Evaluasi Tahun 2022 Yayasan Paramitra Sebagai Tahap Menuju Organisasi Yang Lebih Baik

Pertemuan All Staf Paramitra Desember 2022

Tahapan organisasi menuju perubahan yang lebih baik tidak terlepas dari unsur untuk melakukan evaluasi secara keseluruhan, khususnya pengelolaan organisasi dan program-program yang dilaksanakannya. Bertepatan dengan akhir tahun 2022 saat ini Yayasan Paramitra telah berproses mengadakan pertemuan staf. Dimana pertemuan staf secara simultan sangat penting dilakukan oleh sebuah organisasi Yayasan Paramitra sebagai bagian untuk mengetahui sejauh mana pengelolaan organisasi dan program-program yang dilakukan mencapai target sesuai dengan harapan. Moment ahkhir tahun ini pertemuan staf akan dikemas dalam bentuk semi gathering. Gathering dilakukan dengan yang melibatkan sejumlah 27 orang staf bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan, solidaritas dan Kerjasama team yang lebih handal. Karena semi gathering maka muatan materi akan dikemas dengan tidak sangat formal tetapi tidak mengabaikan output.

Bentuk gathering akan dilakukan dengan melibatkan seluruh staf Yayasan Paramitra dilaksanakan selama 3 hari dengan muatan materi evaluasi MEL organisasi, update perkembangan masing-masing program dan sharing hasil pelatihan. Setelah kegiatan dilanjut dengan untuk refleksi program sekaligus pembahasan untuk program berikutnya.

Harapan dalam pertemuan yang dikemas dalam semi gathering ini akan meningkatkan rasa kebersamaan antar staf, sehingga akan diiringi dengan rasa setia kawan, saling membantu dan pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan layanan masyarakat dan mendukung visi dan misinya Yayasan Paramitra. Adapaun tujuan dari kegiatan yaitu evaluasi Monitoring dan Evaluasi (MEL), program dan mengakomodir input untuk perbaikan ke depan, serta refleksi program, sekaligus merancang kembali untuk program 2023. Sedangkan untuk output yang dihasilkan antara lain :
a. Adanya dokumentasi hasil evaluasi sekaligus input baik untuk MEL maupun program.
b. Adanya dokumentasi hasil refleksi dan perencanaan untuk program I-SEE tahun 2003.
Dalam prosesnya ada beberapa agenda yang dilaksanakan mulai dari presentasi perkembangan masing-masing program melalui metode kunjungan coffee program yang ada di Yayasan Paramitra, pembahasan capaian organisasi terkait MEL, dan penataan unit Knowledge Management (KM), serta sharing hasil pelatihan yang didapat oleh yayasan Paramitra melalui dukungan beberapa program yang ada.


Hasil pertemuan akhir tahun staf Yayasan Paramitra ternyata masih ada beberapa indicator MEL yang belum dicapai secara maksimal. Dimana hal ini disebabkan karena capaian program lebih banyak dicapai secara maksimal oleh staf dengan adanya unsur dukungan program yang masih ada. Sedangkan beberapa indicator yang belum dapat dicapai secara maksimal, disebabkan karena tidak ada unsur dukungan dari program. Sehingga dengan adanya hasil tersebut, maka tentunya akan dibahas ulang dalam proses pertemuan penyusunan RENSTRA tahun 2023.

Edukasi Kesehatan Mendukung 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) pada Ibu Hamil di Desa Pagedangan

Persoalan Kesehatan Ibu dan anak (KIA) sampai saat ini masih menjadi perhatian penting yang harus segera diatasi. Dampak dari persoalan tersebut masih tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir (AKI AKB) dan stunting. Berbagai upaya sudah banyak dilakukan melalui program-program yang dilakukan sebagai upaya pencegahan dan penanganannya.


Konsep mendukung 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) masih menjadi daya ungkit yang dilakukan sebagai upaya pencegahan. Salah satu upaya pencegahan saat ini yang dilakukan adalah melalui kelompok sasaran kunci (Ibu Hamil/ Bumil) melalui kelas Bumil yang sudah ada di desa. Kelas Bumil menjadi awadah yang sangat efektif sebagai wadah edukasi dan komunikasi yang didalamnya terdapat penyampian kesehatan dan beberapa pengetahuan yang perlu disampaikan pada ibu hamil. Salah satu contohnya adalah Kelas bumil yang ada di Desa Pagedangan Kecamatan Turen Kabupaten Malang.


