Deklarasi Desa Sehat Mata Inklusi di Kabupaten Magetan: Langkah Nyata Menuju Masyarakat Bebas Gangguan Penglihatan

Kolaborasi Lintas Sektor Membangun Komitmen Penanggulangan Gangguan Penglihatan dalam Deklarasi Desa Sehat Mata Pinkuk dan Geplak

Magetan, 2 Juli 2025− Program Inclusive System for Effective Eye-care (I-SEE) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pencegahan gangguan penglihatan di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan Deklarasi Desa Sehat Mata Inklusi yang telah dilaksanakan pada 30 Juni 2025 di dua desa di Kabupaten Magetan, yaitu Desa Geplak di Kecamatan Karas dan Desa Pinkuk di Kecamatan Bendo.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi dari Peraturan Menteri Kesehatan No. 82 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Pendengaran, yang menargetkan penurunan prevalensi gangguan penglihatan sebesar 25% pada tahun 2030 dibandingkan dengan data tahun 2017. Upaya ini tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, namun diperlukan kerja sama lintas sektor, salah satunya dengan melibatkan desa sebagai bagian terkecil dari struktur pemerintahan dan ujung tombak dalam pencegahan gangguan gangguan penglihatan yang berkelanjutan.

Deklarasi Desa Sehat Mata Inklusi ini dihadiri oleh berbagai pihak, seperti Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Dinas Kesehatan, Camat, Puskesmas, perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga perwakilan dari disabilitas. Dari hasil kegiatan tersebut, dua Desa Sehat Mata Inklusi resmi terbentuk di Kabupaten Magetan, lengkap dengan struktur kepengurusan dan rencana kerja yang disepakati bersama. Ini menambah daftar desa yang telah mengadopsi pendekatan inklusif dalam menjaga kesehatan mata masyarakatnya.

Sebelumnya, pada bulan yang sama, program serupa juga telah dilaksanakan di beberapa desa lain, yaitu Desa Ngampel di Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun pada 16 Juni 2025, serta Desa Tulung di Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan pada 26 Juni 2025. Dengan terbentuknya desa-desa ini, diharapkan upaya pencegahan gangguan penglihatan dan kebutaan semakin luas jangkauannya, dan menjadi gerakan kolektif menuju Indonesia yang lebih sehat dan inklusif. Hal ini sangat selaras dengan semboyan Yayasan Para Mitra Think Globally, Act Locally berpikir besar, bertindak lokal.

Kolaborasi Tim I-SEE dan Mitra Bakti dalam Pertemuan Guru SLB se-Kabupaten Ngawi

Bapak Suparman, Bapak Heru (perwakilan Mitra Bakti) dan Bapak Nasyrul (perwakilan Tim I-SEE) dalam Kegiatan KKG Guru SLB se-Kabupaten Ngawi

Ngawi, 2 Juni 2025 — SLB Beranda Istimewa, Grudo, Kabupaten Ngawi, menjadi tuan rumah kegiatan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) yang diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan dari Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini juga dihadiri oleh pengawas PK-PLK, ketua KKG/MGMP, serta kepala sekolah dari berbagai SLB di wilayah tersebut.

Dalam kesempatan ini, Tim I-SEE bersama tim Mitra Bakti Kabupaten Ngawi turut hadir untuk melakukan sosialisasi awal mengenai peran pendamping Mitra Bakti pasca pelatihan yang dilakukan di RSBN Kota Malang pada 19-22 Mei lalu. Kegiatan ini dimanfaatkan sebagai momen strategis untuk memperkenalkan konsep pendampingan yang benar bagi disabilitas netra, termasuk pengenalan dasar mengenai Orientasi Mobilitas (OM), konseling, dan Activity Daily Living (ADL) kepada para guru.

Tujuan dari sosialisasi ini adalah agar tenaga pendidikan, khususnya guru-guru SLB, mendapatkan informasi yang utuh tentang keberadaan dan peran Mitra Bakti dalam mendampingi siswa dengan gangguan penglihatan. Pendamping yang terlatih diharapkan dapat membantu siswa netra untuk hidup lebih mandiri serta meningkatkan keterampilan sosial mereka secara bertahap.

