MERUBAH DUNIA DENGAN SANDAL JEPIT

Sandal jepit merupakan sebuah alas kaki yang dianggap paling kumuh bahkan bisa menunjukkan kasta terendah dalam lapisan masyarakat. Kali ini ada yang berbeda, Senin 7 September 2021 diangkat derajatnya oleh Perkumpulan Komunitas Difabel Kabupaten Probolinggo (PDKPRO) untuk menunjukkan eksistensinya pada dunia. Mereka bertekad untuk menunjukkan pada dunia yang dimulai dari desa Kertonegoro, kec. Pakuniran, Kab. Probolinggo. Melalui kegiatan bersih-bersih masjid dan pemberian sandal jepit sebanyak 12 pasang. Melalui kegiatan tersebut PDKPRO ingin melakukan perubahan besar dimulai dari hal kecil dan sederhana.

Rupanya “Think Globally, Act Localy” berpikir besar dengan bertindak lokal menjadi mimpi mereka. Mimpi ingin membalikkan anggapan masyarakat bahwa difabel adalah tukang meminta-minta dan selalu merepotkan berubah menjadi komunitas yang bermanfaat dan sama kedudukannya dengan masyarakat lain. Perubahan besar sering terjadi dari hal kecil, sederhana dan sering tidak diperhitungkan adalah slogan yang ingin  diterapkan komunitas difabel yang diwadahi dalam PDKPRO ini.

Rasa haru bercampur simpati terpancar dari wajah bapak Abdurahman Kepala Desa Pakuniran beserta pengurus Desa Sehat Mata dan staf Puskesmas menerima bantuan tenaga dan sandal jepit ini. Ternyata para pejabat desa ini tidak melihat bentuk sumbangan yang begitu sederhana dan berjumlah kecil ini. Mereka sangat menghargai niat yang demikian kuat untuk menunjukkan dirinya bahwa mereka juga bagian masyarakat yang bermanfaat sama seperti warga yang lain.  Dalam kesempatan ini  Hasan Basri selaku ketua PDKPRO yang kebetulan difabel daksa dan ditemani bu Yulin seorang difabel bisu/tuli menjelaskan tentang PDKPRO.

Dengan sangat gamblang mereka menjelaskan bahwa banyak difabel  yang keberadaannya kurang diperhatikan oleh aparatur desa bahkan mungkin disembunyikan oleh keluarganya untuk menutupi malu. Ibu Yulin dengan logatnya yang terbata juga menegaskan bahwa sebetulnya mereka juga memiliki hak yang sama seperti warga negara lainnya sehingga suaranya juga patut didengar.

PDKPRO merupakan sebuah Perkumpulan Difabel Kabupaten Probolinggo yang memiliki keanggotaan baik dari difabel daksa, netra dan tuli/bisu . Selama  ini mereka sangat prihatin karena sebagain besar masyarakat belum mengetahui difabel dengan segala potensi dan haknya kecuali difabel adalah mahkluk yang lemah, memalukan dan merepotkan sehingga sering dianggap tidak ada. Dengan adanya dorongan dan pendampingan dari team Paramitra  maka mereka ingin bangkit menunjukkan pada dunia khususnya masyarakat kabupaten Probolinggo bahwa mereka juga patut diperhitungkan.

Akhirnya dengan tekad bulat mereka memberanikan diri untuk memulai dari yang sederhana di desa Kertonegoro. Dari penerimaan warga desa Kertonegoro mereka semakin percaya diri bahwa difabel bisa diterima ditengah-tengah masyarakat.“Menjadi difabel bukan berarti tidak mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat” ujar Hasan Basri sambil membersihkan halaman masjid. Sebuah tindakan yang patut mendapatkan acungan jempol sosialisasi tentang hak-hak difabel tetapi dimulai dengan cara yang mulia dengan tidak sekedar menuntut untuk dipahami. Semoga upaya ini kedepan berdampak positif  terutama dimulai dari desa Kertenogoro. Kami percaya bahwa perubahan besar dimulai dari hal kecil, sederhana dan sering dianggap tidak penting.

Pos dibuat 35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
id_IDIndonesian