Dukung Peningkatan Skrining, Puskesmas Karanganyar Gelar Sosialisasi Bersama Tim I-SEE Kabupaten Ngawi

Dokumentasi Tim I-SEE Kab. Ngawi, 2024

Rabu, 17 Juli 2024- Puskesmas Karanganyar menjadi tuan rumah bagi acara penting yang dihadiri oleh Guru UKS untuk sosialisasi Program I-SEE. Acara ini merupakan bagian dari pertemuan Validasi dan Evaluasi Data Anak Usia Sekolah Dasar yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mata siswa di Kabupaten Ngawi.

Nasyrullah selaku community organizer dari Tim I-SEE Ngawi menjadi representasi kegiatan hari ini. Nasyrul memaparkan gambaran umum mengenai program Kesehatan Mata yang akan berlangsung selama tiga tahun. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Guru UKS dalam melakukan skrining penglihatan sederhana.

Program I-SEE dirancang dengan tujuan utama untuk meningkatkan keterampilan Guru UKS dalam melakukan skrining penglihatan sederhana pada siswa. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para guru dapat mendeteksi dini gangguan penglihatan pada siswa dan memberikan rujukan yang tepat. Pelatihan ini akan diberikan kepada Guru UKS tingkat SMP/MTs dan SD/MI, dan jumlah sekolah yang akan dilatih akan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.

Para guru merespon dengan sangat antusias terhadap program ini. Mereka sering kali menemukan siswa yang mengalami gangguan penglihatan namun tidak berani melaporkannya kepada guru atau orang tua. Selain itu, para guru merasa bahwa mereka belum memiliki keahlian yang cukup untuk melakukan skrining mata.

Harapannya, semua sekolah yang terdiri dari 20 SD, 3 MI, dan 4 SMP di wilayah kerja Puskesmas Karanganyar dapat mengikuti pelatihan skrining mata ini. Dengan demikian, mereka dapat membantu mendeteksi dini gangguan penglihatan pada siswa dan segera memberikan rujukan yang tepat.

Partisipasi Aktif Yayasan Para Mitra Indonesia dalam Mendukung Penanggulangan Tuberkulosis di Kabupaten Pasuruan

Yayasan Para Mitra Indonesia, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan dan Stop TB Partnership Indonesia (STPI), telah berhasil melaksanakan program Public-Private Mix (PPM). Program ini telah rutin dilakukan sejak November 2023 hingga Mei 2024.

Hal tersebut merupakan bukti partisipasi Yayasan Para Mitra Indonesia dalam mendukung proyek implementasi advokasi PPM di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dari November 2023 hingga Mei 2024. Berbagai pencapaian signifikan telah diraih dalam program ini, antara lain:

  1. Melakukan review terhadap draf Rencana Aksi Daerah (RAD-TBC) yang telah disusun pada tahun 2019.
  2. Menyusun draf Peraturan Bupati tentang Penanggulangan Tuberkulosis yang kini sedang diajukan ke tingkat provinsi untuk pengesahan.
  3. Menyelesaikan finalisasi draf Rencana Aksi Daerah (RAD-TBC) yang siap diimplementasikan.

Keberhasilan ini menunjukkan komitmen dan dedikasi Yayasan Para Mitra Indonesia bersama mitra-mitra strategisnya dalam menangani permasalahan tuberkulosis di wilayah Kabupaten Pasuruan. Melalui kolaborasi yang harmonis antara sektor publik dan swasta, diharapkan dapat tercipta solusi efektif yang berkelanjutan untuk memerangi penyakit ini dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Peluncuran Program I-SEE, Menguatkan Sistem Kesehatan Mata Inklusif di Kabupaten Madiun

Dokumentasi Tim I-SEE Kabupaten Madiun

Madiun, 2 Juli 2024 – Yayasan Para Mitra Indonesia secara resmi meluncurkan program Inclusive System for Effective Eye Care  (I-SEE) yang diselenggarakan di Gedung Graha Praja Mukti, Pusat Pemerintahan Kabupaten Madiun (Selasa, 2 Juli 2024).

