Tim I-SEE Hadiri Temu Inklusi 2025 di Cirebon

Momen peserta saat mengikuti Lokakarya Desa Inklusi yang diselenggarakan oleh Temu Inklusi, SIGAB Indonesia 3 September 2025 lalu

Batu, 10 September 2025– Perwakilan Tim I-SEE dari Yayasan Para Mitra Indonesia berkesempatan menghadiri kegiatan Temu Inklusi 2025 yang digelar pada 2–4 September 2025 di Cirebon, Jawa Barat. Temu Inklusi merupakan ajang dua tahunan yang diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Disabilitas Indonesia (SIGAB) untuk mempertemukan organisasi masyarakat sipil, gerakan disabilitas, mitra pembangunan, serta pemerintah dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, tiga orang perwakilan Tim I-SEE dari Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi bersama tiga orang perwakilan organisasi disabilitas turut hadir. Keterlibatan tersebut menjadi ruang penting untuk belajar sekaligus memperbarui pengetahuan terkait perkembangan gerakan disabilitas di tingkat nasional.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran. Seminar plenary pertama membahas upaya dan kemajuan dalam mendorong inklusi disabilitas, termasuk tantangan serta praktik baik yang telah dilakukan di berbagai daerah. Sementara itu, plenary kedua yang juga menjadi rangkaian penutup mengangkat tema “Looking Forward”, yaitu strategi, kolaborasi, dan sinergi untuk melanjutkan cita-cita mewujudkan inklusi disabilitas yang lebih luas.

Temu Inklusi 2025 diikuti oleh 590 peserta dari 24 provinsi, melibatkan perwakilan desa, dinas sosial, dan organisasi disabilitas. Salah satu peserta, Sulistiawan, misalnya, menceritakan kesan berharganya terhadap materi pembentukan Desa Sehat Inklusi pada salah satu desa di Situbondo, Jawa Timur. Meski desa tersebut telah diadvokasi sejak 2018 bersama dengan SIGAB, hasilnya pada tahun 2024 desa tersebut telah berhasil mengalokasikan anggarannya untuk pembangunan infrastruktur ramah disabilitas, seperti toilet inklusif di balai desa dan aksesibilitas bidang miring. Ke depan, desa tersebut berencana memfokuskan program pada pemberdayaan kelompok disabilitas, khususnya di bidang peternakan.

“Belajar dari pengalaman desa inklusi membuat kami semakin termotivasi. Kami bisa melihat bagaimana inklusi tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kebijakan dan anggaran,” ungkap Sulistiawan.

Selain itu, Nasrullah, Tim I-SEE dari Ngawi juga menambahkan bahwa Temu Inklusi ini dapat menjadi bukti atas keberhasilan lintas sektor. “Jujur, saya terkesan saat materi yang dibawakan oleh Bappenas, karena dengan adanya kehadiran perwakilan lembaga pemerintahan menjadi bukti negara setidaknya telah menaruh perhatian pada isu disabilitas,” tambah Nasrul.

Dengan adanya forum ini, Tim I-SEE merasa semakin terdorong untuk memperkuat jaringan, berbagi praktik baik, dan mendukung lahirnya kebijakan yang lebih inklusif di berbagai daerah, sehingga hak-hak penyandang disabilitas dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Kunjungan See You dan CBM Global Indonesia ke Wilayah Dampingan Program I-SEE

Kunjungan See You dan CBM ke rumah Bapak Kasmin, salah satu penerima manfaat bantuan transportasi operasi katarak

Yayasan Para Mitra mendapat kunjungan istimewa dari Mrs. Julia Jaspers Faijer selaku program manajer See You Foundation. Dalam rangkaian kunjungan ini, turut hadir Ibu Marisa Kristianah (Country Director CBM Global Indonesia), serta Ibu Vivian Kameloh (Senior Program Officer Inclusive Eye Health CBM Global Indonesia). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini difokuskan untuk melakukan monitoring, mencatat pengalaman, serta melihat secara langsung penerima manfaat dari Program I-SEE di wilayah dampingan.