Pelaksanaan Kelas bumil yang ada di Desa Pagedangan, saat ini juga diisi dengan edukasi kesehatan yang melibatkan salah satu akademisi yang ada di Kabupaten Malang yaitu Stikes Kepanjen. Dimana melalui program-program yang dilakukan oleh akademisi tentunya sangat membantu sebagai upaya mewujudkan kesehatan yang ada di masyarakat, khususnya Ibu Hamil.
STIKES Kepanjen merupakan salah satu lembaga akademisi yang telah berkolaborasi dengan Mitra Utama program MADANI dalam mendukung issu tematik yang ada terkait Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Kabupaten Malang. Dalam proses Kelas Ibu Hamil (Bumil) yang dilakukan beberapa agenda edukasi yang disampaikan adalah dukungan 1000 HPK dan dampak yang ditimbulkan jika tidak terwujud dengan baik di tahapan tersebut. Awal proses Bumil diajak untuk berpikir tentang Motos dan Fakta Kesehatan yang terjadi pada Bumil.


Seiring dengan kegiatan Kelas Bumil yang dilakukan, tentu harus ada dampak pengetahuan yang akan selalu diingat oleh Bumil. Tidak hanya pengetahuan tentang 1000 HPK, stunting, dan dampak yang ditimbulkan. Sehingga diakhir kegiatan agar Bumil selalu ingat akan 1000 HPK, maka perlu ada pean-pesan kunci yang selalu diingat. Ada 4 pesan kunci yang disampaikan dalam mendukung 1000 HPK yaitu pesan kunci yang ada pada Rumpi Sehat melalui kampanye yel-yel pesan kunci yaitu ATIKA untuk ibu hamil. ASI Esklusif, Makanan yang beragam dan Seimbang, dan asupan cemilan sehat yang sehat bagi Balita. Dimana semuanya dikemas melalui Yel-Yel Rumpi Sehat.
SALAM RUMPI SEHAT :
IKUT-IKUT RUMPI SEHAT
IBU HAMIL YA…ATIKA
ASI ESKLUSIF ITU WAJIB
MAKANAN ANAK HARUS SEIMBANG
CEMILAN HARUS SEHAT
KALAU SALAH YA…BENERIN…!!!

Forum KIA tingkat Desa Alternatif Pencegahan AKI, AKB, dan Stunting

Pembentukan Forum KIA tingkat desa dilakukan di desa wilayah intervensi program Desa Pagedangan Kecamatan Turen, difasilitasi antara Yayasan Paramitra, Desa Siaga, dan Puskesmas Turen Kabupaten Malang. Forum KIA melibatkan dari elemen kesehatan yang ada di desa Pagedangan , mulai dari kader kesehatan, kader stunting, Tim Pengadmping Keluarga (TPK), Kader Pemberdyaan Masyarakat (KPM). Strategi pembentukan Forum KIA juga menjadi alternatif dalam pembagian atau penataan kembali peran dan fungsi kader-kader kesehatan yang ada di desa dengan tujuan yang sama yaitu penanganan dan pencegahan AKI, AKB, dan stunting. Kegiatan dilaksanakan pada bulan 9 – 11 Juni 2022 secara bergantian di 2 desa intervnsi program yaitu Desa Talangsuko dan berlanjut ke Desa Pagedangan Kecmatan Turen. Dimana 2 desa tersebut, saat ini menjadi desa intervensi program MADANI dengan fokus isu tematik terkait Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).


Selama berproses acara dibuka dengan sambutan Puskesmas Turen, dimana dalam sambutannya memberi apresiatif dengan terbentuknya Forum KIA yang kedepannya 2 desa intervensi program MADANI menjadi bagian dari inovatif Puskesmas Turen dalam penanganan persoalan KIA yang ada didesa,mulai dari kematian ibu, bayi, dan stunting. Acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Bidan Koordinator (Bikor) Kecamatan Turen terkait pentingnya pembentukan Forum KIA yang juga menjadi bagian dari kegiatan Desa Siaga dalam penganan persoalan KIA yang ada di desa Pagedangan. Saat ini banyak kader-kader yang ada di desa dan memilki tujuan yang sama yiatu penanganan kematian ibu, bayi, dan stunting yang merupakan bagian intervensi program dari beberapa dinas, mulai dari Dinas Kesehatan, DPPKB, dan lain-lain. Tetapi pada kenyataanya memiliki sasaran yang sama, sehingga agar tidak terjadi tumpang tindih pendampingan maka diperlukan pembagian peran dan fungsi pada kader-kader kesehatan yang ada di desa.