Selain itu, fasilitator juga memperkenalkan rangkaian program kerja I-SEE di wilayah Kabupaten Ngawi, yang meliputi pelatihan skrining penglihatan bagi guru, alur rujukan siswa, serta dukungan kacamata bagi siswa yang membutuhkan. Program ini sejalan dengan upaya peningkatan akses layanan kesehatan mata yang inklusif dan merata di lingkungan pendidikan.

Menariknya, kegiatan ini bertepatan dengan jadwal pertemuan rutin tiga bulanan KKG SLB, dan kali ini dilaksanakan di SLB Beranda Istimewa, sekolah yang dipimpin oleh Ibu Renny — salah satu peserta pelatihan Mitra Bakti Program I-SEE. Momen berkumpulnya para guru SLB se-Kabupaten Ngawi pun menjadi sarana yang tepat untuk menyampaikan pesan penting mengenai peran pendamping dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pendidikan inklusif.

Mimpi Besar Selalu Berangkat dari Tantangan (Belajar dari Kisah Seorang Guru UKS  dalam Program Kesehatan Mata) di Kabupaten Magetan

Suasana kegiatan skrining gangguan penglihatan di MTsN 4 Magetan

Dukungan dari rekan-rekan guru mulai mengalir kepada Bu Rini Hidayati dalam upaya mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa, setelah mereka melihat langsung manfaat yang diperoleh para siswa. Untuk siswa dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan kacamata, bantuan dapat diberikan melalui Program I-SEE. Selain itu, siswa juga mendapatkan informasi bahwa pembelian kacamata dapat ditanggung oleh BPJS. Informasi hasil skrining juga disampaikan oleh wali kelas kepada orang tua/wali murid, sebagai langkah antisipasi jika informasi yang telah diberikan kepada siswa tidak sampai ke orang tua di rumah.

MTsN 4 Magetan merupakan salah satu dari 110 sekolah yang guru UKS-nya mengikuti pelatihan dengan menggunakan metode skrining melalui Single Line E-Chart, sebuah media bertuliskan huruf “E” yang digunakan untuk mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa. Bagi Bu Rini Hidayati, pelatihan ini sangat bermanfaat karena kini beliau dapat mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa lebih awal. Sebelumnya, pemeriksaan mata hanya dilakukan setahun sekali oleh Puskesmas. Namun dengan pelatihan ini, Bu Rini dapat merespons lebih cepat terhadap keluhan siswa terkait penglihatan dan melakukan skrining secara mandiri.

Namun, pelaksanaan skrining mata di sekolah pasca pelatihan pada 10 Oktober 2024 tidak semudah yang Bu Rini bayangkan. Beliau menghadapi penolakan dari hampir seluruh rekan guru. Skrining mata oleh guru dianggap sebagai hal yang baru dan tidak semestinya dilakukan oleh pihak sekolah, karena biasanya menjadi tugas Puskesmas. Bahkan, kehadiran Program I-SEE sempat disalahartikan sebagai upaya berjualan kacamata. Persepsi ini muncul saat Bu Rini melakukan sosialisasi hasil pelatihan kepada rekan-rekannya. Tantangan ini menjadi hambatan besar bagi Bu Rini dalam menjalankan skrining mata di sekolah. Sebagai solusi, Kepala Madrasah mengambil jalan tengah dengan mengizinkan kegiatan skrining berjalan apabila ada surat permohonan resmi dari Yayasan Para Mitra Indonesia. Dengan adanya surat tersebut, kegiatan skrining pun dapat dilaksanakan di sekolah.

Bu Rini melakukan skrining pada siswinya
di MTsN 4 Magetan

Berdasarkan surat tersebut akhirnya  dilakukan skrining  pada 9 kelas yang terdiri dari 7 kelas tingkat satu dan 2 kelas tingkat dua dengan jumlah siswa yang di skrining laki-laki 280 dan perempuan 297 dan ditemukan 26 anak yang diduga mengalami gangguan penglihatan. Bahkan kegiatan awal skrining ini belum bisa membuktikan kepada rekan guru lainnya jika tidak ada penjualan kacamata di sekolah. Bu Rini semakin merasa tidak nyaman dengan sikap rekan-rekannya tersebut.