Hari pertama, rangkaian kegiatan dimulai dengan sesi perkenalan sekaligus paparan menyeluruh mengenai implementasi Program I-SEE. Sesi ini menjadi pintu masuk untuk menggambarkan sejauh mana program berjalan, tantangan yang dihadapi, serta capaian yang telah diraih.

Julia See You dan Tim I-SEE dalam satu bingkai di SMPN 1 Wonoasri Kabupaten Madiun

Hari kedua, rombongan melakukan kunjungan lapangan di Kabupaten Madiun dan Ngawi. Di Madiun, kunjungan dilakukan di SMPN 1 Wonoasri untuk melihat langsung layanan kesehatan mata di sekolah, termasuk pengalaman siswa penerima kacamata yang kini dapat belajar lebih baik. Sementara itu, di Kabupaten Ngawi, kegiatan berlanjut di MIN 2 dan MTsN 12 Ngawi untuk meninjau proses skrining kesehatan mata di sekolah. Selain itu, tim juga menyempatkan diri mengunjungi siswa dengan low vision serta pasien pasca operasi katarak guna mendengarkan secara langsung cerita perubahan positif yang mereka alami.

Hari ketiga ditutup dengan diskusi bersama Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) dari tiga kabupaten dampingan, yaitu Madiun, Magetan, dan Ngawi. Dalam forum ini, peserta mendengar paparan mengenai program kerja Pertuni, hasil pelatihan rehabilitasi yang telah dijalankan, serta bentuk kolaborasi yang terbangun antara Pertuni dengan pemerintah daerah.

Kunjungan See You bersama CBM Global Indonesia ini menjadi momentum penting untuk memastikan keberlanjutan sekaligus meningkatkan kualitas Program I-SEE. Dengan melihat langsung praktik di lapangan serta mendengar cerita dari penerima manfaat, diharapkan pengembangan program ke depan semakin tepat sasaran dan berkelanjutan.

Pelatihan DID Dorong Layanan Kesehatan Lebih Inklusif di Kabupaten Ngawi

Wajah sumringah peserta pelatihan DID Kabupaten Ngawi saat berfoto bersama

Ngawi, 20 Agustus 2025 – Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi menggelar Pelatihan Pengembangan Inklusif Disabilitas (Disability Inclusive Development/DID) selama dua hari (14-15 Agustus 2025) bertempat di Aula Dinas Kesehatan dan Puskesmas Karangjati.

Kegiatan ini melibatkan beragam unsur staf kesehatan, mulai dari Kepala Puskesmas, dokter, perawat, bidan, tenaga manajemen, hingga petugas parkir dari dua Puskesmas percontohan di Ngawi, yakni Puskesmas Karangjati dan Puskesmas Sine. Pelatihan DID ini difasilitasi oleh Bapak Arizky Perdana Kusuma dari PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) Kabupaten Probolinggo. 

Praktik mendorong kursi roda yang dilakukan oleh staf Puskesmas menuju loket pendaftaran

Kedua Puskesmas tersebut ditunjuk langsung oleh Dinas Kesehatan sebagai Puskesmas percontohan sebagaimana prosedur dari kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP). Dengan langkah ini, diharapkan tercipta pelayanan kesehatan yang lebih ramah, aksesibel, dan berkeadilan bagi semua, termasuk masyarakat dengan disabilitas.

Secara umum, pelatihan DID ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, meningkatkan perspektif dan pengetahuan staf Puskesmas mengenai konsep disabilitas dan pembangunan inklusif. Kedua, membekali peserta dengan keterampilan yang tepat dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas selama proses pelayanan kesehatan. Ketiga, mendorong setiap Puskesmas untuk memiliki rencana pengembangan layanan yang lebih ramah disabilitas.

Pada hari pertama, peserta lebih banyak mendapatkan materi mengenai konsep dasar pembangunan inklusif, hak-hak penyandang disabilitas, serta pentingnya menghilangkan stigma dan diskriminasi dalam layanan kesehatan. Sementara itu, hari kedua difokuskan pada praktik langsung pengembangan layanan inklusif. Peserta diajak untuk melakukan simulasi etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas di berbagai titik layanan, mulai dari loket pendaftaran, ruang pemeriksaan, hingga pengambilan obat di apotek Puskesmas.