Program ini merupakan inti dari kerja sama antara Yayasan Para Mitra Indonesia dengan CBM Global yang dimulai sejak 15 April 2024. Peluncuran I-SEE di Kabupaten Madiun merupakan tindak lanjut dari acara Kick Off Tiga Kabupaten, yang juga melibatkan Kabupaten Magetan dan Ngawi yang dilaksanakan pada 21 Mei 2024 lalu. Program I-SEE menjadi kelanjutan atas proyek percontohan yang berhasil dilakukan di Kabupaten Tuban dan Probolinggo dari tahun 2018-2023.

Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugianti, menyampaikan bahwa peluncuran Program I-SEE di Madiun ini bertujuan untuk memperkuat kemitraan dengan para pemangku kepentingan lokal. “Peluncuran ini merupakan tindak lanjut untuk mengawali program dan koordinasi dengan pemangku kepentingan di Kabupaten Madiun agar mereka memahami sejak tujuan awal dan langkah-langkah dari Program I-SEE,” ujar Asiah.

Asiah juga menekankan pentingnya peran aktif komunitas difabel dalam program ini. Kontrak Program I-SEE di Kabupaten Madiun akan berlangsung selama tiga tahun, dengan setiap enam bulan sekali mengundang pemangku kepentingan untuk memantau perkembangan program. Program ini dirancang sesuai dengan kondisi masing-masing kabupaten berdasarkan penilaian awal.

CBM Global, yang secara nasional telah menandatangani MoU dengan Kementerian Sosial, akan mendukung program ini melalui pelatihan kesehatan mata untuk tenaga kesehatan puskesmas, kader desa, dan guru sekolah dampingan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Agung Triwidodo, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan yang hadir. Agung mengungkapkan bahwa masalah gangguan penglihatan di Kabupaten Madiun masih cukup tinggi, dengan kasus katarak mencapai 7.924 orang, gangguan refraksi 17.234 orang, dan glaukoma 828 orang pada tahun 2023.

“Dengan adanya pendampingan dari Paramitra dan CBM, diharapkan tercipta pemahaman antar stakeholder untuk merencanakan upaya peningkatan kesehatan mata di Kabupaten Madiun,” kata Agung. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan dalam proyek I-SEE antara lain pelatihan bagi tenaga kesehatan, kader, guru, dan jurnalis, pembentukan desa sehat mata, penyuluhan masyarakat, pemberian kacamata, serta layanan rujukan bagi pasien.

Dalam pembukaan acara, Asisten 1 Sekretariat Kabupaten Madiun menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mata sebagai faktor vital. “Mata adalah jendela dunia. Jika ada gangguan pada penglihatan, kita tidak bisa menikmati keindahan dunia,” ujarnya. Beliau juga menekankan perlunya perhatian khusus terhadap anak-anak yang sudah menggunakan kacamata dan pentingnya upaya pencegahan gangguan kesehatan mata sejak dini.

“Kita harus mendukung Program I-SEE agar dapat berjalan dengan baik di Kabupaten Madiun,” tambahnya. Dengan komitmen bersama antar pemangku kepentingan, diharapkan program ini dapat membantu Madiun mempersiapkan generasi yang tumbuh lebih baik.

Di samping itu, selama pemaparan materi Project Manager, Moch. Marsudi, memaparkan bahwa sistem kesehatan mata yang inklusif dan komprehensif ini tidak hanya untuk Kabupaten Madiun, tetapi juga dapat direplikasi oleh kabupaten lain. “Tujuan kami adalah memperkuat sistem kesehatan mata dan meningkatkan akses layanan yang komprehensif,” jelasnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya pencatatan dan publikasi yang baik untuk mendorong praktik baik dari Madiun agar dapat dicontoh oleh kabupaten lain. Marsudi menambahkan bahwa perencanaan yang aksesibilitas akan meningkatkan nilai dalam proses perencanaan pembangunan, dan suasana yang ramah dapat mempercepat penyembuhan pasien.

Tidak hanya itu, peluncuran program ini juga melibatkan diskusi kelompok dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut. Para peserta kegiatan dibagi menjadi lima kelompok diskusi berdasarkan tema di bidangnya, seperti kesehatan, pendidikan, sosial, dan pemerintah. Diskusi ini bertujuan untuk menyusun rencana kegiatan yang akan dilakukan bersama dalam implementasi Program I-SEE.