Setelah pemaparan acara dilanjut dengan sharing dan diskusi terkait permasalahan, akar masalah, peran yang sudah dilakukan, dan alternatif solusi yang harus dilakukan. Dalam diskusi fasilitator mengarahkan peserta untuk fokus terhadap persoalan KIA. Dipengujung acara terdapat Rencana Tindak lanjut (RTL) yang dirumuskan antara lain :
a. Forum KIA yang difasilitasi oleh Desa Siaga akan melakukan pertemuan rutin 2 bulan sekali sebagai wadah sharing dan diskusi membahas tentang persoalan dan perkembangan kegiatan yang dilakukan dalam upaya penurunan AKI, AKB, dan stunting di desa Pagedangan.
b. Mendorong desa melalui Ketua Desa Siaga Pagedangan dan Modin untuk menyusun Perdes tentang pemerikasaan kesehatan CATIN (Calon Pengantin) sebagai tahap awal dalam pencegahan dan deteksi stunting.

Percepatan Deteksi Dini AKI, AKB, dan Stunting Melalui Pemeriksaan Kesehatan Calon Pengantin Sehat

Persoalan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) salah satunya banyaknya kasus kematian ibu dan bayi, serta stunting di Kabupaten Malang saat masih menjadi fokus utama yang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Banyak upaya yang dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang untuk mengurangi atau menekan angka kasus-kasus tersebut. Salah satu bentuk upaya yang dilakukan adalah membangun komitmen bersama antar lintas sektor di tingkat kecamatan melalui dukungan adanya pemeriksaan kesehatan bagi Calon Pengantin (CATIN) yang ada di wilayah Kecamatan Turen. Hal ini dilakukan sebagai langkah atau media untuk melakukan pencegahan dan mendeteksi sejak dini adanya indikasi kondisi kesehatan pada calon pengantin yang akan memasuki jenjang kehamilan dan melahirkan. Salah satunya keteribatan pemerintah tingkat kecamatan dan desa menjadi hal terpenting terwujudnya suatu kondisi dalam pencegahan persoalan KIA yang ada di daerah tersebut.

Penyamaan persepsi dalam implementasi di program pencegahan AKI, AKB, dan stunting salah satunya adalah pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin (Catin). Namun demikian sampai saat berdasarkan kondisi yang ada, pemeriksaan kesehatan pada Catin masih belum tercapai secara maksimal. Hal ini disebabkan karena unsur penting dalam persiapan, masih belum terdapat kesepakatan melalui kebijakan daerah yang ada. Sehingga secara implementasi khususnya tingkat desa masih belum berjalan dengan baik.

Menurut uraian dr. Wahyu selaku Kepala Puskesmas Turen menyatakan bahwa berdasarkan kondisi yang ada, capaian terkait data jumlah 466 catin yang periksa Capaian 170 catin dan hanya catin wanita tidak sepasang yang melakukan pemeriksaan kesehatan. Jika diprosentase capaian hanya 44% (tidak sepasang) dari target 62%. Dari 170 yang periksa ditemukan WUS anemia 13, KEK 17. Ibu KEK bisa menyebabkan resiko anak stunting. Data per Agustus 2022 yang terdata ditemukan 596 balita yang pendek dan sangat pendek walau bukan stunting. Angka stunting di februari 2022 ada 699 kasus, turun pada bulan Agustus 2022 menjadi 596 dari 17 desa. Sedangkan jumlah ibu hamil di Kecamatan Turen ada 1.800 an. Melihat angka-angka capaian tersebut, harapannya dengan adanya pertemuan yang dilakukan dapat menghasilkan langkah atau kebijakan strategi yang dilakukan untuk mengatasi persoalan yang ada.

Pada rangkaian acara juga hadir Bapak Tri Sulawanto selaku Kepala Kecamatan Turen menyatakan bahwa pada hakekat pembangunann adalah pembangunan manusia yang seutuhnya, sehingga fokus bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Kesehatan menjadi hal yang snagat penting. Stunting Turen 596 termasuk angka tinggi. Pencegahan adalah membangun suatu komitmen bahwa kita ingin sama-sama mencegah terjadinya stunting atau kesehatan yang lain. Oleh karena itu perlu ada komitmen yang dilakukan, salah satunya adanya SOP yang menjadi persyaratan yang utama. Apabila tidak ada komitmen, maka tidak akan tercapai tujuan bersama dan SOP tersebut dengan pembuatan SK (Surat Keputusan) yang didalamnya menyangkut terkait regulasi pemeriksaan bagi calon pengantin untuk melakukan kesehatan sebagai persyaratan untuk melangsungkan pernikahan.