Melalui pelatihan ini, diharapkan seluruh peserta mampu menjadi pelopor dalam menciptakan pelayanan kesehatan mata yang lebih inklusif. Sekaligus, kehadiran pengembangan inklusif disabilitas diharapkan dapat menjadi contoh dan semangat bagi Puskesmas lainnya di Kabupaten Ngawi. 

Lowongan Fasilitator I-SEE Kabupaten Madiun

Halo, sobat YPM~

Saat ini, Yayasan PARA MITRA Indonesia sedang membutuhkan fasilitator untuk program kesehatan mata inklusif. Lowongan ini terbuka untuk 1 orang yang akan ditempatkan di Kabupaten Madiun. Kami juga mendorong komunitas disabilitas untuk bergabung dengan kami.

*Persyaratan:*

  1. Laki-laki/Perempuan, usia maksimal 40 tahun
  2. Diutamakan berasal dari Kabupaten madiun
  3. Minimal pendidikan D3
  4. Memiliki pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat (diutamakan pengalaman dalam bidang kesehatan dan bekerja dengan LSM)
  5. Mampu berkomunikasi dengan baik
  6. Mampu bekerja secara tim dan di bawah tekanan
  7. Siap bekerja lembur jika dibutuhkan
  8. Bertanggung jawab dan memiliki dedikasi tinggi
  9. Tidak pernah terlibat dalam kasus kekerasan atau pelecehan terhadap anak dan perempuan
  10. Memiliki kendaraan bermotor dan SIM C

Jika Anda memenuhi persyaratan di atas dan tertarik untuk bergabung, segera kirimkan surat lamaran, CV, dan data diri ke surel ypm@paramitra.or.id (online). Lowongan ini akan kami tutup hingga Selasa, 26 Agustus 2025 (pukul 13.00 WIB).

Lowongan Kerja Fasilitator See You

Halo, sobat YPM~

Yayasan PARA MITRA Indonesia berkolaborasi dengan CBM Global Indonesia sekarang tengah melakukan program kesehatan mata inklusif di 3 wilayah kerja, yaitu Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi. Saat ini, kami sedang membuka pekerjaan untuk 1 orang  yang diposisikan sebagai Fasilitator See You pada program tersebut di tiga kabupaten wilayah kerja.

Persyaratan:

  • Laki-laki/perempuan maksimal usia 40 tahun
  • Diutamakan berasal dari wilayah Madiun, Magetan, dan Ngawi
  • Pendidikan minimal SMA/SMK
  • Memiliki pengalaman bekerja sebagai fasilitator lapangan (diutamakan)
  • Mampu bekerja sama dengan tim
  • Tidak pernah terlibat dalam kasus kekerasan atau pelecehan terhadap anak dan perempuan
  • Memiliki kendaraan bermotor dan SIM C


Jika Anda memenuhi persyaratan di atas dan tertarik untuk bergabung, segera kirimkan surat lamaran, CV, dan data diri ke surel ypm@paramitra.or.id (online). Lowongan ini terbatas dan mulai berlaku pada 14-16 Agustus 2025 pukul 23.59 WIB.


Informasi selengkapnya hubungi 0812 5296 2027 (Marsudi).

Sebarkan informasi baik ini untuk kawan-kawan yang membutuhkannya.

Dorong Keterlibatan Aktif Pencegahan Gangguan Penglihatan di Tingkat Sekolah, Program I-SEE Lakukan Pelatihan Guru di Wilayah Tambakboyo Kabupaten Ngawi

Foto Bersama dengan Peserta Pelatihan Guru

Ngawi, 7 Agustus 2025 – Untuk memperkuat implementasi di sekolah, Program I-SEE gelar pelatihan guru di wilayah dampingan Puskesmas Tambakboyo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi pada Selasa, 6 Agustus 2025. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan sebelumnya yang telah diberikan kepada tenaga kesehatan, khususnya pemegang program indera dan dokter umum di Puskesmas. Pelatihan guru ini menjadi bagian penting dari strategi membangun kesadaran masyarakat sejak dini, terutama di lingkungan sekolah.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai jenjang pendidikan, yakni 6 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 2 Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 3 Sekolah Dasar (SD) di wilayah kerja Puskesmas Tambakboyo. Fasilitator dari pelatihan ini adalah tenaga kesehatan, yaitu dokter umum dan pemegang indera Puskesmas Tambakboyo.