Keraguan tersebut akhirnya terbantahkan ketika dari hasil rujukan, sebanyak 12 siswa menerima bantuan kacamata dari Program I-SEE, sementara sisanya mendapatkan bantuan melalui mekanisme BPJS. Momen penting terjadi ketika, dengan izin Kepala Madrasah, peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) diperingati di lingkungan sekolah dengan menghadirkan Kepala Puskesmas Kawedanan sebagai narasumber. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan kacamata secara simbolis kepada siswa penerima bantuan dari Program I-SEE. Kegiatan ini menjadi titik balik yang membuka pola pikir para guru. Dukungan dari pihak puskesmas dan bukti nyata bantuan kacamata yang diterima siswa membuat para guru mulai percaya dan memberikan dukungan kepada Bu Rini.

Sejak saat itu, dukungan dari rekan-rekan guru terhadap upaya deteksi gangguan penglihatan semakin menguat. Guru kelas pun mulai berperan aktif dengan meneruskan informasi hasil skrining kepada orang tua siswa, khususnya bagi yang terindikasi mengalami gangguan penglihatan, agar dapat ditindaklanjuti ke layanan kesehatan. Salah satu contohnya adalah siswa bernama Latifa, yang ditemukan memiliki gangguan penglihatan dengan minus 12. Berkat komunikasi yang baik antara wali kelas dan orang tua, Latifa akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Meski kini Bu Rini sudah mendapat dukungan dari sekolah, beliau merasa perjuangannya belum selesai. Guru yang dikenal disiplin ini memiliki rencana besar agar kegiatan skrining mata yang terbukti bermanfaat, dapat terus dilaksanakan secara rutin di sekolah. Beliau juga berencana untuk menularkan pengetahuan dan keterampilannya dalam melakukan skrining kepada rekan-rekan guru serta kader UKS, agar dapat menjangkau seluruh siswa di MTsN 4 Magetan yang jumlahnya sekitar 600 orang.

Perjalanan Bu Rini dari menghadapi penolakan hingga mendapat dukungan penuh dan merancang perubahan besar di sekolah patut dijadikan teladan. Beliau berharap, sekolah-sekolah lain juga bisa mengimplementasikan langkah sederhana ini, mengingat semakin meningkatnya kasus gangguan penglihatan pada siswa. Sekolah diharapkan tidak lagi hanya bergantung pada tenaga kesehatan, melainkan dapat lebih proaktif dalam mendeteksi dan menangani gangguan penglihatan sejak dini demi masa depan anak-anak yang lebih baik.

Penulis : Erna Kusuma Sari

Dengan Legalitas, PERTUNI Kabupaten Ngawi Menjadi lebih Berdaya

Ahmad Zainuddin, Ketua PERTUNI Kabupaten Ngawi (nomor 3 dari kanan), anggota, dan Tim I-SEE dalam satu kegiatan pertemuan.

“Legalitas bukan sekadar formalitas—ia menjadi kunci pengakuan dan pintu pembuka akses sumber daya serta peluang kolaborasi yang lebih luas.”

Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kabupaten Ngawi berdiri tahun 2019 dengan ketua Bapak Heri. Organisasi ini sempat mengalami kevakuman  terutama saat pandemi Covid-19. PERTUNI kembali aktif pada tahun 2022, tetapi mengalami masalah internal yang menyebabkan pergantian ketua. Akhirnya, Bapak Ahmad Zainuddin ditetapkan sebagai ketua PERTUNI dengan surat keputusan resmi. Meskipun telah berdiri cukup lama, PERTUNI Kabupaten Ngawi belum memiliki legalitas yang jelas. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman anggota PERTUNI mengenai proses dan pentingnya legalitas organisasi, seperti pendaftaran ke bank, Kesbangpol, dan Dinas Sosial. Karena tidak mempuyai legalitas maka PERTUNI kurang mendapatkan pengakuan di Kabupaten Ngawi.