Dari hasil diskusi tersebut, terdapat beberapa rekomendasi yang disampaikan antara lain sekaigus menjadi catatan penting atas kelanjutan program, antara lain:

Bidang Kesehatan:

  1. Skrining mata pada anak usia >7 tahun.
  2. Pelatihan untuk tenaga kesehatan dan kader.
  3. Rujukan kasus mata dengan RSUD.
  4. Sosialisasi tentang kesehatan mata.
  5. Pertemuan database Dinkes dan RS pada bulan Agustus.
  6. Pelatihan perawat untuk operasi katarak.
  7. Pelatihan dokter untuk penanganan low vision.
  8. Pelaporan berkala dari RS ke Dinkes terkait data kasus katarak dan gangguan penglihatan lainnya setiap bulan.

Bidang Pendidikan:

  1. Pelatihan guru pada September 2024.
  2. Berbagi ilmu oleh guru terlatih kepada guru lain di sekolah.
  3. Penyaringan pada warga sekolah (PTK dan siswa).
  4. Pemeriksaan di puskesmas bagi siswa yang terindikasi mengalami gangguan tajam penglihatan.

Bidang Sosial:

  1. Pendataan anak putus sekolah yang mengalami gangguan penglihatan refraksi dan low vision oleh TKSK.
  2. Penyediaan alat bantu mobilitas bagi penyandang disabilitas.
  3. Edukasi tentang dampak negatif penggunaan gadget bagi anak-anak dengan gangguan penglihatan.

Bidang Pemerintahan:

  1. Menerima usulan rencana pengagaran oleh Dinkes dan dinas terkait pada Juli-September.
  2. Audiensi dengan pemangku kepentingan program OPD (Dinkes, Dinsos).
  3. Pengusulan peraturan bupati ke bagian hukum.

Dengan adanya program I-SEE, diharapkan dapat membantu Kabupaten Madiun dalam mempersiapkan generasi yang tumbuh lebih baik, serta mengatasi tingginya gangguan penglihatan di masyarakat.

Peluncuran Program I-SEE: Langkah Awal Menuju Kesehatan Mata yang Lebih Baik di Kabupaten Ngawi

Kesehatan mata adalah aspek penting dalam kehidupan sehari-hari yang sering kali diabaikan. Banyak orang yang menganggap sepele gangguan penglihatan hingga akhirnya mereka mengalami masalah serius. Namun, di Kabupaten Ngawi, sebuah inisiatif baru sedang digulirkan untuk menangani masalah ini dengan serius.

Pada tanggal 24 Juni 2024, peluncuran Program I-SEE diadakan di Gedung Kesenian Kabupaten Ngawi. Asiah Sugianti selaku Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, mengumumkan bahwa Yayasan Para Mitra telah menandatangani kontrak dengan CBM Global pada 15 April 2024. Program ini melibatkan tiga kabupaten, yaitu Madiun, Ngawi, dan Magetan.

Dalam program ini, setiap enam bulan sekali, para stakeholder akan diundang untuk mengetahui perkembangan program. “Kami ingin semua pihak terlibat dan memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang kami lakukan,” ujar Asiah. Program ini bertujuan untuk memperkuat sistem kesehatan mata yang komprehensif dan inklusif, serta mengajak teman-teman dari komunitas difabel untuk berpartisipasi aktif.

Fokus pada Kabupaten Ngawi: Kesehatan Mata dan Peran Stakeholder

Kabupaten Ngawi menjadi salah satu fokus utama dalam Program I-SEE. Menurut dr. Yudono M. M. Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, kondisi gangguan penglihatan di kabupaten ini cukup banyak, termasuk kasus katarak yang belum tertangani dengan baik. Rencana kerja program ini mencakup deteksi dini gangguan penglihatan oleh kader yang akan menskrining masyarakat, guru yang akan menskrining siswa, hingga mendapatkan pengobatan di tingkatan rumah sakit.

Berdasarkan Panduan dari Permenkes No.82 Tahun 2020 tentang gangguan penglihatan dan pendengaran, program ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kader dalam deteksi dini gangguan penglihatan dan berharap para guru dapat mendeteksi gangguan penglihatan pada siswa sejak dini.