Adapun tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan para guru mengenai program I-SEE, meningkatkan kapasitas guru dalam memberikan edukasi, melakukan skrining awal, serta memahami alur rujukan berjenjang, serta menanamkan pemahaman pentingnya implementasi integrasi layanan primer luar gedung di lingkungan sekolah.

Dalam pelatihan ini, para guru dibekali informasi dasar tentang kesehatan mata, jenis-jenis gangguan penglihatan yang umum terjadi pada anak usia sekolah, serta praktik langsung tentang cara melakukan skrining penglihatan sederhana. Selain itu, mereka juga diberikan pemahaman mengenai mekanisme rujukan jika ditemukan siswa yang mengalami gangguan penglihatan, serta pentingnya menyampaikan informasi tersebut kepada orang tua.

Melalui pelatihan ini, diharapkan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga berperan aktif sebagai mitra Puskesmas dalam mendeteksi dan mencegah gangguan penglihatan sedini mungkin. Kesadaran kolektif dari guru, siswa, dan orang tua menjadi pondasi penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat mata dan inklusif.

Kalangketi Deklarasikan Diri sebagai Desa Sehat Mata Inklusif bersama Program I-SEE

Stakeholder Kabupaten Magetan dan Pihak Desa Kalangketi
Melakukan Foto Bersama

Magetan, 7 Agustus 2025 – Dalam semangat mewujudkan masyarakat yang sehat dan inklusif, Desa Kalangketi, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan resmi mendeklarasikan diri sebagai Desa Sehat Mata Inklusif pada 5 Agustus 2025. Kegiatan ini diinisiasi melalui kolaborasi dengan program Inclusive System for Effective Eye-care (I-SEE).

Acara peresmian yang berlangsung di Kantor Desa Kalangketi ini mengusung tema “Jendela Dunia Mata Sehat, Kalangketi Hebat, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan daerah. Hadir dalam kesempatan ini perwakilan dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Camat Sukomoro, jajaran pemerintah desa, serta tokoh dan warga masyarakat setempat.

Sebagai unit terkecil dalam sistem pemerintahan, desa memegang peran penting dalam mendukung upaya pencegahan gangguan penglihatan di masyarakat. Dalam hal ini, Program I-SEE menggandeng Desa Kalangketi untuk membangun kolaborasi dalam mewujudkan akses layanan kesehatan mata yang inklusif dan berkelanjutan. Komitmen Desa Kalangketi terhadap kesehatan masyarakat sebelumnya juga telah tertuang dalam Surat Keputusan Kepala Desa Nomor 188/14/Kep/403.409.02/2024 tentang Penetapan Desa Sehat.

Kepala Desa Kalangketi, Bapak Setiyono, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh Program I-SEE kepada desanya.

“Semoga melalui Desa Sehat Mata ini, semua program bisa berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Harapan kami, seluruh warga Kalangketi bisa mengakses layanan kesehatan mata secara merata dan terhindar dari penyakit mata,” ujar Setiyono dalam sambutannya.

Penandatanganan Komitmen Bersama oleh Kepala Desa Kalangketi, Bapak Setiyono

Ke depannya, Desa Sehat Mata Inklusif ini diharapkan dapat mendorong partisipasi aktif masyarakat. Desa dapat membantu meningkatkan akses layanan kesehatan mata, baik dari segi pendanaan kegiatan, penyediaan sarana prasarana, hingga dukungan pada disabilitas. Adanya kader kesehatan yang sudah terlatih di wilayah Kalangketi juga diharapkan dapat membantu berjalannya kegiatan kegiatan edukasi, skrining, dan rujukan masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan.

Dengan adanya komitmen dan dukungan lintas sektor, Desa Kalangketi diharapkan mampu menjadi motivasi bagi masyarakat untuk mendorong terciptanya layanan kesehatan yang inklusif dan berkeadilan bagi semua.

