni katarak, glaukoma, dan retinopati diabetik. “Diabetes bisa berdampak buruk pada kesehatan mata jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin bagi penderita diabetes,” kata dr. Brian.
Selain itu, tenaga kesehatan juga mendapatkan pelatihan langsung dalam pemeriksaan tajam penglihatan yang dipandu oleh Ibu Eka Rahmi, A.Md. RO. Praktik ini bertujuan agar para peserta dapat langsung terampil dalam melakukan skrining di lapangan.
Pemaparan Materi dengan Ibu Ayu Widian (PERTUNI Ngawi)
Salah satu materi menarik lainnya adalah layanan kesehatan mata yang ramah disabilitas. Ayu Widian, perwakilan dari Organisasi Penyandang Disabilitas PERTUNI, memaparkan pentingnya layanan inklusif bagi masyarakat yang memiliki disabilitas. “Kesehatan mata harus bisa diakses oleh semua kalangan, termasuk mereka yang memiliki disabilitas. Ini adalah bagian dari komitmen kita untuk mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif,” ujar Ayu.
Langkah Lanjutan: Pelatihan Kader, Guru, dan Desa Sehat Mata
Diskusi kelompok penyusunan Rencana Tindak Lanjut Fasilitasi Kader dan Guru
Selain pelatihan bagi tenaga kesehatan, Program I-SEE juga mencakup pelatihan bagi kader kesehatan dan guru, yang akan bertugas membantu tenaga kesehatan dalam melakukan skrining kesehatan mata di lingkungan sekolah dan masyarakat. Jayanti, Koordinator Wilayah (Korwil) Ngawi, menjelaskan, “Pelatihan untuk kader dan guru ini sangat penting karena mereka akan menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam deteksi dini gangguan penglihatan.”
Moch. Marsudi, Project Manager I-SEE, menekankan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pencegahan kebutaan, tetapi juga pada pembangunan Desa Sehat Mata. “Desa Sehat Mata adalah salah satu program yang diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mata masyarakat,” ungkap Marsudi.
Dengan berbagai materi yang komprehensif, pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat upaya penanganan gangguan penglihatan di Kabupaten Ngawi dan sekitarnya. Program I-SEE sendiri telah menjadi salah satu langkah strategis dalam memerangi kebutaan dan meningkatkan akses layanan kesehatan mata yang inklusif di wilayah Jawa Timur.
Suasana Pelatihan Tenaga Kesehatan Puskesmas di Kabupaten Magetan Sumber: Dokumentasi Tim I-SEE Magetan (5/9/2024)
Senin, 5 September 2024─ Kesehatan mata adalah salah satu aspek penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, melalui program I-SEE, dilakukan Pelatihan Tenaga Kesehatan pada 44 orang General Practitioner (GP) dan Penanggung Jawab Indera puskesmas se-Kabupaten Magetan.
Pelatihan tenaga kesehatan bertujuan untuk memperkuat sistem kesehatan mata yang inklusif dan komprehensif, khususnya di wilayah Kabupaten Magetan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kesehatan mata yang didukung oleh CBM Global melalui Yayasan PARA MITRA Indonesia. Acara ini berlangsung pada 5-7 September 2024 di Hall Pusat Oleh-oleh & RM Putra Nirwana, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Pembukaan Acara
Acara dimulai dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pembukaan oleh Bapak Suwantio, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Magetan. Dalam sambutannya, Bapak Suwantio menegaskan bahwa kegiatan ini adalah tindak lanjut dari kesepakatan yang telah dilakukan antara pemerintah kabupaten Magetan dan Yayasan PARA MITRA pada tanggal 13 Agustus 2024.
Bapak Suwantio juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam program ini. Beliau menyatakan, “Moment ini bisa kita manfaatkan karena ada pihak lain yang mendukung program kesehatan mata. Karena mata adalah jendela dunia, namun perkembangan teknologi yang pesat juga menimbulkan dampak negatif seperti radiasi. Tantangan kita sangat besar, terutama dengan meningkatnya kasus gangguan penglihatan pada anak-anak sekolah dasar.”
Beliau berharap agar pelatihan ini dapat memberikan hasil yang nyata, terutama dalam pengumpulan data terkait gangguan penglihatan yang dilaporkan melalui SIPPTIMEWA. “Semoga semua peserta dapat mengikuti hingga akhir dan mampu mengimplementasikan ilmunya di fasilitas kesehatan masing-masing,” tambahnya.
Sambutan dari Yayasan PARA MITRA Indonesia
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Moch Marsudi, Project Manager I-SEE Yayasan PARA MITRA Indonesia. Marsudi menjelaskan bahwa program I-SEE yang didukung oleh CBM Global bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan mata di tingkat primer, termasuk Puskesmas.