Menurunkan Angka Gangguan Penglihatan di Ngawi

Program I-SEE bertujuan menurunkan angka gangguan penglihatan di Kabupaten Ngawi sebanyak 25% sesuai dengan Permenkes No.82 Tahun 2020. Program ini sejalan dengan strategi pemerintah yang meliputi penguatan advokasi dan koordinasi, serta membangun komunikasi dari tingkatan RT hingga kabupaten.

Ada beberapa alasan pemilihan Kabupaten Ngawi untuk Program I-SEE:

  1. Adanya rasio satu puskesmas per kecamatan.
  2. Angka kepesertaan JKN di Ngawi tinggi.
  3. Terdapat lima SPM pada tiga rumah sakit.
  4. Tingkat aktivitas pos kesehatan tinggi sebesar 90%.
  5. Dukungan pemerintah yang kuat.
  6. Kasus katarak 326 orang, namun yang dirujuk ke rumah sakit baru 131 orang.

Dalam tiga tahun ke depan, ada empat hal yang harus dicapai:

  1. Masyarakat terlibat aktif dalam pencegahan gangguan penglihatan. Kegiatan edukasi di posyandu lansia, pelatihan kader dan guru, serta adanya desa sehat mata yang didukung oleh kebijakan desa.
  2. Peningkatan layanan kesehatan mata. Termasuk pembiayaan untuk kesehatan mata, pelatihan perawat, dokter umum puskesmas, dan SPM terkait low vision.
  3. Kebijakan pemerintah daerah yang mendukung layanan kesehatan mata. Adanya komite mata daerah dengan keterwakilan dari pemangku kepentingan dan kebijakan dari desa untuk kesehatan mata, serta pelatihan jurnalis untuk mensosialisasikan penulisan berita yang melibatkan disabilitas.
  4. Manajemen proyek yang efektif.

Penguatan Layanan Kesehatan Mata di Ngawi

Program I-SEE di Kabupaten Ngawi, Magetan, dan Madiun merupakan replikasi dari pilot project yang sukses di Tuban dan Probolinggo. Skema penerapan program ini disesuaikan dengan kondisi di masing-masing kabupaten berdasarkan asesmen awal. CBM Global secara nasional telah menandatangani MOU dengan Kementerian Sosial karena fokusnya pada permasalahan-permasalahan difabel. Di tingkat kabupaten, program ini akan dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan dan didukung oleh dinas sosial, pendidikan, dan Kementerian Agama.

Pelatihan kesehatan mata akan diberikan kepada tenaga kesehatan di puskesmas, kader desa, dan guru sekolah. Peran stakeholder sangat penting dalam pelaksanaan program ini sesuai dengan dinas masing-masing. Program I-SEE bertujuan untuk memperkuat sistem yang sudah ada di pemerintah atau Dinas Kesehatan.

Peran Juru Bahasa Isyarat dalam Program I-SEE

Faizal C.M dari SLB Ngawi menjelaskan pentingnya Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam membantu komunikasi dengan teman-teman disabilitas bisu tuli. “JBI berada di depan menghadap undangan, memastikan semua bisa terlibat dalam forum,” kata Faizal. Ini adalah salah satu tindakan inklusi yang sangat penting dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan dalam Program I-SEE.

Marsudi, Project Manager Program I-SEE, menambahkan bahwa program ini bertujuan untuk memperkuat sistem yang ada dengan bekerja sama dengan pemangku kepentingan di Kabupaten Ngawi. Program ini juga bertujuan meningkatkan akses ke layanan kesehatan yang inklusif dan komprehensif, membangun rujukan yang berjenjang dari kader atau guru hingga layanan kesehatan dan rehabilitasi sosial yang tersistem.

Efektivitas dan Harapan dari Program I-SEE

Program I-SEE di Kabupaten Ngawi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan menurunkan angka gangguan penglihatan. “Ketika angka penglihatan menurun, kesejahteraan ekonomi masyarakat Kab. Ngawi secara otomatis akan meningkat,” ujar dr. Retno Dewi Sulistiorini, Magister Manajemen Sumber Daya Manusia dan Konsultan Manajemen Kesehatan.