Komitmen Terhadap Kesehatan Mata yang Inklusif, Program I-SEE Gandeng Pemkab Ngawi Resmikan Desa Sehat Mata dan Organisasi Disabilitas

Pemkab Kabupaten Ngawi dan pengurus desa sehat mata inklusif dan organisasi disabilitas bersatu dalam mensukseskan program kesehatan mata di Kabupaten Ngawi

Ngawi, 28 Juli 2025 — Melalui Program I-SEE, Pemerintah Kabupaten Ngawi mengukuhkan 10 Desa Sehat Mata Inklusi dan 4 Organisasi Disabilitas tingkat desa di Notosuman Restaurant, Kecamatan Ngawi pada Kamis (24/7/2025) lalu. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong keberlanjutan layanan kesehatan mata yang komprehensif dan menjangkau semua kalangan, termasuk disabilitas.

Penandatanganan Piagam Pengukuhan oleh Asisten 1 Sekda Kabupaten Ngawi

Pengukuhan ini diresmikan langsung oleh Asisten 1 Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi, Ir. Hadi Suroso, serta dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, perwakilan disabilitas, dan tokoh-tokoh desa. Hal ini ditandai dengan adanya penandatanganan piagam pengesahan oleh Pemkab Kabupaten Ngawi beserta pihak-pihak desa beserta organisasi disabilitas.

Sebanyak 10 desa resmi dikukuhkan sebagai Desa Sehat Mata, yaitu:

  1. Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati
  2. Desa Tepas, Kecamatan Geneng
  3. Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan
  4. Desa Girikerto, Kecamatan Sine
  5. Desa Mandiro, Kecamatan Ngrambe
  6. Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo
  7. Desa Purwosari, Kecamatan Kwadungan
  8. Desa Dero, Kecamatan Bringin
  9. Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar
  10. Desa Kedungharjo, Kecamatan Mantingan

Selain itu, 4 Organisasi Disabilitas Tingkat Desa, yaitu:

  1. Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati
  2. Desa Tepas, Kecamatan Geneng
  3. Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan
  4. Desa Mandiro, Kecamatan Ngrambe

Dalam sambutannya, Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, menyampaikan apresiasinya atas dukungan kuat Pemerintah Kabupaten Ngawi. Beliau menjelaskan bahwa program Inclusive System for Effective Eye-care (I-SEE) hadir untuk memperkuat pelayanan kesehatan mata melalui pemberdayaan dari tingkat akar rumput.

“Selama tiga tahun pelaksanaan program, Program I-SEE telah mendampingi berbagai desa agar responsif terhadap isu kesehatan mata. Sepuluh desa dan organisasi disabilitas yang dideklarasikan hari ini merupakan hasil seleksi dan pendampingan yang menunjukkan komitmen tinggi dari masing-masing wilayah,” jelas Asiah.

Tak hanya fokus pada kesehatan mata, Program I-SEE juga mendorong disabilitas untuk aktif berperan dalam pembangunan desa. Harapannya, adanya Desa Sehat Mata dan organisasi disabilitas dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk mendorong layanan kesehatan yang inklusif bagi semua, tidak ada yang tertinggalkan (no one left behind).

Sedangkan Asisten 1, Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Ngawi, Ir. Hadi Suroso menjelaskan dalam sambutannya, “Adanya deklarasi Desa Sehat Mata diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pada gangguan penglihatan agar bisa dicegah sejak dini. Pelibatan disabilitas dalam setiap kegiatan merupakan hal yang penting, sebagai bagian integral dari masyarakat,” tegasnya.

Pengukuhan Desa Sehat Mata dan Organisasi Disabilitas ini juga dilengkapi dengan pemaparan materi dan diskusi mengenai ‘Pendanaan APBDes untuk Kesehatan Mata’ yang difasilitasi oleh Nugroho dari DMPD Kabupaten Ngawi dan Paparan Program I-SEE yang disampaikan oleh Moch. Marsudi dari Yayasan Para Mitra Indonesia. Sesi ini diharapkan menjadi momentum perwakilan dari desa-desa dan organisasi disabilitas untuk memberikan pertanyaan maupun input atas keberlanjutannya.

Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni semata, tetapi juga ajang untuk memantik semangat kolaborasi demi mewujudkan pelayanan kesehatan mata yang lebih baik di Kabupaten Ngawi. Sebuah komitmen nyata untuk mendukung target pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Program I-SEE Kabupaten Magetan Gelar Diskusi Publik Dorong Kebijakan Kesehatan Mata Inklusif yang Berkelanjutan

Serempak membangun komitmen bersama untuk mendukung program Kesehatan mata di Kabupaten Magetan

Magetan, 28 Juli 2025 — Melalui Program I-SEE, Yayasan Para Mitra Indonesia menggelar Diskusi Publik dengan menggandeng Pemerintah Kabupaten Magetan. Kegiatan ini bertema “Mendorong Adanya Kebijakan Layanan Kesehatan Mata yang Komprehensif dan Inklusif dalam Mendukung SDGs di Kabupaten Magetan”, yang dilaksanakan pada Selasa, 22 Juli 2025 bertempat di Ruang Ki Mageti, Gedung Pemerintah Kabupaten Magetan.

Acara ini menghadirkan narasumber, yakni Elmy Kurniarto Widodo, ST, MT dari BAPPEDALITBANG Kabupaten Magetan, Sukoco selaku Sekretaris PWMOI Kabupaten Magetan yang juga wartawan Kompas dan Redaktur Lawu TV, serta dipandu oleh moderator Majid Widigdo, S.H.

Diskusi publik ini bertujuan untuk memperkuat sinergi multi pihak dalam merumuskan kebijakan strategis layanan kesehatan mata yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut menyoroti pentingnya integrasi layanan kesehatan mata dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dengan semangat No One Left Behind — tidak ada satu pun warga yang tertinggal dalam memperoleh akses kesehatan yang layak.

Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi dan keberlanjutan program. “Kami ingin mengakomodir masukan dari berbagai pihak yang hadir dan khalayak yang lebih luas melalui kanal you tube . Input ini akan sangat bermakna untuk menyusun Langkah strategis ke depan agar apa yang sekarang sudah diupayakan sustain. Isu kesehatan mata selama ini belum menjadi prioritas. Program ini hadir untuk memperkuat yang sudah ada, dan bekerja sama dengan instansi terkait dalam mendukung pencapaian SDGs demi kehidupan yang lebih baik,” ujar Asiah.

Sementara itu, PJ Sekretaris Daerah Kabupaten Magetan, Muchtar Wachid, ST, MT, mengungkapkan bahwa dari data Dinas Kesehatan setempat terdapat 2.995 warga Kabupaten Magetan yang mengalami katarak, dan baru 16,6% di antaranya yang telah mendapatkan penanganan. Beliau menyampaikan terima kasih atas inisiasi program ini dan berharap adanya dorongan serta langkah konkret dari seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dalam mendukung dan menyukseskan program layanan kesehatan mata yang menyeluruh.

Kepala BAPPEDALITBANG Kabupaten Magetan, Elmy Kurniarto dalam paparan materi menambahkan bahwa untuk mencapai target SDGs, dibutuhkan peran dari semua pihak. “SDGs adalah amanat undang-undang dan saat ini pemerintah Kabupaten Magetan sedang menyusun RPJMD, yang salah satunya juga bertujuan untuk memenuhi layanan UHC. Walaupun layanan sudah ditanggung oleh BPJS, namun kami menyadari masih banyak masyarakat yang kesulitan mengklaim layanan karena rumitnya persyaratan,” paparnya.

Elmy juga mengakui bahwa capaian UHC di Magetan saat ini baru mencapai 88,31%. Selain itu, masih terdapat ketimpangan dalam hal distribusi tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis di tingkat Puskesmas. Untuk itu, Pemkab mendorong dokter muda di layanan primer untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis, dengan dukungan penuh dari pemerintah.

Selanjutnya, dalam paparan materi, Sukoco menyampaikan pentingnya skrining mata sejak dini, terutama pada anak usia sekolah. “Pemetaan dan skrining mata harus dilakukan secara berkesinambungan mengingat banyaknya kasus gangguan penglihatan di masyarakat. Anak-anak adalah generasi penerus yang harus dijaga kualitas penglihatannya,” tegasnya.