Titik balik terjadi dengan hadirnya program kesehatan mata I-SEE, dimana program ini dikembangkan dengan prinsip inklusif. Dalam implementasinya, program I-SEE bekerja sama dengan organisasi disabilitas salah satunya adalah PERTUNI. Sebagai mitra, PERTUNI medapatkan  pemberdayaan berupa peningkatan kapasitas dan pendampingan. Disability Inclusion Development (DID) merupakan pelatihan pertama yang diberikan kepada perwakilan PERTUNI untuk mempersiapkan organisasnya agar bisa berpartisipasi aktif dalam melakukan pelatihan pada layanan. Dalam pelathan DID ini terdapat materi tentang advokasi yang banyak mendorong agar organisasi disabilitas  menjadi organisasi yang berdaya. Untuk menjadi organisasi yang cukup diperhitungkan, maka secara internal organisasi juga harus kuat.

Ahmad Zainuddin dalam Kegiatan Program I-SEE di Kabupaten Ngawi

Rupanya pelatihan ini membuka wawasan PERTUNI tentang pentingnya legalitas organisasi. PERTUNI dan Tim I-SEE Kabupaten Ngawi kemudian berkolaborasi untuk mengupayakan legalitas PERTUNI. Dalam proses ini Tim I-SEE mendampingi PERTUNI mulai dari pembuatan dokumen dan penyerahan berkas ke bank, Kesbangpol, dan Dinas Sosial. Upaya ini membuahkan hasil positif.

Dampak bagi internal organisasi sangat dirasakan perubahannya bagi pengurus khususnya ketua. Wawasan Bapak Ahmad selaku ketua mulai terbuka sehingga beliau juga membuka komunikasi untuk penguatan jaringan baik dengan Dinas Sosial maupun organisasi penyandang disabilitas yang lainnya. Selain itu, perubahan juga mulai dilakukan dengan menyusun rencana kegiatan organisasi berupa sharing pengetahuan, perluasan keanggotaan yang saat ini terbatas pada 20 orang, maupun pendataan netra baru.

Sebulan setelah pendaftaran legalitas di Dinas Sosial, PERTUNI juga menerima bantuan bingkisan sembako untuk anggotanya. Bantuan ini menjadi bukti nyata bahwa PERTUNI juga diperhitungkan setelah mempunyai legalitas organisasi dalam mengakses sumber daya dan dukungan. Dinas Sosial juga menjadi lebih terbuka pada PERTUNI dengan memberi kesempatan untuk mengajukan proposal ketika menginisiasi kegiatan. Semoga upaya ini menjadi awal yang baik bagi PERTUNI untuk memperkuat internal organisasinya dan berdampak pada penguatan eksternal yang lebih baik. Harapan besar  upaya yang dilakukan PERTUNI Kabupaten Ngawi ini akan menginspirasi organisasi difabel lain untu berbenah sehingga keberadaannya akan diperhitungkan oleh pihak lain.

Penulis : Jayanti

Kepemimpinan Informal Sang Kader, Sebuah Transformasi Upaya Pengurangan Gangguan Penglihatan di Desa Pucanganom Kabupaten Madiun

Sosok Titik Ernawati (tengah dengan baju kuning) bersama dengan para kader di Desa Pucanganom

Pada bulan September 2024, di Desa Pucanganom, Kabupaten Madiun, dimulailah sebuah kegiatan skrining mata , yang merupakan bagian dari upaya deteksi dini gangguan penglihatan masyarakat. Kegiatan ini bukan hal baru, namun sebenarnya adalah sebuah kegiatan untuk penguatan program rutin yang telah ada di masyarakat, namun menjadi luar biasa berkat kiprah seorang koordinator kader bernama Titik Ernawati.

Titik memang bukan kader yang mengikuti pelatihan yang diadakan oleh program I-SEE (Inclusive System for Effective I Care), karena ibu yang rajin ini lebih mendahulukan anggotanya. Namun beliau mengikuti mendapatkan pelatihan mandiri dari kader yang sudah dilatih . Selain itu beliau juga mengikitui refresh kader yang dilakukan 6 bulan bulan setelah pelatihan kader sehingga materi tentang screening mata juga dikuasai.  Semangat seorang koordinator  semakin terpupuk dengan adanya 6 kader yang telah dilatih skrining mata pada bulan September yang lalu.  Selama mengikuti proses kegiatan kesehatan mata di Posyandu yang dilakukan oleh kader terlatih, Ibu yang energik ini juga banyak belajar dari berbagai tantangan. Beliau terus berpikir dan belajar, mimpi besarnya adalah mewujudkan Pucanganom bebas gangguan penglihatan.