Ditingkat desa urusan calon pengantin disampaikan oleh Modin untuk maslaah pemeriksaan kesehatan. Apabila tidak ada pemeriksaan, maka ada sanksi penolakan oleh KUA. Regulasi yang kuat dan komitmen yang kuat, maka persoalan akan terselesaikan. Disamping itu hasil dari regulasi yang ada Kepala Desa/ Kelurahan akan menyampaian komitmen bersama tersebut pada masyarakat.

Rencana Tindak Lanjut pertemuan :
1. Ada kebijakan (SOP dan regulasi/ SK) dari tingkat kecamatan untuk pemeriksaan calon pengantin. Usulan : SK Pemeriksaan Catin (calon pengantin) Sehat
2. Sosialsasi pada perangkat desa (Kesra) dan masyarakat secara umum.
3. Singkronisasi program penanganan stunting yang dilakukan oleh kecamatan

Paramitra Rayakan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) 2022

Staf Paramitra di Batu, Tuban dan Probolinggo

“Love Your Eyes ~ Cintai Matamu”

Di bulan Oktober ini ada peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) yang diperingati pada Kamis kedua di bulan Oktober. Tahun 2022 ini Hari Penglihatan Sedunia jatuh pada 13 Oktober. The International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) mengangkat tema #LoveYourEyes atau ‘Cintai Matamu’ untuk Hari Penglihatan Sedunia 2022. Tema ini bersifat persuasif karena mengajak masyarakat untuk melindungi kesehatan mata mereka.
Gerakan ini juga membantu mewujudkan rasa empati kepada lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan penglihatan dan tidak memiliki akses ke layanan perawatan mata.

Kader di Probolinggo
Antusiasme Kader merayakan World Sight Day 2022

Kami segenap staf Paramitra dan Kader bersama-sama mengajak keluarga, teman dan rekan untuk peduli akan kesehatan mata dengan memusatkan perhatian pada pentingnya perawatan mata, jadikan kesehatan mata sebagai prioritas, jadwalkan pemeriksaan mata secara rutin di faskes terdekat, karena tidak ada cara yang lebih baik untuk #LoveYourEyes.

#HariPenglihatanSedunia2022 #worldsightday #WSD2022 #LoveYourEyes #paramitra

Komitmen Dukung Pemenuhan Hak Disabilitas Tuban, Paramitra Jatim Lakukan Ini

Direktur YPM Jatim Asiah koordinasi dengan Orbit dan Pertuni untuk mengadvokasi kebijakan yang memihak difabel Tuban. (Foto: Rofiq/blokTuban.com)

Mengutip berita dari media blokTuban.com – Yayasan Paramitra (YPM) Jawa Timur terus berkomitmen melanjutkan kampanye dan sosialisasi pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di Kabupaten Tuban. Saat ini, pihaknya juga telah bekerjasama dengan beberapa puskesmas dan rumah sakit di Tuban sebagai percontohan penyedia fasilitas yang ramah (aksesibel) bagi disabilitas.

“Sebagai percontohan kita sudah kerjasama dengan Puskesmas Wire, Widang, Rengel, dan Soko. Sementara Rumah Sakit, ada satu yaitu Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU),” ujar koordinator wilayah YPM Tuban, Rudi Wibowo kepada blokTuban.com, Rabu (9/2/2022).

Selain itu, YPM juga telah kerjasama dengan 187 lembaga sekolah se tingkat SMP di Tuban dan 388 kader yang dilatih untuk memenuhi hak-hak penyandang disbilitas, khusunya yang berkaitan dengan kebutaan. Para kader dan pemangku sekolah bertugas membantu deteksi dini agar permasalahan mata, utamanya katarak bisa segera di tangani. Sebab, jika dibiarkan akan parah dan menjadi buta.

“Sejak 2018, mereka sudah kita latih dan terus dievaluasi bersama pemerintah daerah suapaya hak-hak penyandang disabilitas dipenuhi dengan baik,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur YPM Jatim Asiah menegaskan, lima Puskesmas pilar dan satu rumah sakit  yang  dilatih tentang bagaimana sikapnya terhadap penyandang disabilitas itu, memiliki pemahaman tentang bagaimana etika berkomunikasi dengan mereka. 