Pelatihan dan fasilitasi rumah sakit yang membutuhkan alat untuk operasi katarak akan terus diupayakan. Data yang dipaparkan dari Kabupaten Ngawi diharapkan memiliki sistem pencatatan yang baik. Pelatihan OPDs, mobilitas, dan komunikasi dengan disabilitas juga menjadi fokus utama.

Pada akhirnya, harapan besar dari Program I-SEE adalah agar masyarakat dan pemangku kepentingan dapat bekerja sama dengan baik dan program ini memberikan manfaat nyata bagi Kabupaten Ngawi. “Program ini bukan hanya tentang kesehatan mata, tetapi juga tentang inklusi, partisipasi, dan kesejahteraan bersama,” tutup Marsudi.

Program I-SEE yang diluncurkan oleh Yayasan Para Mitra Indonesia dan CBM Global di Kabupaten Ngawi membawa harapan baru bagi kesehatan mata dan keterlibatan komunitas difabel. Dengan dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan, pelatihan yang komprehensif, dan rencana kerja yang jelas, program ini berpotensi besar untuk mengubah wajah pelayanan kesehatan mata di Ngawi.

Dengan visi yang inklusif dan berkelanjutan, Program I-SEE tidak hanya akan membantu mengurangi angka gangguan penglihatan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Ngawi. Mari kita dukung dan lihat bersama bagaimana program ini membawa perubahan positif di masa depan.

Yayasan Para Mitra Indonesia dan CBM Global Luncurkan Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE)

Madiun – 21 Mei 2024 – Yayasan Para Mitra Indonesia, bekerja sama dengan CBM Global, resmi meluncurkan program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) di The Sun Hotel, Kota Madiun. Program ini bertujuan untuk meningkatkan layanan kesehatan mata yang inklusif dan optimal di Indonesia, khususnya di tiga kabupaten di Jawa Timur, yaitu Madiun, Magetan, dan Ngawi.

Acara peluncuran dimulai dengan pembacaan doa dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Setelah itu, profil CBM Global dan Yayasan Para Mitra Indonesia diperkenalkan kepada para peserta, yang terdiri dari berbagai Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi, jurnalis, serta organisasi penyandang disabilitas (Opdis) dari Jawa Timur.

Adrian Brahma Aditya dari CBM Global menjelaskan bahwa CBM adalah organisasi pembangunan yang fokus pada peningkatan kualitas hidup dan menciptakan dunia yang inklusif. “Kami mempunyai misi untuk memutus siklus kemiskinan dan disabilitas. Program I-SEE pertama kali dilaksanakan di Bandung pada tahun 2015-2017, kemudian di Jawa Timur (Probolinggo dan Tuban) pada tahun 2018-2023, dan di NTT pada tahun 2020-2025. Keberhasilan I-SEE di Jawa Timur sebelumnya mendorong kami melanjutkan program ini di tiga kabupaten baru, yaitu Madiun, Magetan, dan Ngawi,” ujarnya.

Asiah Sugianti, Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, menambahkan, “Program kesehatan mata adalah tanggung jawab bersama. Angka prevalensi gangguan penglihatan di Jawa Timur mencapai 4,4%, melebihi prevalensi nasional. Kerja sama lintas instansi, seperti DPRD, Bappeda, Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal,” jelas Asiah.

dr. Farida Cahyani, perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang membuka acara tersebut, menekankan pentingnya penglihatan dalam aktivitas sehari-hari. “Prevalensi gangguan mata di Jawa Timur tinggi, dan ini menjadi latar belakang program I-SEE. Dengan dukungan OPD terkait, kami dapat melayani masyarakat dengan lebih baik,” tuturnya.

CBM Global juga berkomitmen untuk bekerja dalam kemitraan jangka panjang dengan pemerintah, organisasi penyandang disabilitas, dan mitra pembangunan. “Kami berupaya memaksimalkan dampak melalui program berbasis komunitas dan promosi inklusi disabilitas di tingkat lokal hingga global,” kata Adrian dari CBM Global. “Kami memiliki kantor di 11 negara dan terus melanjutkan kerja di bawah CBM Internasional,” lanjutnya.

Inti acara diisi dengan pemaparan materi oleh Asiah Sugianti. Asiah menjelaskan tentang  program I-SEE yang meliputi  bagaimana mendorong penguatan sistem  layanan kesehatan mata mulai dari meningkatkan partisipasi masyarakat, meningkatkan sumber daya layanan sampai pada penguatan kebijakan dan sistem data. Program I-SEE mendapatkan dukungan dari berbagai instansi.