Beliau bukan hanya menjembatani antara tim pelaksana dan masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan dan memotivasi kader lainnya. Keterlibatan aktifnya sangat terasa sejak program-program yang ada di desa pucanganom muncul. “Yang penting masyarakat paham dan merasa dekat dengan pelayanan. Kalau mereka merasa dilibatkan dan didengar, mereka akan datang dengan sendirinya,” ujar Titik dalam sebuah pertemuan kader.

Hasilnya nyata! Partisipasi warga dalam skrining mata di Posyandu mencapai 90%. Tidak hanya itu, Titik mampu memetakan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak untuk menjadi prioritas sasaran. Komunikasi antara kader, tenaga kesehatan, dan perangkat desa pun berjalan lebih lancar berkat pendekatan personal dan strategis yang ia lakukan.

Skrining mata dengan hitung jari, kegiatan yang dilakukan pada Omah Tamu Ngayomi

Salah satu inovasi yang lahir dari tangan dingin Titik adalah “Omah Tamu Ngayomi”, singkatan dari Omah Tes Mata Pucanganom Inklusi. Inovasi ini berupa titik-titik strategis di desa yang menyediakan media skrining mata mandiri. Warga bisa memeriksa matanya sendiri tanpa harus jauh-jauh ke fasilitas kesehatan. Ide ini muncul dari hasil advokasi Titik bersama pemerintah desa, yang kemudian dituangkan dalam SK resmi.

Tidak berhenti di sana, Titik juga mendorong lahirnya MoU antara pemerintah desa dan seluruh sekolah di wilayah Pucanganom. Isinya: setiap sekolah wajib memberikan dispensasi dan mendukung siswanya untuk datang ke Posyandu ILP guna mendapatkan semua layanan kesehatan salah satunya skrining mata. Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana kepemimpinan informal bisa berdampak besar pada kebijakan desa.

Tentu, tidak semua berjalan sempurna. Minimnya pelatihan teknis menyebabkan beberapa misskomunikasi di awal kegiatan, terutama dalam pengisian data dan pemahaman prosedur skrining. Namun semua kendala itu berhasil diatasi seiring waktu, berkat komunikasi terbuka dan semangat belajar bersama.

Dari pengalaman ini, kita belajar bahwa pelatihan dasar tetap penting untuk memastikan pemahaman teknis. Namun lebih dari itu, semangat, kepedulian, dan kepemimpinan informal seperti yang ditunjukkan oleh Titik Ernawati adalah elemen kunci yang mampu membawa perubahan besar di tingkat desa. Dengan dorongan yang tepat, peran kader seperti Titik bisa berkembang menjadi motor penggerak utama dalam transformasi layanan kesehatan masyarakat.

Titik berharap agar lebih banyak desa bisa menumbuhkan kader seperti dirinya, yang mau belajar, bergerak, dan memimpin tanpa harus menunggu jabatan formal. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan mata, tetapi juga merasa memiliki terhadap layanan kesehatan di desa mereka.

Penulis : Anjar Susilowati

Program I-SEE Bangun Sistem Rujukan Low Vision di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi

Dalam upaya memperkuat layanan kesehatan mata yang inklusif, Program I-SEE (Inclusive System for Effective Eye Care) bersama konsultan low vision melakukan kunjungan koordinasi ke RSUD Soeroto Ngawi, RSUD Caruban Madiun, dan RSU Bhakti Persada Magetan. Kegiatan ini bertujuan membangun komunikasi awal dalam membentuk sistem rujukan berjenjang untuk pasien low vision di Kabupaten Ngawi, Madiun, dan Magetan.