Lebih jauh, ia juga selalu melibatkan Organisasi Disabilitas Tuban (ORBIT) dan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Tuban, untuk terus melakukan advokasi terhadap kebijakan yang memihak pada penyandang disabilitas Tuban.

“Ya, memang harus pelan-pelan dalam melakukan advokasinya. Namun, kami juga turut apresiasi Pemkab Tuban, sudah peduli pada temen-temen disabilitas,” katanya.

Ke depan, lanjut wanita kelahiran Jombang itu, YPM akan bekerja lebih serius dengan melibatkan dinas sosial terkait untuk penambahan hak-hak disabilitas. Bahkan saat ini, sebagian penyandang disabilitas di Tuban telah dilatih menjadi pelatih di seluruh layanan.

“Dia (penyandang disbilitas) juga menjadi auditor tentang aksesibilitas layanan. Itu adalah salah satu cara kita melakukan advokasi terkait pelayanan dan kebijakan di masing-masing daerah, termasuk Tuban ini,” bebernya.

Asiah berharap, layanan umum lainnya akan terinspirasi dengan lima puskesmas dan satu rumah sakit di Tuban itu, untuk menjadikan pelayanan lebih aksesibilitas. Pihaknya juga menginginkan, setelah dijadikan percontohan, pelayanan tetap berkelanjutan.

“Kita tidak ingin itu hanya menjadi formalitas sertifikasi, jadi kita nggak pengen seperti itu,” pungkasnya. [rof/Ali]

Sumber berita : https://bloktuban.com/2022/02/09/komitmen-dukung-pemenuhan-hak-disabilitas-tuban-paramitra-jatim-lakukan-ini/

Baksos Operasi Katarak bersama Paramitra, Bupati Tuban Resmikan Gedung Isolasi Covid-19 Senilai Rp 6 Miliar

Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, ketika memonitor fasilitas yang ada di RSUD dr Koesma Tuban

Mengutip dari media halopantura.com Tuban – Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, melaunching bakti sosial (baksos) operasi katarak secara gratis di halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Koesma Tuban, Selasa (8/2/2022).

Bersamaan dengan acara itu Bupati Tuban juga meresmikan gedung isolasi Covid-19 RSUD dr. Koesma Tuban. Gedung tersebut dibangun dengan anggaran sekitar Rp 6 milir yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tuban tahun 2021.

“Saya mengapresiasi kegiatan ini dan inovasi yang dilakukan RSUD dr Koesma Tuban,” ungkap Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky.

Ia menjelaskan baksos operasi katarak secara gratis ini sangat dibutuhkan bagi lansia. Sehingga kegiatan seperti ini harus terus dilakukan sampai di pelosok desa dan tidak hanya digelar di kota saja karena banyak manfaatnya.

“Baksos ini jangan tersentral di Kabupaten, karena saya ingin untuk kegiatan sosial ini mulai basisnya di tingkat desa, karena kita tahu bersama bahwa masyarakat kita untuk hadir kota sangat susah,” tegas putra mahkota mantan Bupati Tuban Haeny Relawati Rini Widyastuti itu.

Usai memantau operasi Katarak, Mas Bupati meresmikan ruang isolasi Covid-19 yang berisi 8 ruang kamar perawatan dengan sejumlah fasilitas berstandar di RSUD dr. R Koesma Tuban.

Ruang isolasi yang dibangun dengan standarisasi terbaik tersebut dapat menampung dua orang dewasa atau tiga pasien bayi dalam satu kamar. Adapun dana pembangunan menggunakan DAK serta DBHCHT dengan total anggaran 6 milyar rupiah.

“Saya minta agar ruang isolasi tersebut dapat di jaga dan dimanfaatkan secara optimal. Karena untuk dibangunkan itu gampang, tapi merawatnya itu susah. Jadi saya titip kepada jajaran RSUD untuk merawat dan memanfaatkan gedung ini dengan maksimal,” pesan Bupati Tuban.

Lebih dari itu, Mas Bupati juga menyampaikan, jika penyebaran Covid-19 di Kabupaten Tuban termasuk dalam kategori rendah. Meski begitu, sesuai arahan presiden Joko Widodo, penanganan Covid-19 termasuk varian baru omicron adalah dengan percepatan vaksinasi dan penegakan protokol kesehatan.