Kementerian Agama Madiun menanyakan manfaat yang akan diterima oleh sekolah-sekolah mereka dari program ini, sementara Kemenag Ngawi menanyakan bentuk bantuan dan aksesibilitasnya. Dinas Sosial Magetan ingin mengetahui tindak lanjut setelah pemeriksaan di masyarakat dilakukan.

Sebagai tanggapan, perwakilan Para Mitra menyatakan bahwa akan ada pelatihan bagi guru tingkat SD/MI di setiap kabupaten. “Temuan dari skrining akan dirujuk ke puskesmas hingga rumah sakit,” jelas mereka. Vivian Kameloh dari CBM Global menambahkan bahwa dukungan untuk operasi katarak juga akan dibahas lebih lanjut dengan pemerintah daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Vivian juga menegaskan bahwa tujuan program ini adalah mendukung program pemerintah dalam penanggulangan kesehatan mata. “Kami akan berdiskusi dengan OPD terkait pembiayaan dan pengadaan barang. Tahun pertama, CBM akan memberikan dukungan berupa katarak set. Tahun berikutnya, diharapkan masuk dalam anggaran pemerintah,” tutupnya.

Sesi tanya jawab mengungkapkan berbagai masalah kesehatan mata yang dihadapi masyarakat, termasuk informasi terkait pengobatan. Anggota Pertuni Jatim, Pungki Wardani, berbagi pengalaman buruknya. “Dengan adanya program I-SEE, diharapkan dapat memberikan informasi yang benar terkait pengobatan dan rujukan,” ungkapnya.

Program I-SEE tidak hanya bertujuan untuk memberikan layanan kesehatan mata tetapi juga untuk membangun sistem yang berkelanjutan dan inklusif. “Kami berharap dengan dukungan semua pihak, program ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat,” tutup Asiah Sugianti.

Dengan diluncurkannya program I-SEE, diharapkan layanan kesehatan mata di Jawa Timur akan semakin optimal dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.

Tim I-SEE Bertemu Ketua Persatuan Wartawan Online Kabupaten Magetan untuk Kolaborasi Program Mata Inklusif

Pada tanggal 16 Mei 2024, Tim I-SEE Kabupaten Magetan mengadakan pertemuan penting dengan Bapak Agus Suyanto, Ketua Persatuan Wartawan Online Kabupaten Magetan. Pertemuan ini berlangsung untuk membahas kolaborasi dalam mendukung program-program inklusif bagi penyandang disabilitas di daerah tersebut.

Bapak Agus, yang juga membawahi sejumlah media online terkenal seperti Magetan Lawu TV, RRI, Kompas, dan Lensa Nusantara, telah menunjukkan komitmennya dalam mendukung inisiatif-inisiatif sosial. Salah satu kontribusi signifikan yang beliau lakukan adalah membantu organisasi WIDAMA, sebuah OPD yang fokus pada dukungan bagi penyandang disabilitas. Melalui bantuan Bapak Agus, WIDAMA berhasil mendapatkan kendaraan roda tiga yang sangat berguna untuk menunjang usaha para penyandang disabilitas.

Pertemuan ini menandai langkah maju dalam upaya kolaboratif antara media, organisasi sosial, dan pemerintah daerah. Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan program-program inklusif seperti yang dijalankan oleh Yayasan Para Mitra Indonesia yang berkolaborasi dengan CBM Global dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat.

Perkenalkan Program I-SEE, Tim I-SEE Kabupaten Magetan Kunjungi Dinas Sosial

Pada Rabu, 15 Mei 2024, Tim I-SEE Yayasan Para Mitra Indonesia melakukan kunjungan produktif ke Dinas Sosial Kabupaten Magetan. Pertemuan tersebut disambut hangat oleh Kepala Dinas Sosial, Praminto Budi Utomo, S.Sos., M.AP., dan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Sutrisno S.IP., M.M.

Sebagai representasi dari Yayasan Para Mitra Indonesia, Tim I-SEE Kabupaten Magetan  berkomunikasi dengan pihak Dinas Sosial untuk memperkenalkan Program I-SEE dan perencanaan kegiatan secara detail.