Kunjungan yang berlangsung secara estafet di masing-masing rumah sakit tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk dokter spesialis mata, refraktionis optisien (RO), manajemen rumah sakit, konsultan low vision Ibu Irene dari Yayasan Bhakti Luhur Malang, serta tim dari Dinas Kesehatan dan Yayasan Para Mitra Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Ibu Irene menekankan pentingnya kerja sama antara rumah sakit kabupaten dan rumah sakit tersier untuk menangani pasien low vision. “Karena jumlah rumah sakit yang membuka layanan low vision masih terbatas, rujukan ke layanan tersier menjadi sangat penting. Penulisan ‘suspek low vision’ dalam surat rujukan juga perlu dilakukan untuk memperjelas kondisi pasien,” ujarnya.

Diskusi berlangsung aktif dengan membahas kriteria diagnosis low vision, mekanisme rujukan pasien ke rumah sakit rujukan, seperti RS Mata Masyarakat Surabaya (RSMM) dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya, serta kebutuhan dukungan alat bantu seperti kacamata, kaca pembesar (magnifier), dan alat bantu lainnya.

Program I-SEE juga menekankan pentingnya pendampingan pada keluarga pasien agar semakin aware terhadap putra-putri mereka yang mengalami low vision. Hal ini diharapkan menjadi stimulan agar pasien dan keluarga lebih terdorong untuk mengakses layanan kesehatan mata di tingkat lanjut.

Diskusi juga membahas rencana koordinasi lebih lanjut, terutama untuk pasien low vision di usia sekolah, mengingat Program I-SEE memiliki fokus pada siswa SD dan SMP. Penanganan pasien disabilitas seperti down syndrome yang rentan mengalami gangguan penglihatan juga menjadi bagian dari pertemuan ini.

Penanganan pasien dengan disabilitas menjadi salah satu fokus penting, mengingat Program I-SEE telah melakukan pelatihan bagi guru-guru SLB. Harapannya dokter spesialis mata di rumah sakit dapat memberikan pelayanan yang lebih inklusif kepada pasien disabilitas.

Kegiatan ini ditutup dengan kesepakatan untuk mempererat koordinasi antara Program I-SEE dan rumah sakit kabupaten. Kedua belah pihak berharap langkah ini akan membuka jalan bagi terbentuknya layanan kesehatan mata yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi.

Program I-SEE Dorong Kolaborasi Strategis dalam Muscab PERTUNI Magetan

Musyawarah Cabang PERTUNI Kabupaten Magetan

Magetan – Program I-SEE Kabupaten Magetan menunjukkan partisipasi aktif dalam kegiatan penguatan jejaring Organisasi Penyandang Disabilitas (Opdis). Hal ini terbukti melalui kehadiran tim di Musyawarah Cabang (Muscab) ke-IX Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI) Kabupaten Magetan pada Rabu, 23 April 2025, di Gedung Karang Taruna Magetan.

Erna Kusuma Sari, Koordinator Wilayah Program I-SEE Kabupaten Magetan, hadir dan berperan aktif sebagai sekretaris sidang dalam forum tersebut. Ia turut memastikan jalannya sidang berlangsung efektif, termasuk menyampaikan Rancangan Tata Tertib Sidang, memfasilitasi diskusi program kerja, dan menjaga partisipasi peserta melalui absensi di setiap sesi. Kehadiran ini bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari upaya memperkuat sinergi antara Program I-SEE dengan organisasi penyandang disabilitas dalam membangun layanan kesehatan mata yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, Erna mewakili Tim I-SEE Kabupaten Magetan turut menyampaikan beberapa usulan strategis untuk dimasukkan ke dalam program kerja PERTUNI periode 2025–2030. Usulan tersebut mencerminkan semangat pemberdayaan berbasis komunitas, yaitu: (1) melakukan kunjungan rumah kepada netra baru guna memperkuat dukungan psikososial awal, (2) menginisiasi sistem rujukan rehabilitasi sosial yang berpusat pada organisasi PERTUNI sebagai penggerak layanan, dan (3) membangun kerja sama dengan mitra untuk memperluas akses layanan kesehatan yang inklusif dan ramah disabilitas.