“Rumah sakit harus menjamin keamanan dan kenyamanan tenaga medis dalam bekerja,” tambah Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Tuban itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Bambang Priyo Utomo menjelaskan, program Bakti Sosial Operasi Katarak bekerjasama dengan Komite Mata Kabupaten Tuban (Komatda), TPPI Tuban, serta PT. Pertamina Field Cepu dan Yayasan Paramitra. Meskipun proses awal screening di ikuti oleh 60 orang, hanya 30 mata yang dapat dioperasi dalam kegiatan yang melibatkan tiga dokter tersebut.

“Kalau mata, menghitungnya bukan orangnya, tapi jumlah matanya,” jelasnya.

Adapun terkait ruang isolasi Covid-19, Bambang mengungkapkan, saat ini total ruang isolasi yang tersedia di Kabupaten Tuban berjumlah 200 kamar, tersebar di seluruh Rumah Sakit se Kabupaten Tuban, serta Tuban Sport Center.

Untuk Ruang Isolasi milik RSUD dr. R Koesma, tersedia 8 ruang isolasi baru lengkap dengan standarisasi pelayanan terbaik. “Selain itu, juga terdapat ruang isolasi biasa, ruang dengan ventilator, juga ruang isolasi ICU,” pungkasnya. (chalim/fin/roh)

Sumber berita : https://www.halopantura.com/baksos-operasi-katarak-bupati-tuban-resmikan-gedung-isolasi-covid-19-senilai-rp-6-miliar/

Bupati Tuban Launching Bakti Sosial Operasi Katarak Dan Resmikan Ruang Isolasi Covid 19

Mengutip dari media Analisnews,Tuban – Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, SE melaunching pelaksanaan Bakti Sosial Operasi Katarak dan meresmikan Ruang Isolasi Covid-19 RSUD dr. R Koesma. Selasa, (08/02/2022).

Hadir pada kesempatan tersebut Forkopimda serta OPD terkait. Selain itu, seluruh Direktur Rumah Sakit, Kepala PBJS Kantor Bojonegoro, Direksi TPPI Tuban, PT. Pertamina Field Cepu, Ketua Komatda Tuban serta Yayasan Paramitra.

Mas Bupati dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan bakti sosial operasi katarak yang melibatkan pemerintah daerah, BUMN, hingga swasta. Menurutnya, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam pengurangan kasus kebutaan akibat katarak di Kabupaten Tuban. Kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan hingga ke tingkat desa. Mas Bupati melanjutkan, Komite Mata Daerah (Komatda) dapat bekerjasama dengan puskesmas juga perusahaan lain, agar bakti sosial tidak tersentra hanya di kota saja.

“Saya sering menemui lansia yang menderita katarak saat melaksanakan kunjungan ke desa- desa. Jadi kegiatan ini sangat bermanfaat, ” ungkapnya.

Usai meluncurkan Bakti Sosial Operasi Katarak, Mas Bupati meresmikan ruang isolasi covid-19 di RSUD dr. R Koesma Tuban. Bersama Kapolres Tuban serta perwakilan Forkopimda lainnya, Mas Bupati meresmikan gedung isolasi covid-19 yang berisi 8 ruang kamar perawatan dengan fasilitas berstandarisasi.

Mas Bupati mengatakan, ruang isolasi yang dibangun dengan standarisasi terbaik tersebut dapat menampung dua orang dewasa atau tiga pasien bayi dalam satu kamar. Adapun dana pembangunan menggunakan DAK serta DBHCHT dengan total anggaran 6 milyar rupiah.

Lebih jauh Mas Bupati berpesan, agar ruang isolasi tersebut dapat di jaga dan dimanfaatkan secara optimal. “Meminta untuk dibangunkan itu gampang, tapi merawatnya itu susah. Jadi saya titip kepada jajaran RSUD untuk merawat dan memanfaatkan gedung ini dengan maksimal,” ujarnya.

Lebih dari itu, Mas Bupati juga menyampaikan, jika penyebaran covid-19 di Kabupaten Tuban termasuk dalam kategori rendah. Meski begitu, sesuai arahan presiden Joko Widodo, penanganan covid-19 termasuk varian baru omicron adalah dengan percepatan vaksinasi dan penegakan protokol kesehatan.

Untuk vaksinasi, saat ini capaian vaksinasi usia 6-11 tahun dosis pertama mencapai 86 persen, sedangkan dosis ke dua mencapai 35 persen. Adapun untuk lansia, dosis pertama sudah mencapai 80 persen, sedangkan dosis ke dua mencapai 53 persen. Ia perpesan agar percepatan vaksinasi terus digencarkan. “Kita terus genjot vaksinasi sampai tercapai target yang ditentukan,” tegasnya.