“Program I-SEE hadir di Magetan karena dukungan pemerintah yang sangat kuat terhadap kesehatan mata. Program ini memiliki tujuan akhir yaitu meningkatkan penglihatan masyarakat Magetan, sehingga berdampak langsung pada produktivitas mereka,” ujar Marsudi.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan pentingnya peran kader dan guru dalam mendukung kegiatan ini di Posyandu dan sekolah-sekolah. “Pelatihan kader dan guru sangat penting agar mereka dapat melakukan skrining dan rujukan berjenjang dengan optimal. Dengan begitu, kita bisa memberikan pelayanan kesehatan mata yang lebih baik dan menyeluruh,” jelasnya.
Materi 1: Kesehatan Mata Global
Erna Kusuma Sari, Koordinator Wilayah, menyampaikan paparan tentang situasi kesehatan mata di tingkat global. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), saat ini terdapat sekitar 2,2 miliar orang di dunia yang mengalami gangguan penglihatan, dengan hampir setengah dari kasus tersebut bisa dicegah atau diobati.
Beliau juga mengungkapkan bahwa di Indonesia, angka prevalensi kebutaan mencapai 1,47% untuk semua kelompok usia, sementara di Jawa Timur, angka prevalensinya mencapai 4,4%. “Di Kabupaten Magetan sendiri, pada tahun 2021, tercatat ada 193 kasus katarak yang terdeteksi di Puskesmas, dan 40 di antaranya dirujuk ke rumah sakit,” jelas Erna.
Selain itu, Erna menekankan bahwa kesehatan mata memiliki keterkaitan langsung dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). “Gangguan penglihatan seringkali menyebabkan kemiskinan dan ketidakmampuan untuk bekerja. Ini berkaitan langsung dengan SDG 1 yang menyoroti penghapusan kemiskinan,” paparnya.
Diskusi dengan Puskesmas dan Tantangan di Lapangan
Dalam diskusi yang melibatkan beberapa perwakilan Puskesmas, tantangan dalam penerapan pelayanan kesehatan mata di tingkat Puskesmas diungkapkan. Lilik, dari Puskesmas Gorang-Gareng, mengungkapkan bahwa skrining mata di Puskesmas masih terbatas. “Untuk kunjungan pasien, cukup banyak, tetapi skrining mata di klinik umum masih kurang. Di sekolah, skrining dilakukan bersamaan dengan UKS, tetapi di Posbindu PTM hanya dilakukan skrining untuk gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah,” ungkap Lilik.
Sementara itu, dr. Erwin, salah satu narasumber, menekankan pentingnya pelatihan bagi kader kesehatan untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam melakukan skrining gangguan penglihatan. “Kader menjadi ujung tombak dalam pelayanan kesehatan mata. Mereka yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, sehingga mereka perlu dilatih agar bisa melakukan deteksi dini dan rujukan secara tepat,” kata dr. Erwin.
Materi 2: Gender dan Akses Kesehatan Mata
M. Khosimuddin Ulil Albab memberikan materi tentang perspektif gender dalam akses kesehatan mata. Beliau menjelaskan bahwa proyek I-SEE berupaya untuk memastikan kesetaraan akses layanan kesehatan mata bagi laki-laki dan perempuan. “Partisipasi perempuan dalam kegiatan kesehatan lebih tinggi karena mereka cenderung lebih antusias dan peduli terhadap kesehatannya. Sebaliknya, laki-laki sering kali enggan memeriksakan diri kecuali jika mengalami sakit yang serius,” jelasnya.
Materi 3: Gangguan Mata pada Pasien Diabetes
Materi terakhir hari pertama ini disampaikan oleh dr. Heronita Purnamasari, SP.M dari Klinik EDC Magetan, yang membahas tentang gangguan penglihatan pada pasien diabetes, terutama katarak, glaukoma, dan retinopati diabetik. Beliau menjelaskan bahwa pasien diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami katarak dini. “Pasien diabetes memiliki risiko 2 hingga 5 kali lebih tinggi mengalami katarak dini dibandingkan pasien yang tidak diabetes,” ungkap dr. Heronita.
Beliau juga menyoroti bahwa retinopati diabetik merupakan salah satu penyebab utama kebutaan pada usia produktif. “Retinopati diabetik bersifat irreversibel, artinya kerusakan yang terjadi pada retina tidak dapat diperbaiki. Sekitar 40% pasien diabetes berisiko mengalami gangguan ini,” tambahnya.
Dalam penanganan pasien diabetes yang mengalami katarak, dr. Heronita menegaskan bahwa operasi katarak merupakan pilihan utama. “Operasi katarak tidak memerlukan bius total dan pasien tidak perlu rawat inap. Namun, penting untuk mengelola faktor risiko seperti gula darah dan tekanan darah sebelum operasi dilakukan,” jelasnya.