Partisipasi ini sejalan dengan pendekatan program I-SEE yang menempatkan PERTUNI Magetan sebagai aktor kunci dalam perencanaan dan advokasi layanan kesehatan mata inklusif. Kehadiran Program I-SEE dalam Muscab PERTUNI Magetan diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan kerja sama, tetapi juga menandai babak baru kolaborasi dalam membangun sistem kesehatan mata yang inklusif, adil, dan berkelanjutan di Kabupaten Magetan.

Lowongan Pekerjaan Fasilitator Ngawi

Halo, sobat YPM~

Saat ini, Yayasan PARA MITRA Indonesia sedang membuka pekerjaan untuk 1 orang (termasuk disabiltas) yang diposisikan sebagai fasilitator pada program kesehatan mata di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Persyaratan:

  • Diutamakan berdomisili di wilayah Ngawi
  • Memiliki pengalaman pada pemberdayaan masyarakat (poin plus pada kesehatan dan LSM)
  • Minimal pendidikan SMA/se-derajat
  • Laki-laki/perempuan usia maksimal 40 tahun
  • Mampu berkomunikasi dengan baik
  • Berdedikasi tinggi dan siap bekerja di bawah tekanan
  • Memiliki kendaraan bermotor dan SIM C
  • Tidak pernah dalam kasus kekerasan dan pelecehan pada perempuan dan anak-anak


Jika Anda memenuhi persyaratan di atas dan tertarik untuk bergabung, segera kirimkan surat lamaran, CV, dan data diri ke surel ypm@paramitra.or.id (online).  Lowongan ini berlaku mulai 6 hingga 10 Maret 2025.

Informasi selengkapnya hubungi 0812 5296 2027 (Marsudi).

Sebarkan informasi baik ini untuk kawan-kawan yang membutuhkannya.

Komatda Probolinggo Gelar Operasi Katarak Gratis: 70 Pasien Terbantu Berkat Kolaborasi dengan PT Jawa Power dan Paiton Energy

Komite Mata Daerah (Komatda) Kabupaten Probolinggo kembali menunjukkan kiprahnya sebagai entitas yang peduli terhadap persoalan gangguan penglihatan. Komatda menjalin kerjasama dengan  PT Jawa Power dan Paiton Energy berhasil melakukan baksos operasi katarak. Sebanyak 70 pasien katarak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menjalani operasi mata katarak gratis di RS Rizani.

Perkuat Program I-SEE di Kabupaten Ngawi, Yayasan Para Mitra Indonesia dan CBM Global Gelar Pertemuan Stakeholder

Foto Bersama Pertemuan Stakeholder Kabupaten Ngawi (16/01/2025)

Ngawi, 18 Januari 2025- Yayasan Para Mitra Indonesia dan CBM Global yang bekerja sama dalam program I-SEE kembali menggelar pertemuan stakeholder di Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini dirancang dengan tujuan untuk memahami perkembangan program, sekaligus memberikan masukan dengan dinamika kesehatan mata di Kabupaten Ngawi. Pertemuan stakeholder program I-SEE digelar di Gedung Pendataan Pemerintah Daerah Ngawi pada 16 Januari 2024.

Dalam sambutannya, Direktur Para Mitra, Asiah Sugianti, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah atas fasilitas yang disediakan. “Program I-SEE tidak hanya fokus pada kesehatan mata, tetapi juga peduli terhadap kawan-kawan disabilitas. Ini adalah program kesehatan mata yang inklusif,” ujarnya.

Beliau juga mengumumkan bahwa pertemuan ini akan rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali dan disertai dengan kunjungan lapangan untuk meninjau implementasi program secara langsung. “Kami berharap program ini menjadi milik bersama dan dapat diadopsi oleh Pemerintah Daerah di masa mendatang,” tambahnya.

Sambutan oleh Asisten 1, Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Asisten 1), Hadi Suroso, mengapresiasi upaya Yayasan Para Mitra Indonesia dalam mendukung tugas-tugas Pemerintah Daerah, khususnya dalam mencegah kebutaan. Beliau juga menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan pada siswa untuk mendukung proses belajar mengajar. “Pengalaman saya sejak SD sudah mengalami gangguan penglihatan, dan baru terbantu dengan kacamata saat SMP. Oleh karena itu, kolaborasi semua stakeholder sangat diperlukan untuk mencegah keterlambatan penanganan,” jelasnya.