Mas Bupati berterimakasih kepada seluruh tenaga medis yang telah bekerja keras dalam menyukseskan program vaksinasi dan penanganan covid-19. Mas Bupati berpesan agar tenaga kesehatan tetap menjaga kesehatan. “Rumah sakit harus menjamin keamanan dan kenyamanan tenaga medis dalam bekerja,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Bambang Priyo Utomo menjelaskan, program Bakti Sosial Operasi Katarak bekerjasama dengan Komite Mata Kabupaten Tuban (Komatda), TPPI Tuban, serta PT. Pertamina Field Cepu dan Yayasan Paramitra. Meskipun proses awal screening di ikuti oleh 60 orang, hanya 30 mata yang dapat dioperasi dalam kegiatan yang melibatkan tiga dokter tersebut. “Kalau mata, menghitungnya bukan orangnya, tapi jumlah matanya,” jelasnya.

Adapun terkait ruang isolasi covid-19, Bambang mengungkapkan, saat ini total ruang isolasi yang tersedia di Kabupaten Tuban berjumlah 200 kamar, tersebar di seluruh Rumah Sakit se Kabupaten Tuban, serta Tuban Sport Center.

Untuk Ruang Isolasi milik RSUD dr. R Koesma, tersedia 8 ruang isolasi baru lengkap dengan standarisasi pelayanan terbaik. “Selain itu, juga terdapat ruang isolasi biasa, ruang dengan ventilator, juga ruang isolasi ICU,” jelentrehnya.

Bambang menegaskan, saat ini angka penyebaran covid-19 di Kabupaten Tuban tergolong rendah. Hal ini juga didukung oleh capaian vaksinasi Kabupaten Tuban, dimana dari 38 kabupaten dan kota se Jawa Timur , untuk lansia masuk dalam 10 besar tertinggi. Sedangkan untuk-anak menduduki posisi 9 di Jawa Timur. Meski begitu, saat ini terdapat 10 kasus aktif positif covid-19 dalam pengawasan Dinkes P2KB. “Enam orang menjalani isolasi di rumah sakit, dan empat dalam perawatan medis,” pungkasnya.

Sumber berita : https://analisnews.co.id/2022/02/mas-bupati-launching-bakti-sosial-operasi-katarak-dan-resmikan-ruang-isolasi-covid-19.html

Tuban, 30 Lansia Terima Operasi Katarak Gratis dan Paket Sembako dari Pemkab Tuban

Mengutip berita dari media TUBAN, Tugujatim.id – Sebanyak 30 lanjut usia (lansia) di Kabupaten Tuban mendapatkan fasilitas operasi katarak gratis dari Pemkab Tuban, Selasa (8/2/2022).

Acara yang digelar di RSUD dr R Koesma Tuban itu terselenggara berkat kerjasama antara Pemkab Tuban, BUMD, BUMN, komite mata daerah (Komatda) dan Yayasan Paramitra Jawa Timur.

Selain menggelar operasi katarak gratis juga menyerahkan paket sembako kepada para lansia yang akan dioperasi.

Salah satu peserta operasi katarak, Rasim (57) Warga Tambakboyo, Tuban, mengaku senang dengan kegiatan ini. Pasalnya, bisa meringankan beban biaya yang harus dikeluarkan.

“Ini operasi yang kedua, yang pertama biaya sendiri. Alhamdulillah, untuk yang kedua ini mendapat fasilitas gratis dari Pemkab. Jadi lebih ringan beban saya,” ujar Rasim dengan raut muka bahagianya.

Sementara itu, Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzki, dalam sambutannya menuturkan bahwa operasi katarak secara gratis perlu diagendakan secara rutin.

Pemerintah akan selalu menggandeng pihak-pihak terkait, seperti perusahaan dan NGO agar masyarakat yang kurang mampu tetap mendapatkan fasilitas operasi katarak untuk mencegah kebutaan.

“Kita tahu bersama bahwa memang anggaran untuk operasi katarak itu cukup besar,” kata Lindra sapaan akrabnya.

Bupati berharap, kegiatan sosial semacam ini bisa semakin mengakar ke bawah. Sekaligus tidak hanya tersentral di Rumah Sakit, namun juga di tingkat Puskesmas.