Di samping itu, Dinas Sosial Kabupaten Magetan juga menginformasikan pada Tim I-SEE bahwa saat ini mereka memiliki inisiatif dan program utama, seperti:

(1) Layanan Home Care untuk disabilitas yang bertujuan untuk memberikan perawatan pribadi di rumah bagi individu dengan disabilitas,

(2) Fasilitas Rumah Terapi, yaitu mendirikan rumah terapi khusus yang dilengkapi fasilitas pemenuhan kebutuhan rehabilitasi dalam berbagai bentuk,

(3) Satgas Pintar, merupakan unit garis depan yang bertanggung jawab menanggapi dan merujuk kasus anak terlantar dan individu dengan disabilitas yang terabaikan,

(4) Pendamping disabilitas per-kecamatan, yaitu menyediakan personel pendukung disabilitas di setiap kecamatan untuk memastikan perawatan dan bantuan yang komprehensif.

Dalam tahapanya, Dinas Sosial Kabupaten Magetan telah membentuk tiga Desa Inklusi, meskipun keterlibatan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) masih dalam proses.

Ke depannya, pada bulan Juni 2024, Kementerian Sosial bekerja sama dengan Dinas Sosial berencana mengadakan bakti sosial operasi katarak. Inisiatif ini bermitra dengan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), bertujuan untuk memberikan layanan perawatan mata yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Program operasi katarak ini juga akan melibatkan Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), Yayasan Wira Daksa Utama (Widama), dan Yayasan Abhinaya Gantari Mahika (Yagama) di wilaya kerja Kabupaten Magetan.

Kunjungan ini menandai langkah signifikan dalam meningkatkan dukungan dan layanan yang diberikan kepada individu dengan disabilitas di Kabupaten Magetan. Pengenalan program-program ini dan acara operasi katarak yang direncanakan mencerminkan komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas hidup semua penduduk.

Komatda Kabupaten Probolinggo Tetap Eksis dan Berjaya dalam Upaya Penanganan Gangguan Penglihatan (PGP)

Komite Mata Daerah (Komatda) Kabupaten Probolinggo yang diketuai oleh dr. Mirrah Samiyah tahun 2024 ini sudah mendapatkan penganggaran dari pemerintah daerah setempat sebesar Rp 125.000.000 terkait Penanganan Gangguan Penglihatan (PGP). Hal ini menandakan sudah ada peningkatan dari budget sebelumnya yang hanya diterima sebesar Rp 50.000.000.

Hari ini, 16 Mei 2024 dilakukan pertemuan Komatda dengan bagian keuangan Pemerintah Kabupaten Probolinggo yang mendiskusikan beberapa hal penting, yakni (1) pelaporan per setengah semester, (2) pengajuan perencanaan program tahun 2025 dari pihak Komatda yang sudah masuk dengan total jumlah Rp 131.800.000, (3) dilakukan pertemuan rapat dengan bagian keuangan selama 3-4 kali terkait pengadaan barang dan jasa, dan (4) melalui hal ini Komatda dapat mengajukan perencanaan selain bakti sosial.

Program I-SEE Kabupaten Ngawi Membuka Pintu Kesehatan Mata di Puskesmas Tambakboyo

Ngawi, 08 Mei 2024 — Melanjutkan kunjungan rutin ke puskesmas, Tim I-SEE Kabupaten Ngawi kali ini mendatangi Puskesmas Tambakboyo pada Selasa, 7 Mei 2024. Kunjungan tersebut mendapat sambutan hangat dari dr. Dina Ari Fepta Linda selaku Kepala Puskesmas yang baru. Dimana sebelumnya, beliau telah mengabdi di Puskesmas Sine sebagai dokter umum, dan kini memegang kendali di Puskesmas Tambakboyo dengan semangat yang baru.

Menurut penuturan dari dr. Dina, Puskesmas Tambakboyo melayani tiga desa yang berada di sekitarnya, yaitu Desa Pakah, Desa Tambakboyo, dan Desa Kedungharjo, dengan total dukungan 30 Posyandu. Di samping itu, terdapat juga enam Sekolah Dasar (SD) dan dua Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi bagian dari wilayah kerja Puskesmas Tambakboyo.