Diskusi publik tersebut dihadiri oleh 41 peserta, mulai dari unsur pemerintah, disabilitas, jurnalis, CSR, hingga tokoh masyarakat. Harapannya melalui kegiatan ini dapat menggalang input dari berbagai sudut pandang, sehingga dapat mendorong adanya kebijakan kesehatan mata yang bermanfaat bagi semua. Ada beberapa rekomendasi dari diskusi publik ini :

  1. Pentingnya penyusunan program kerja di setiap OPD untuk mengakomodir program kesehatan mata agar bisa menjadi bagian dari pembangunan daerah
  2. Perlunya regulasi/kebijakan kolaboratif yang mengatur peran dan keterlibatan semua pihak yang terkait untuk dalam program kesehatan mata  
  3. Program I-SEE perlu duduk bersama dengan pemerintah daerah agar dukungan pelaksanaan program kesehatan mata menjadi lebih terarah

Kegiatan Diskusi Publik, sebelumnya juga telah dilakukan di Kabupaten Madiun dan Ngawi pada Juni lalu yang bekerja sama dengan Diskominfo masing-masing kabupaten untuk disaksikan secara online melalui Live Streaming.

Dorong Layanan Kesehatan Ramah Disabilitas, Program I-SEE Lakukan Pelatihan DID (Etika Berkomunikasi dengan Disabilitas) untuk Puskesmas di Kabupaten Madiun

Sesi Tanya Jawab dengan Peserta Kegiatan dalam Pelatihan DID

Madiun, 2 Juli 2025− Sebagai bagian dari komitmen untuk mendorong layanan kesehatan yang lebih inklusif, Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) menyelenggarakan Pelatihan Disability Inclusive Development (DID) bagi Puskesmas Pembina di Kabupaten Madiun. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 1 Juli 2025 di Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, dan dilanjutkan pada 2 Juli 2025 di Puskesmas Sumbersari.

Seiring berkembangnya implementasi program I-SEE, fokusnya kini tidak hanya terbatas pada pencegahan gangguan penglihatan, tetapi juga mencakup penguatan layanan kesehatan yang ramah dan inklusif bagi disabilitas. Hal ini selaras dengan prinsip universal dalam pembangunan berkelanjutan “No one life behind“ tidak satupun orang yang ditinggalkan. Untuk itu, pelatihan ini menyasar tiga Puskesmas yang telah ditunjuk oleh Dinas Kesehatan sebagai Puskesmas Pembina, yaitu Puskesmas Sumbersari (Kecamatan Saradan), Puskesmas Krebet (Kecamatan Pilangkenceng), dan Puskesmas Bangunsari (Kecamatan Dolopo).

Pelatihan ini diikuti oleh total 18 peserta, masing-masing enam orang dari setiap puskesmas. Peserta berasal dari berbagai unit layanan, mulai dari petugas parkir, petugas loket, tenaga kesehatan, hingga staf manajemen. Selama dua hari, peserta dibekali pemahaman mengenai konsep disabiltas, hak-hak penyandang disabilitas, pembangunan inklusif, ragam disabilitas serta cara berinteraksi yang tepat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Peserta juga diberikan keterampilan mengenai bagaimana praktik berinteraksi dengan pasien disabilitas mulai pintu masuk puskesmas sampai pada pengambilan obat. Pelatihan ini difasilitasi oleh Arizky Perdana Kusuma dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang memang sudah berpengalaman dalam memfasilitasi pelatihan DID pada wilayah pilot program sebelumnya dan memberikan wawasan langsung dari sudut pandang komunitas disabilitas.

Praktik Pelayanan Pengambilan Obat bagi Pasien Netra

Pelatihan DID ini menjadi langkah awal yang penting dalam mendorong transformasi layanan kesehatan yang inklusif. Dengan keterlibatan dan peran aktif Puskesmas Pembina, diharapkan semangat inklusivitas ini dapat menyebar ke seluruh fasilitas kesehatan lainnya di Kabupaten Madiun dan sekitarnya, demi memastikan tidak ada satu pun masyarakat yang tertinggal dalam pembangunan kesehatan.