Ia juga menginstruksikan kepada dokter maupun perawat di tingkat desa dan kecamatan agar melakukan deteksi dini penderita katarak.

“Kami juga telah meminta petugas medis agar cepat melakukan deteksi dini. Jika terindikasi katarak kan bisa ditangani lebih dulu,” tandasnya.

Sumber berita Tugujatim.id : https://tugujatim.id/30-lansia-terima-operasi-katarak-gratis-dan-paket-sembako-dari-pemkab-tuban/

Pemkab Probolinggo – Yayasan Paramitra Gelar Lokakarya Hasil Evaluasi Tengah Periode

Dari kiri: Direktur Yayasan Paramitra (Asiah Sugianti) – Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekretaris Daerah Pemkab Probolinggo (Heri Sulistyanto) dan Asisten 2

Mengutip berita dari portal media Probolinggo, KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo bersama Yayasan Paramitra mengadakan Lokakarya Hasil Evaluasi Tengah Periode, Rabu (12/1/2022) pagi di ruang pertemuan Jabung 2 Kantor Bupati Probolinggo.

Lokakarya yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari, tanggal 12-13 Desember 2022 secara hybrid antara daring dan luring tersebut diikuti oleh instansi terkait dan segenap mitra dan stakeholder Yayasan Paramitra di lingkungan Kabupaten Probolinggo.

Dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut, Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo Heri Sulistyanto sangat mengapresiasi terlaksananya Program Inclusive System for Effective Eye care (I-SEE) sejak tahun 2018 di lingkungan Kabupaten Probolinggo.

Pasalnya proyek sistem kesehatan mata masyarakat yang inklusif dan efektif tersebut memang dirancang untuk membantu mengurangi gangguan penglihatan dan kebutaan masyarakat, terutama yang disebabkan katarak dan kelainan refraksi (plus/minus) pada anak-anak.

Heri berharap ditengah padatnya penanganan pandemi Covid-19, program yang sudah berjalan dengan baik ini untuk terus dilanjutkan. Terus bersinergi bersama berkontribusi meringankan beban masyarakat menangani permasalahan kesehatan mata seperti katarak dan refraksi.

“Kami harap program ini terus dilanjutkan di lingkungan Kabupaten Probolinggo. Isya Allah kami juga akan selalu support bersama lintas OPD dan instansi terkait. Semoga program ini tidak hanya dilanjutkan sampai tahun 2023 saja, tapi akan ada terus demi masyarakat yang sangat membutuhkan perhatian,” ungkap Heri Sulistyanto.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan ini menambahkan, potensi permasalahan mata semakin hari semakin meningkat. Faktor pemicunya diantaranya perkembangan teknologi gadget dan kebiasaan baru masyarakat berlama lama di depan gadget dengan segala fiturnya.

Menyikapi hal tersebut lanjut Heri, edukasi terhadap masyarakat menjadi poin yang sangat penting, disamping pemeriksaan-pemeriksaan mata secara massif di berbagai lingkungan masyarakat.

“Kalau dulu kita selalu dilarang untuk membaca buku sambil tiduran karena dampak negatifnya bagi mata. Namun tantangan hari ini lebih berat dengan adanya gadget, rutinitas ini tentu membuat anak-anak kita semakin rentan terhadap permasalahan mata,” pungkasnya.

Sementara Direktur Yayasan Paramitra Asiyah Sugianti mengaku sangat bersyukur atas support dan sinergi para pihak selama ini. Tujuan workshop kali ini menurut Asiyah guna mendorong pemerintah agar lebih berkomitmen dalam penanganan masalah kesehatan mata.

Sebelumnya lanjut Asiah, pada bulan Maret sampai dengan April 2021 yang lalu juga telah dilaksanakan evaluasi tengah periode guna memberikan umpan balik dan saran serta menjadi media pembelajaran untuk perbaikan pelaksanaan proyek yang akan berakhir pada akhir tahun 2022.

“Hasil evaluasi sebelumnya hendaknya menjadi dasar perencanaan program lanjutan pada dua tahun 2022-2023. Melalui kegiatan ini kami juga berharap bisa merancang sebuah rencana aksi untuk perbaikan pelaksanaan program yang bisa dikembangkan secara partisipatoris oleh para pemangku kepentingan di Kabupaten Probolinggo,” tandasnya. 

Sumber berita : https://probolinggokab.go.id/pemkab-yayasan-paramitra-gelar-lokakarya-hasil-evaluasi-tengah-periode/