Mendukung berjalannya program  Inclusive System for Eye Care (I-SEE), Tim I-SEE Kabupaten Ngawi akan berkolaborasi langsung dengan tiga programmer dari Puskesmas Tambakboyo, yaitu Bapak Purwanto, Ibu Erna (Programer Lansia), dan Ibu Santi (Programer UKS), yang siap berkontribusi untuk meningkatkan akses dan layanan kesehatan mata.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh Puskesmas Tambakboyo adalah lokasinya yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri dalam mencapai skrining dan kunjungan pelayanan kesehatan mata yang optimal. Namun, dr. Dina tetap optimis bahwa dengan bantuan dan pendampingan dari Program I-SEE, mereka dapat mengatasi hambatan tersebut dan meningkatkan akses serta layanan kesehatan mata bagi masyarakat di wilayahnya.

Kunjungan Program I-SEE ke Puskesmas Tambakboyo adalah langkah awal yang menjanjikan dalam upaya meningkatkan kesehatan mata masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat antara pihak Puskesmas dan Program I-SEE, diharapkan akan tercipta perubahan yang signifikan dalam pemahaman dan akses terhadap layanan kesehatan mata di wilayah tersebut.

Kunjungan Tim I-SEE Kabupaten Madiun ke Puskesmas Wungu dan Puskesmas Jetis

Madiun, 8 Mei 2024─ Tim I-SEE telah melanjutkan perjalanan mereka dalam aksesibilitas pelayanan mata di berbagai puskesmas di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Kunjungan terbaru mereka membawa berita baik tentang kemajuan program dan kebutuhan mendesak dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan mata di pusat-pusat kesehatan masyarakat.

Pertemuan di Puskesmas Kare menjadi awal yang menjanjikan dalam rangkaian kunjungan Tim I-SEE. Bapak Sujono, Kepala Puskesmas Kare, menyambut hangat tim. Namun, hal ini tidak menghalangi diskusi tentang program, penggalian data, dan tingkat kunjungan pasien ke Puskesmas Kare. Untuk pemegang indera yang tidak bisa hadir, pertemuan akan dilanjutkan melalui telepon, memastikan bahwa setiap pihak terlibat dalam pembahasan program.

Selanjutnya, kunjungan ke Puskesmas Wungu memberikan pandangan yang lebih mendalam tentang tantangan dan potensi di bidang kesehatan mata. Dalam pertemuan dengan dr. Dwi Yekti Widiastuti sebagai Kepala Puskesmas (Kapus), ibu Endang sebagai Kepala Tata Usaha (KTU), dan ibu Sri Lestari sebagai Pemegang Indera (PI), agenda kegiatan yang serupa dengan puskesmas lain dibahas. Namun, permintaan rencana kegiatan khusus untuk program I-SEE menunjukkan komitmen yang kuat dari pihak Puskesmas Wungu dalam mendukung upaya pencegahan dan pengobatan gangguan penglihatan.

Terakhir, kunjungan ke Puskesmas Jetis, Kecamatan Dagangan, memberikan kesempatan untuk bertemu dengan drg. Wahyu, dokter Puskesmas, karena PI dan KTU sedang berkegiatan di desa. Meskipun demikian, pemaparan kegiatan I-SEE tetap disampaikan dengan baik kepada dokter Puskesmas, menunjukkan kolaborasi yang efektif antara Tim I-SEE dan staf Puskesmas.

Selama kunjungan, beberapa masukan berharga juga diberikan oleh beberapa Puskesmas untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan mata. Salah satunya adalah perlunya sertifikat pelatihan yang diakui oleh BPJS untuk memungkinkan Puskesmas melakukan peresepan kacamata kepada pasien yang mengalami gangguan penglihatan. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang untuk membentuk poli mata di Puskesmas, sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan mata yang lebih komprehensif.

Kunjungan ini tidak hanya membawa harapan, tetapi juga meneguhkan komitmen bersama untuk memperkuat layanan kesehatan mata di tingkat komunitas. Dengan kerja keras dan kerjasama yang erat antara Tim I-SEE dan Puskesmas, diharapkan akan tercipta perubahan yang positif dalam kesehatan mata masyarakat.